Jangan Menggantungkan Ketenteraman Batin pada Keadaan Luar
“Aja ngendelake tentreming batin marang kahanan ing jaba; awit sajatining tentrem iku tuwuh saka jroning dhiri.”
Kalimat ini merupakan prinsip pertama dalam Nawa Prasanti Batin dan menjadi dasar bagi keseluruhan ajaran mengenai ketenteraman batin.
Manusia sering mengira bahwa ketenteraman akan hadir apabila keadaan di luar dirinya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Ketika pekerjaan berjalan baik, hubungan dengan orang lain harmonis, kebutuhan terpenuhi, dan tidak ada persoalan besar, seseorang merasa tenteram. Sebaliknya, ketika keadaan berubah, ketenteraman ikut hilang.
Cara hidup seperti itu membuat keadaan luar menjadi penentu utama keadaan batin. Akibatnya, manusia selalu menunggu keadaan menjadi baik sebelum merasa damai.
Padahal kehidupan tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Ada keadaan yang dapat diusahakan, tetapi ada pula keadaan yang harus diterima. Ada sesuatu yang dapat diperbaiki, tetapi ada pula sesuatu yang tidak dapat diubah. Ada orang yang dapat diajak berbicara, tetapi ada pula kehendak orang lain yang berada di luar kekuasaan kita.
Karena itu prinsip ini tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan keadaan luar. Yang diajarkan adalah jangan menggantungkan seluruh ketenteraman batin kepada keadaan luar.
Keadaan luar selalu berubah.
Kehidupan bergerak dalam perubahan. Keberhasilan dapat berganti dengan kegagalan. Pertemuan dapat berakhir dengan perpisahan. Kekuatan dapat berubah menjadi kelemahan. Kekayaan dapat berkurang. Kedudukan dapat berubah. Orang yang hari ini dekat dapat menjadi jauh.
Jika ketenteraman sepenuhnya digantungkan pada keadaan tersebut, batin akan terus mengikuti perubahan. Ketika dipuji, merasa tinggi. Ketika dicela, merasa jatuh. Ketika memperoleh keuntungan, merasa bahagia. Ketika mengalami kerugian, merasa hancur. Ketika keinginannya terpenuhi, merasa tenteram. Ketika keinginannya terhalang, merasa gelisah.
Nawa Prasanti Batin mengajak manusia mencari dasar ketenteraman yang lebih kokoh.
"Tentreming batin tuwuh saka jroning dhiri"
Kata penting dalam prinsip ini adalah tuwuh. Ketenteraman tidak dikatakan sebagai sesuatu yang diberikan oleh keadaan, melainkan sesuatu yang tumbuh dari dalam diri.
Tumbuh berarti membutuhkan proses.
Manusia perlu membenahi cara berpikir, menata rasa, mengendalikan kehendak, dan memperbaiki tindakannya. Karena itu prinsip pertama memiliki hubungan erat dengan prinsip kedua:
“Ngupadi Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Luhuring Karsa.”
Ketenteraman yang tumbuh dari dalam bukan ketenteraman yang muncul karena manusia berhasil mengendalikan seluruh dunia di sekelilingnya. Ketenteraman muncul karena manusia semakin mampu menata dirinya ketika berhadapan dengan dunia.
Tidak menggantungkan bukan berarti pasrah.
Prinsip ini juga tidak boleh dipahami sebagai ajaran untuk menerima segala keadaan tanpa usaha. Jika seseorang mengalami ketidakadilan, ia tetap dapat memperjuangkan kebenaran.
Jika mengalami kesulitan, ia tetap perlu mencari jalan keluar.
Jika melakukan kesalahan, ia tetap perlu memperbaikinya.
Yang dijaga adalah keadaan batin selama menjalankan usaha tersebut.
Manusia dapat berusaha keras tanpa membiarkan kegelisahan menguasai seluruh dirinya. Ia dapat memperjuangkan sesuatu tanpa membenci orang yang menjadi lawannya. Ia dapat menerima kegagalan tanpa merasa bahwa seluruh hidupnya telah berakhir.
Inilah perbedaan antara berusaha mengubah keadaan dan menggantungkan ketenteraman kepada hasil usaha.
Ketenteraman dan penerimaan.
Penerimaan merupakan bagian penting dari prinsip ini. Menerima bukan berarti menyukai semua keadaan. Menerima berarti mampu melihat bahwa sesuatu telah terjadi dan kemudian menghadapi kenyataan tersebut dengan jernih.
Manusia sering menderita bukan hanya karena keadaan yang terjadi, tetapi karena terus-menerus menolak kenyataan bahwa keadaan itu telah terjadi.
Penerimaan memberi ruang bagi cipta untuk kembali jernih. Setelah itu manusia dapat bertanya: apa yang masih dapat dilakukan?
Dengan demikian, ketenteraman tidak membuat manusia berhenti bergerak. Justru batin yang tenteram dapat membuat tindakan lebih tepat karena tidak terlalu dikuasai gejolak.
Ketenteraman sebagai kekuatan.
Ketenteraman sering dianggap sebagai keadaan pasif. Padahal ketenteraman dapat menjadi kekuatan.
Orang yang tenteram tidak mudah dipancing. Ia tidak segera bereaksi terhadap setiap perkataan. Ia mampu mengambil jarak sebelum menentukan tindakan. Ia dapat mendengarkan tanpa langsung membalas.
Dalam kehidupan sosial, kemampuan seperti ini sangat penting. Seseorang yang selalu bereaksi berdasarkan gejolak batin mudah menjadi korban keadaan. Orang lain dapat mengendalikan tindakannya hanya dengan memancing emosinya.
Sebaliknya, manusia yang memiliki dasar ketenteraman dari dalam tidak mudah kehilangan kendali atas dirinya.
Hubungan dengan prinsip-prinsip berikutnya.
Prinsip pertama merupakan pintu masuk bagi delapan prinsip berikutnya.
Setelah tidak menggantungkan ketenteraman pada keadaan luar, manusia diarahkan untuk ngupadi weninging cipta, tulusing rasa, luhuring karsa.
Kemudian kualitas tersebut harus kasunyatan ing laku.
Kasunyataning laku selanjutnya terlihat melalui asih mring sesami, prasaja ing tindak tanduk, selaras ing tatanan panguripan, nora ngendelake nalar kumingsun, ngrumangsani wewatesaning panguripan janma, dan ngendelake asihing Sang Sumber Panguripan.
Dengan demikian prinsip pertama bukan prinsip yang berdiri sendiri. Ia merupakan dasar bagi seluruh perjalanan menuju prasanti.
Penutup.
Ketenteraman sejati tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada dunia luar karena dunia luar selalu berubah. Manusia tetap perlu berusaha memperbaiki keadaan, tetapi ketenteraman tidak boleh menjadi korban dari setiap perubahan yang terjadi.
Ketenteraman yang lebih kokoh tumbuh ketika manusia mulai mampu menata cipta, rasa, dan karsa dari dalam dirinya.
Karena itu wewaler ini sangat mendasar:
“Aja ngendelake tentreming batin marang kahanan ing jaba; awit sajatining tentrem iku tuwuh saka jroning dhiri.”
FAQ tentreming batin tuwuh saka jroning dhiri.
Apakah prinsip ini berarti manusia tidak perlu memperbaiki keadaan luar?
Tidak. Manusia tetap perlu berusaha memperbaiki keadaan, tetapi tidak menggantungkan seluruh ketenteraman batinnya pada hasil usaha tersebut.
Apa maksud ketenteraman tumbuh dari dalam diri?
Ketenteraman tumbuh melalui pembenahan cipta, rasa, karsa, cara menghadapi keadaan, dan kualitas laku.
Apakah menerima keadaan berarti pasrah?
Tidak. Menerima berarti mengakui kenyataan agar manusia dapat menentukan tindakan dengan lebih jernih.
Mengapa ketenteraman tidak boleh bergantung pada pujian?
Karena pujian dan penilaian orang lain selalu berubah. Ketenteraman yang bergantung kepadanya akan mudah berubah pula.
Apa hubungan prinsip pertama dengan prinsip lainnya?
Prinsip pertama menjadi dasar untuk melakukan pambening cipta, tulusing rasa, luhuring karsa, dan seluruh laku Nawa Prasanti Batin.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang sopan demi perkembangan websiteblog ini