Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Luhuring Karsa Harus Menjadi Laku
“Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Luhuring Karsa kedah kasunyatan ing Laku.”
Prinsip ketiga Nawa Prasanti Batin menjadi titik penting yang membedakan antara mengetahui suatu nilai dan benar-benar menjadikannya bagian dari kehidupan.
Seseorang dapat memahami pentingnya kejernihan cipta, ketulusan rasa, dan keluhuran karsa, tetapi pemahaman tersebut belum cukup apabila tidak terlihat dalam tindakan.
Di sinilah kata kasunyatan memiliki kedudukan penting. Sesuatu yang diyakini harus memperoleh kenyataan melalui laku.
Pengetahuan belum tentu menjadi pola hidup.
Manusia memiliki kemampuan yang sangat besar untuk memahami sesuatu secara intelektual. Ia dapat membaca buku, mendengarkan ajaran, mengikuti diskusi, dan menghafal berbagai prinsip kehidupan.
Namun pengetahuan tidak otomatis mengubah perilaku.
Seseorang dapat mengetahui bahwa kemarahan merugikan, tetapi masih mudah marah. Ia dapat mengetahui pentingnya kejujuran, tetapi masih menyembunyikan sesuatu ketika kejujuran merugikan kepentingannya.
Hal ini menunjukkan adanya jarak antara
kawruh dan laku.
Nawa Prasanti Batin menuntut agar jarak tersebut semakin kecil.
Kasunyatan ing laku.
Kasunyatan ing laku berarti nilai yang diyakini benar-benar terlihat dalam tindakan. Weninging cipta dapat terlihat ketika seseorang tidak tergesa-gesa menilai.
Tulusing rasa dapat terlihat ketika seseorang mampu berbuat baik tanpa pamrih berlebihan.
Luhuring karsa dapat terlihat ketika seseorang memilih tindakan yang baik meskipun pilihan tersebut tidak selalu memberikan keuntungan bagi dirinya.
Dengan demikian, laku menjadi tempat pembuktian.
Bukan kata-kata yang menjadi ukuran utama, melainkan tindakan ketika manusia menghadapi keadaan nyata.
Ketika prinsip diuji.
Nilai kehidupan paling mudah diucapkan ketika tidak ada sesuatu yang menguji.
Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya sabar ketika tidak menghadapi persoalan. Namun kesabaran menjadi nyata ketika ia berada dalam keadaan yang membuatnya marah.
Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya tulus ketika tidak memiliki kepentingan. Ketulusan menjadi nyata ketika ia melakukan sesuatu tanpa memperoleh balasan.
Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya sederhana ketika tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan kelebihan.
Prasaja menjadi nyata ketika ia memiliki sesuatu yang dapat dipamerkan tetapi memilih tidak menjadikannya alat untuk meninggikan diri.
Karena itu kehidupan sehari-hari merupakan tempat pengujian kawruh.
Laku membentuk kebiasaan.
Satu tindakan mungkin belum menunjukkan perubahan yang mendalam. Namun tindakan yang dilakukan berulang-ulang dapat menjadi kebiasaan.
Kebiasaan kemudian membentuk watak.
Karena itu kasunyatan ing laku tidak harus selalu berupa tindakan besar. Justru tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan diri.
Berbicara dengan tidak menyakiti, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menahan diri sebelum membalas, mengakui kesalahan, meminta maaf ketika keliru, membantu tanpa pamer, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan hak merupakan contoh laku yang dapat menghidupkan prinsip.
Laku sebagai cermin.
Laku juga berfungsi sebagai cermin.
Ketika seseorang ingin mengetahui apakah cipta, rasa, dan karsanya telah berkembang, ia dapat melihat tindakannya sendiri.
Bagaimana ia bersikap ketika mendapat kritik?
Bagaimana ia menghadapi orang yang berbeda pendapat?
Bagaimana ia bertindak ketika tidak ada yang melihat?
Bagaimana ia menggunakan kelebihan yang dimilikinya?
Pertanyaan tersebut lebih jujur daripada sekadar bertanya seberapa banyak pengetahuan yang telah diperoleh.
Hubungan dengan Nawa Prasanti Batin.
Prinsip ketiga menjadi penghubung antara prinsip kedua dan prinsip keempat sampai kesembilan.
Prinsip kedua memberikan arah pembenahan: weninging cipta, tulusing rasa, luhuring karsa.
Prinsip ketiga menuntut agar pembenahan itu menjadi laku.
Setelah itu, prinsip berikutnya menunjukkan berbagai tanda kasunyataning laku.
Dengan demikian terdapat struktur yang sangat jelas:
Ngupadi → Kasunyatan ing Laku → Katon lumantar Laku.
Nawa Prasanti Batin tidak berhenti pada keadaan batin yang dirasakan seseorang. Ia membawa keadaan batin tersebut menuju tindakan nyata.
Ketenteraman yang dapat dilihat.
Ketenteraman yang benar-benar tumbuh dalam diri pada akhirnya akan memiliki jejak dalam perilaku.
Orang yang lebih tenteram tidak selalu berarti diam. Ia dapat berbicara tegas, tetapi tidak harus kasar.
Ia dapat berbeda pendapat, tetapi tidak harus membenci.
Ia dapat membela sesuatu yang dianggap benar, tetapi tidak harus merendahkan pihak lain.
Ia dapat mengalami kesedihan, tetapi tidak menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.
Dengan demikian, prasanti bukan sekadar keadaan yang tersembunyi. Ia memiliki buah yang dapat dirasakan dalam kehidupan.
Penutup
Prinsip ketiga mengingatkan bahwa weninging cipta, tulusing rasa, dan luhuring karsa tidak boleh berhenti sebagai gagasan.
Ketiganya harus kasunyatan ing laku.
Inilah jalan agar kawruh benar-benar hidup.
Pengetahuan dipahami, menjadi bagian dari diri, dijalankan, lalu dibuktikan melalui kehidupan.
FAQ Luhuring Karsa jadi Laku.
Apa arti kasunyatan ing laku?
Artinya nilai yang dipahami benar-benar menjadi kenyataan melalui tindakan dan kebiasaan hidup.
Mengapa pengetahuan saja tidak cukup?
Karena seseorang dapat mengetahui sesuatu sebagai kebaikan tetapi belum tentu menjalankannya.
Bagaimana cara mengetahui bahwa suatu kawruh telah menjadi laku?
Dengan melihat apakah pemahaman tersebut benar-benar memengaruhi sikap, pilihan, kebiasaan, dan tindakan.
Apakah laku harus berupa tindakan besar?
Tidak. Tindakan sederhana yang dilakukan terus-menerus juga merupakan bagian penting dari laku.
Apa hubungan prinsip ketiga dengan prinsip kedua?
Prinsip kedua mengajarkan pembenahan cipta, rasa, dan karsa, sedangkan prinsip ketiga menuntut agar pembenahan tersebut menjadi kenyataan dalam laku.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang sopan demi perkembangan websiteblog ini