LAMPAH MANEMBAH UTTAMOPADESA

lampah manembah uttamopadesa
Lampahan Pertama Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa.

Lampah Manembah merupakan lampahan pertama dalam Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa. Lampahan ini menjadi dasar bagi perjalanan manusia dalam memahami dan menjalani kehidupan berdasarkan Kawruh Uttamopadesa.

Manembah bukan sekadar kegiatan yang dilakukan melalui ucapan, gerakan, tempat, atau tata cara tertentu. Dalam pengertian Uttamopadesa, manembah merupakan sikap batin dan laku kehidupan yang berangkat dari eling marang Sang Sumber Panguripan. Eling tersebut kemudian diwujudkan melalui cara manusia menggunakan cipta, mengolah rasa, menentukan karsa, berbicara, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Lampah Manembah tidak berdiri sebagai suatu tindakan yang terpisah dari kehidupan. Lampah Manembah justru menjadi dasar bagaimana manusia menjalani seluruh kehidupannya.

Lampah Manembah sebagai Awal Perjalanan.
Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa merupakan rangkaian lampah yang menggambarkan perjalanan manusia dalam menjalani kehidupan menuju pemahaman dan laku yang semakin selaras dengan tatananing panguripan.

Sebagai lampahan pertama, Lampah Manembah mempunyai kedudukan penting. Sebelum manusia melangkah lebih jauh dalam memahami dirinya, memahami Kawruh Sejati, maupun menjalani berbagai lampah kehidupan, diperlukan kesadaran mengenai asal dan sumber kehidupan.

Manusia hidup bukan karena dirinya sendiri. Kehidupan yang dialami manusia merupakan bagian dari panguripan yang lebih mendasar.

Karena itu, kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan menjadi titik awal dalam menjalani perjalanan tersebut.

Eling kepada Sang Sumber Panguripan bukan berarti membayangkan Sang Sumber sebagai suatu benda, tempat, atau bentuk tertentu.

Sang Sumber Panguripan tidak dibatasi oleh bentuk dan ruang sebagaimana benda-benda yang dapat ditangkap oleh pancaindra.

Eling berarti menyadari bahwa kehidupan memiliki sumber dan bahwa manusia berada di dalam panguripan yang bukan semata-mata hasil kehendak dirinya sendiri.

Makna Eling dalam Kawruh Uttamopadesa.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mudah terseret oleh berbagai keinginan, kepentingan, emosi, dan pemikiran. Cipta dapat dipengaruhi oleh prasangka, rasa dapat dipengaruhi oleh gejolak batin, sedangkan karsa dapat diarahkan oleh kepentingan sesaat.

Karena itu, eling mempunyai fungsi penting sebagai kewaspadaan dalam menjalani kehidupan.

Eling bukan sekadar mengingat sebuah nama atau konsep. Eling merupakan keadaan ketika manusia tetap waspada terhadap apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dikehendaki, diucapkan, dan dilakukan.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, kesadaran tersebut berkaitan erat dengan Cipta, Rasa, dan Karsa.

Cipta perlu diweningkan agar manusia mampu melihat sesuatu dengan jernih. Rasa perlu ditulusi agar tidak dikuasai oleh rereged pangraos. Karsa perlu diarahkan kepada sesuatu yang utama agar kehendak tidak hanya mengikuti kepentingan pribadi.

Karena itu, eling kepada Sang Sumber Panguripan bukan hanya persoalan hubungan manusia dengan Sang Sumber, tetapi juga menjadi dasar pembentukan laku manusia.

Sembah Sejati Bukan Sekadar Tata Cara.
Lampah Manembah tidak menempatkan sembah semata-mata sebagai tata cara lahiriah.

Ucapan dapat menunjukkan sembah, tetapi ucapan yang tidak sesuai dengan kenyataan kehidupan belum menunjukkan keseluruhan makna manembah. Demikian pula suatu tindakan dapat tampak baik dari luar, tetapi belum tentu berasal dari cipta dan rasa yang benar.

Sembah sejati tampak ketika seluruh kehidupan mulai diarahkan kepada kebaikan.
Manusia yang eling akan berusaha menjaga perkataannya. Ia tidak menggunakan kata-kata untuk menyakiti, menipu, atau merendahkan sesama. Ia juga belajar membedakan antara sesuatu yang benar-benar perlu diucapkan dan sesuatu yang sebaiknya ditahan.

Dalam tindakan, sembah diwujudkan melalui kejujuran, tanggung jawab, ketulusan, penghormatan, dan kesediaan berbuat baik tanpa selalu menuntut balasan.

Dengan demikian, ukuran utama Lampah Manembah bukan banyaknya ucapan tentang sembah, melainkan bagaimana sembah tersebut membentuk kehidupan.

Cipta, Rasa, dan Karsa dalam Lampah Manembah.
Lampah Manembah mempunyai hubungan yang erat dengan tiga daya utama manusia, yaitu Cipta, Rasa, dan Karsa.

Cipta merupakan daya untuk memahami, mempertimbangkan, dan membentuk pengertian. Dalam Lampah Manembah, cipta diarahkan kepada weninging cipta. Manusia belajar membersihkan pemikiran dari prasangka, kesombongan, kebencian, dan penilaian yang terburu-buru.

Rasa berkaitan dengan kemampuan manusia mengalami dan menghayati kehidupan. Karena itu, Lampah Manembah mendorong manusia menuju tulusing rasa. Rasa yang tulus tidak mudah dikuasai oleh kepentingan diri sendiri. Ia mampu melahirkan empati, kasih, ketulusan, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Karsa merupakan daya kehendak yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu. Karsa perlu diarahkan kepada utamaning karsa, sehingga kehendak tidak berhenti pada pemenuhan keinginan sesaat.

Ketiga daya tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. Cipta memberi arah pengertian, rasa memberi kedalaman penghayatan, sedangkan karsa mendorong perwujudan dalam tindakan.

Karena itu, Lampah Manembah menjadi nyata ketika weninging cipta, tulusing rasa, dan utamaning karsa mulai berjalan bersama.

Manembah sebagai Laku Kehidupan.
Kawruh Uttamopadesa tidak berhenti pada pengetahuan. Pengetahuan yang benar perlu diwujudkan dalam laku.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Lampah Manembah ditempatkan sebagai lampahan pertama. Manusia tidak cukup hanya memahami bahwa dirinya harus eling. Ia perlu membawa keelingan tersebut ke dalam kehidupan nyata.

Di dalam keluarga, Lampah Manembah dapat diwujudkan melalui penghormatan dan tanggung jawab.

Dalam hubungan dengan sesama, Lampah Manembah dapat diwujudkan melalui kejujuran, ketulusan, kasih, dan sikap tidak merendahkan orang lain.

Dalam pekerjaan, Lampah Manembah dapat diwujudkan melalui tanggung jawab dan kesungguhan.

Ketika memperoleh keberhasilan, manusia belajar tidak larut dalam kesombongan.

Ketika menghadapi kegagalan, manusia belajar tidak kehilangan kewaspadaan.

Ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan, manusia tidak lupa kepada sumber kehidupannya.

Ketika menghadapi kesulitan, manusia tetap berusaha menjalani kehidupan dengan benar.

Dengan demikian, manembah tidak hanya dilakukan pada waktu tertentu. Manembah menjadi sikap hidup.

Membersihkan Diri melalui Lampah Manembah.
Salah satu tujuan penting Lampah Manembah adalah membersihkan diri.

Yang dimaksud dengan membersihkan diri bukan semata-mata membersihkan tubuh secara lahiriah, melainkan membersihkan kecenderungan cipta, rasa, dan karsa yang dapat menghalangi manusia dalam melihat kehidupan secara jernih.

Manusia dapat mengetahui sesuatu yang benar tetapi belum tentu mampu melakukannya. Manusia dapat memahami kebaikan tetapi masih dapat dikuasai kepentingan pribadi. Karena itu, perjalanan Uttamopadesa membutuhkan latihan laku.
Lampah Manembah menjadi awal dari proses tersebut.

Manusia belajar mengamati dirinya sendiri: apa yang sedang dipikirkan, apa yang sedang dirasakan, apa yang sedang dikehendaki, dan ke mana kehendak tersebut akan membawanya.

Dari sinilah tumbuh mawas diri.

Mawas diri bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Mawas diri berarti mampu melihat keadaan diri dengan jernih sehingga manusia mengetahui apa yang perlu diperbaiki.

Manembah dan Budi Luhur.
Tujuan Lampah Manembah bukan menjadikan manusia merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, kesadaran kepada Sang Sumber Panguripan semestinya menumbuhkan kerendahan hati.

Manusia menyadari bahwa kehidupan bukan miliknya sendiri. Kesadaran tersebut dapat melahirkan sikap menghargai kehidupan dan menghormati sesama.

Dari sinilah budi luhur mendapatkan tempatnya.

Kejujuran menjadi bagian dari laku. Ketulusan menjadi bagian dari laku. Kasih menjadi bagian dari laku. Kerendahan hati menjadi bagian dari laku. Penghormatan kepada sesama menjadi bagian dari laku.

Budi luhur tidak hanya dibicarakan sebagai nilai, tetapi diwujudkan melalui kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Lampah Manembah dapat dipahami sebagai latihan untuk menyelaraskan kehidupan manusia dengan kebenaran yang dipahaminya.

Lampah Manembah sebagai Dasar Lampahan Berikutnya.
Sebagai lampahan pertama, Lampah Manembah bukan tujuan akhir. Ia merupakan dasar bagi lampahan-lampahan berikutnya dalam Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa.

Jika dasar eling belum tumbuh, pengetahuan dapat mudah berubah menjadi sekadar gagasan. Sebaliknya, ketika eling mulai menjadi bagian dari kehidupan, manusia mempunyai dasar untuk melanjutkan perjalanan dengan lebih waspada.

Karena itu, Lampah Manembah mengajarkan bahwa perjalanan Uttamopadesa dimulai bukan dari keinginan untuk memperoleh sesuatu yang luar biasa, melainkan dari kesediaan untuk kembali menata kehidupan sendiri.

Manusia belajar melihat ke dalam dirinya, membersihkan cipta, menulusi rasa, dan mengutamakan karsa.

Pada akhirnya, manembah bukan hanya tentang bagaimana manusia menyebut Sang Sumber Panguripan, tetapi bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa dirinya berada dalam panguripan yang bersumber dari-Nya.

Penutup.
Lampah Manembah merupakan lampahan pertama dalam Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa. Intinya adalah eling kepada Sang Sumber Panguripan dan menjadikan keelingan tersebut sebagai dasar dalam menjalani kehidupan.

Eling tidak berhenti pada pikiran. Eling diwujudkan melalui weninging cipta, tulusing rasa, dan utamaning karsa. Dari sana lahir kejujuran, ketulusan, kasih, kerendahan hati, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.

Dengan demikian, sembah sejati bukan sekadar bentuk lahiriah. Sembah sejati terlihat dalam cara manusia berpikir, merasakan, menghendaki, berbicara, dan bertindak.

Lampah Manembah mengawali perjalanan Uttamopadesa dengan satu dasar penting: kehidupan perlu dijalani kanthi eling marang Sang Sumber Panguripan.

Dari keelingan itulah manusia mulai belajar mengenali dirinya, membersihkan kehidupannya, dan menjalani laku dengan budi luhur.

FAQ tentang Lampah Manembah Uttamopadesa.

1. Apa yang dimaksud Lampah Manembah?
Lampah Manembah adalah lampahan pertama dalam Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa yang mengajarkan manusia untuk eling kepada Sang Sumber Panguripan dan mewujudkan keelingan tersebut dalam kehidupan.

2. Apakah Lampah Manembah hanya berkaitan dengan sembahyang?
Tidak. Lampah Manembah memiliki makna yang lebih luas. Manembah diwujudkan melalui sikap hidup, termasuk kejujuran, ketulusan, kasih, kerendahan hati, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama.

3. Apa hubungan Lampah Manembah dengan Kawruh Uttamopadesa?
Lampah Manembah merupakan bentuk penerapan Kawruh Uttamopadesa dalam kehidupan. Kawruh tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi diwujudkan melalui laku.

4. Apa hubungan Lampah Manembah dengan Cipta, Rasa, dan Karsa?
Lampah Manembah mengarahkan manusia untuk mewujudkan weninging cipta, tulusing rasa, dan utamaning karsa sehingga pikiran, penghayatan, dan kehendak dapat berjalan secara selaras.

5. Mengapa Lampah Manembah menjadi lampahan pertama?
Karena perjalanan kehidupan dimulai dari kesadaran mengenai sumber kehidupan. Eling kepada Sang Sumber Panguripan menjadi dasar sebelum manusia melanjutkan berbagai lampahan berikutnya.

6. Apa tujuan utama Lampah Manembah?
Tujuan utamanya adalah menumbuhkan keelingan, membersihkan diri, membentuk budi luhur, dan mengarahkan kehidupan agar semakin selaras dengan kebenaran dan keutamaan.

Komentar