Lampahan Kedua Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa.
Lampah Mawas Dhiri merupakan lampahan kedua dalam Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa. Setelah manusia belajar menjalani Lampah Manembah, yaitu eling kepada Sang Sumber Panguripan, perjalanan selanjutnya diarahkan kepada kemampuan untuk melihat dan memahami keadaan dirinya sendiri.
Mawas dhiri berarti berani memperhatikan diri dengan jujur. Manusia tidak hanya melihat keadaan di luar dirinya, tetapi juga memeriksa apa yang berlangsung dalam cipta, rasa, dan karsa. Apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, apa yang dikehendaki, apa yang diucapkan, dan apa yang dilakukan perlu disadari serta ditinjau kembali.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, mawas dhiri bukan kegiatan untuk mencari-cari kesalahan diri. Mawas dhiri merupakan laku untuk mengenali keadaan diri secara jernih sehingga manusia dapat membedakan antara sesuatu yang perlu dipertahankan, sesuatu yang perlu diperbaiki, dan sesuatu yang perlu ditinggalkan.
Mawas Dhiri sebagai Kelanjutan Lampah Manembah.
Lampah Mawas Dhiri mempunyai hubungan erat dengan Lampah Manembah sebagai lampahan sebelumnya.
Ketika manusia belajar eling kepada Sang Sumber Panguripan, keelingan tersebut tidak berhenti pada pengakuan atau ucapan. Keelingan perlu membawa perubahan dalam cara manusia menjalani kehidupan.
Di sinilah mawas dhiri mempunyai peranan. Manusia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kehidupannya sudah sesuai dengan apa yang diyakininya? Apakah perkataan dan tindakannya sudah mencerminkan kejujuran? Apakah karsanya didorong oleh keutamaan atau hanya oleh kepentingan pribadi?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menimbulkan rasa bersalah, melainkan untuk membangun kesadaran.
Dengan mawas dhiri, manusia tidak hanya melihat dunia dan menilai orang lain. Ia juga berani melihat dirinya sendiri.
Hakikat Mawas Dhiri.
Mawas dhiri pada dasarnya adalah kemampuan untuk melihat keadaan diri dengan jujur dan sadar.
Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada kekurangannya sendiri. Ketika orang lain melakukan kesalahan, kesalahan tersebut mudah dikenali. Namun ketika dirinya sendiri melakukan kesalahan, berbagai alasan dapat muncul untuk membenarkan tindakan tersebut.
Mawas dhiri mengajarkan kebalikannya.
Manusia perlu memiliki keberanian untuk mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa sesuatu memang belum benar apabila kenyataannya demikian. Ia tidak perlu menutupi kekurangan dengan alasan, pembenaran, atau menyalahkan keadaan.
Namun mawas dhiri juga bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri. Jika manusia hanya mencari kesalahan tanpa memahami sebab dan jalan perbaikannya, mawas dhiri dapat berubah menjadi beban batin. Karena itu, mawas dhiri harus dilakukan dengan kejernihan dan ketulusan.
Yang dicari bukan kesalahan semata, melainkan pangerten mengenai keadaan diri.
Mawas Dhiri terhadap Cipta.
Dalam Kawruh Uttamopadesa, Cipta merupakan salah satu daya penting dalam kehidupan manusia. Karena itu, mawas dhiri perlu dilakukan terhadap cara manusia berpikir dan membentuk pengertian.
Manusia perlu memeriksa pikirannya sendiri.
Apakah pemikiran tersebut berdasarkan kenyataan atau hanya dugaan? Apakah penilaian terhadap seseorang berasal dari pengetahuan yang cukup atau dari prasangka? Apakah suatu keputusan dibuat setelah mempertimbangkan keadaan dengan jernih atau karena terbawa emosi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu manusia mengenali keadaan cipta.
Mawas dhiri terhadap cipta kemudian mengarah kepada weninging cipta. Cipta yang wening bukan berarti tidak pernah mempunyai pendapat atau pertimbangan.
Sebaliknya, manusia tetap berpikir dan mengambil keputusan, tetapi berusaha membebaskan pikirannya dari prasangka, kesombongan, kebencian, dan kepentingan yang dapat mengaburkan keadaan.
Dengan demikian, mawas dhiri merupakan salah satu jalan untuk menjaga agar cipta tidak mudah terseret oleh pemikiran yang tidak diperiksa.
Mawas Dhiri terhadap Rasa.
Selain cipta, manusia perlu memperhatikan Rasa. Rasa dapat mengalami berbagai keadaan. Ada rasa senang, sedih, marah, takut, kecewa, iri, bangga, kasih, dan berbagai penghayatan lainnya. Semua itu merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Namun tidak setiap rasa harus langsung dijadikan dasar tindakan.
Ketika seseorang merasa marah, misalnya, mawas dhiri mengajarkan agar ia terlebih dahulu menyadari kemarahannya. Ia dapat bertanya: mengapa aku marah? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah rasa ini sesuai dengan keadaan yang sebenarnya? Apakah rasa tersebut sedang mendorongku melakukan sesuatu yang akan merugikan orang lain?
Dengan demikian, mawas dhiri bukan menolak rasa, tetapi mengenali rasa.
Dari pengenalan tersebut manusia belajar menuju tulusing rasa. Rasa yang tulus tidak berarti manusia tidak boleh merasakan kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan.
Ketulusan rasa justru menuntut manusia untuk berani melihat keadaan rasa sebagaimana adanya tanpa memalsukannya.
Mawas Dhiri terhadap Karsa.
Mawas dhiri juga perlu diarahkan kepada Karsa, yaitu daya kehendak yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu.
Sebelum bertindak, manusia dapat memeriksa apa yang sebenarnya menjadi dorongan tindakannya.
Apakah tindakan tersebut dilakukan karena tanggung jawab? Apakah karena ingin membantu? Apakah karena kebutuhan yang benar-benar perlu dipenuhi? Ataukah karena ingin dipuji, menang sendiri, memperoleh keuntungan, atau membalas perlakuan orang lain?
Pertanyaan semacam itu membantu manusia mengenali arah karsanya.
Karsa yang tidak diperiksa dapat dengan mudah mengikuti keinginan sesaat. Karena itu, mawas dhiri menjadi sarana untuk mengarahkan karsa menuju utamaning karsa.
Utamaning karsa berarti kehendak yang diarahkan kepada sesuatu yang utama, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat.
Memeriksa Niat, Perkataan, dan Tindakan.
Mawas dhiri tidak berhenti pada apa yang terlihat sebagai tindakan. Niat juga perlu diperiksa.
Dua orang dapat melakukan tindakan yang sama, tetapi memiliki dorongan yang berbeda. Seseorang dapat memberikan sesuatu karena ketulusan, sementara orang lain dapat melakukan hal yang sama karena ingin memperoleh pujian.
Karena itu, mawas dhiri mengajak manusia melihat lebih dalam daripada sekadar bentuk lahiriah.
Perkataan juga perlu diperiksa. Apakah perkataan tersebut benar? Apakah perlu diucapkan? Apakah dapat menyakiti atau merugikan orang lain? Apakah perkataan tersebut digunakan untuk menjelaskan kenyataan atau untuk membenarkan diri sendiri?
Demikian pula tindakan perlu ditinjau kembali.
Mawas dhiri menjadikan pengalaman kehidupan sebagai bahan pembelajaran. Setelah melakukan sesuatu, manusia dapat melihat kembali apa yang telah terjadi dan memahami akibat dari pilihannya.
Pengalaman sebagai Guru Kehidupan.
Setiap pengalaman dapat menjadi bahan pembelajaran apabila manusia bersedia melihatnya dengan jernih.
Keberhasilan dapat diperiksa: apakah keberhasilan tersebut membuat manusia semakin bertanggung jawab atau justru semakin sombong?
Kegagalan juga dapat diperiksa: apa yang dapat dipelajari dari kegagalan tersebut?
Kesalahan dapat menjadi bahan perbaikan apabila manusia tidak berusaha menutupinya.
Bahkan pengalaman yang tidak menyenangkan dapat memberikan pangerten baru apabila manusia bersedia melihat sebab dan akibatnya.
Dengan demikian, mawas dhiri menjadikan kehidupan sebagai ruang pembelajaran yang terus berlangsung.
Manusia tidak dituntut menjadi sempurna dalam satu waktu. Yang lebih penting adalah kesediaan untuk terus mengenali dan membenahi diri.
Mawas Dhiri dan Keberanian Mengakui Kekurangan.
Salah satu bagian penting dalam Lampah Mawas Dhiri adalah keberanian mengakui kekurangan.
Mengakui kekurangan bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa manusia mampu melihat dirinya secara jujur.
Ketika seseorang menyadari bahwa perkataannya telah menyakiti orang lain, ia dapat mengakui kesalahannya dan memperbaiki cara berbicara.
Ketika menyadari bahwa suatu keputusan dibuat karena pamrih, ia dapat memeriksa kembali dorongan tersebut.
Ketika mengetahui bahwa dirinya mudah terbawa emosi, ia dapat belajar untuk tidak langsung bertindak ketika rasa sedang kuat.
Proses tersebut merupakan bagian dari laku.
Mawas dhiri menjadi berarti ketika pengenalan terhadap kekurangan dilanjutkan dengan usaha untuk membenahinya.
Mawas Dhiri Bukan Menghakimi Diri.
Penting untuk membedakan antara mawas dhiri dan menghakimi diri. Menghakimi diri cenderung berhenti pada penilaian bahwa dirinya buruk atau tidak berharga. Mawas dhiri tidak demikian.
Mawas dhiri melihat kesalahan sebagai sesuatu yang dapat dipahami dan diperbaiki.
Jika manusia melakukan kesalahan, yang perlu dicari adalah apa yang menyebabkan kesalahan tersebut, apa akibatnya, dan bagaimana agar kesalahan yang sama tidak terus berulang.
Dengan cara ini, mawas dhiri menjadi laku yang membangun.
Manusia tidak melarikan diri dari kekurangan, tetapi juga tidak terjebak dalam penyesalan.
Ia melihat, memahami, membenahi, kemudian melanjutkan kehidupan dengan kesadaran yang lebih baik.
Mawas Dhiri dan Kebijaksanaan.
Kebijaksanaan tidak hanya lahir dari banyaknya pengetahuan. Kebijaksanaan juga tumbuh dari kemampuan melihat pengalaman dan diri sendiri secara jernih.
Mawas dhiri membantu manusia memahami bahwa dirinya dapat keliru.
Kesadaran tersebut membuat manusia lebih berhati-hati dalam menilai orang lain. Ia tidak mudah menganggap dirinya selalu benar. Ia bersedia mendengarkan, mempertimbangkan, dan memeriksa kembali pemahamannya.
Dari sinilah tumbuh keteguhan yang tidak sama dengan kekerasan hati.
Orang yang mawas dhiri dapat memiliki pendirian, tetapi tetap bersedia memeriksa apakah pendiriannya memang sesuai dengan kenyataan.
Karena itu, mawas dhiri dapat membantu manusia menjadi lebih bijaksana dalam memahami keadaan dan mengambil keputusan.
Mawas Dhiri dalam Kehidupan Sehari-hari.
Lampah Mawas Dhiri dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa memerlukan keadaan khusus.
Sebelum berbicara, manusia dapat memeriksa maksud perkataannya.
Sebelum mengambil keputusan, manusia dapat mempertimbangkan akibatnya.
Ketika muncul rasa marah, manusia dapat mengenalinya terlebih dahulu sebelum bertindak.
Ketika memperoleh pujian, manusia dapat melihat apakah dirinya mulai terbawa kesombongan.
Ketika menerima kritik, manusia dapat memeriksa apakah terdapat sesuatu yang memang perlu diperbaiki.
Ketika melakukan kesalahan, manusia dapat mengakuinya dan memperbaikinya.
Laku-laku sederhana tersebut menjadikan mawas dhiri bukan sekadar gagasan, tetapi bagian dari kehidupan.
Kedudukan Lampah Mawas Dhiri dalam Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa.
Sebagai lampahan kedua, Lampah Mawas Dhiri meneruskan dasar yang telah dibangun melalui Lampah Manembah.
Jika Lampah Manembah menumbuhkan eling marang Sang Sumber Panguripan, maka Lampah Mawas Dhiri mengarahkan keelingan tersebut kepada pengenalan terhadap keadaan diri.
Manusia tidak hanya mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang lebih mendasar dalam kehidupan, tetapi juga berani melihat bagaimana dirinya sendiri menjalani kehidupan.
Di sinilah Kawruh Uttamopadesa tidak berhenti sebagai pengetahuan. Kawruh perlu menjadi pangerten, dan pangerten perlu diwujudkan dalam laku. Mawas dhiri menjadi salah satu bentuk nyata dari proses tersebut.
Penutup.
Lampah Mawas Dhiri merupakan lampahan kedua dalam Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa. Lampahan ini mengajarkan manusia untuk berani melihat dirinya sendiri dengan jujur, memperhatikan keadaan cipta, rasa, dan karsa, serta membenahi apa yang masih belum selaras.
Mawas dhiri bukan mencari kesalahan untuk menyalahkan diri. Mawas dhiri adalah kesediaan untuk mengenali keadaan, mengakui kekurangan, memahami sebabnya, dan melakukan perbaikan.
Melalui mawas dhiri, manusia belajar menuju weninging cipta, tulusing rasa, dan utamaning karsa. Setiap pengalaman menjadi bahan pembelajaran, setiap kesalahan menjadi kesempatan untuk membenahi diri, dan setiap keputusan menjadi kesempatan untuk bertindak dengan lebih sadar.
Dengan demikian, perjalanan Uttamopadesa setelah Lampah Manembah berlanjut pada keberanian untuk melihat ke dalam diri. Sebab, manusia tidak akan mudah membenahi kehidupannya apabila belum bersedia mengenali keadaan dirinya sendiri.
FAQ tentang Lampah Mawas Dhiri Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud Lampah Mawas Dhiri?
Lampah Mawas Dhiri adalah lampahan kedua dalam Nawa Samudayaning Lampah Uttamopadesa yang mengajarkan manusia untuk mengenali, memeriksa, dan membenahi keadaan dirinya.
2. Apa hubungan Lampah Mawas Dhiri dengan Lampah Manembah?
Lampah Manembah menumbuhkan eling kepada Sang Sumber Panguripan, sedangkan Lampah Mawas Dhiri membawa keelingan tersebut ke dalam pemeriksaan terhadap cipta, rasa, karsa, niat, perkataan, dan tindakan.
3. Apakah mawas dhiri berarti selalu mencari kesalahan diri?
Tidak. Mawas dhiri bukan kegiatan untuk menyalahkan diri, melainkan melihat keadaan diri secara jujur agar kekurangan dapat dipahami dan diperbaiki.
4. Mengapa Cipta, Rasa, dan Karsa perlu diperiksa?
Karena ketiganya berperan dalam kehidupan manusia. Cara berpikir, penghayatan, dan kehendak dapat memengaruhi perkataan serta tindakan sehingga perlu disadari dan diarahkan.
5. Apa manfaat Lampah Mawas Dhiri?
Mawas dhiri membantu manusia lebih mengenali dirinya, belajar dari pengalaman, lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, dan membangun kehidupan yang lebih selaras dengan keutamaan.
6. Apakah mawas dhiri hanya dilakukan ketika melakukan kesalahan?
Tidak. Mawas dhiri merupakan laku yang dilakukan terus-menerus, baik ketika menghadapi keberhasilan, kegagalan, konflik, keputusan, maupun pengalaman kehidupan sehari-hari.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang sopan demi perkembangan websiteblog ini