Manah Sebagai Daya Pamikir dalam Nawa Mandhala Dhiri
Manusia menjalani kehidupan bukan hanya dengan raga dan daya panguripan. Dalam setiap pengalaman kehidupan, manusia juga menerima berbagai hal untuk dikenali, diperhatikan, dipertimbangkan, dan dipahami.
Apa yang dilihat, didengar, dialami, maupun dipelajari tidak serta-merta menjadi pemahaman yang matang. Semua itu membutuhkan proses pengolahan di dalam diri.
Dalam kerangka Nawa Mandhala Dhiri, proses tersebut berkaitan dengan Manah — Daya Pamikir.
Manah merupakan daya pemikir yang menjadi tempat berlangsungnya pamawas, pertimbangan, dan pengolahan pangertosan.
Melalui manah, berbagai hal yang dialami manusia tidak hanya diterima begitu saja, tetapi dapat diperhatikan, ditimbang, dipilah, dan dipahami sebelum berkembang menjadi pemikiran ataupun keputusan.
Karena itu, manah memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia. Kualitas pemikiran dan keputusan tidak hanya bergantung pada banyaknya informasi yang diterima, tetapi juga pada bagaimana informasi tersebut diolah dan dipertimbangkan.
Manah yang tertata memungkinkan proses pamawas berlangsung lebih jernih. Sebaliknya, manah yang dipenuhi pamrih, prasangka, dorongan yang tidak tertata, atau kekacauan pemikiran dapat memengaruhi kejernihan pertimbangan.
Manah sebagai Daya Pamikir.
Manah dalam kerangka Nawa Mandhala Dhiri tidak sekadar dipahami sebagai pikiran yang telah terbentuk. Manah lebih tepat ditempatkan sebagai daya pemikir, yaitu daya yang memungkinkan proses berpikir, menimbang, dan memahami dapat berlangsung.
Ada perbedaan antara daya pemikir dengan hasil pemikiran.
Pemikiran merupakan sesuatu yang telah terbentuk dari proses tertentu. Sementara itu, manah merupakan daya yang memungkinkan proses tersebut berlangsung.
Karena itu, manah tidak hanya berkaitan dengan apa yang dipikirkan, tetapi juga dengan bagaimana sesuatu diterima, diperhatikan, dipertimbangkan, dan diolah sebelum menjadi suatu pemahaman atau keputusan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia menerima begitu banyak hal. Tidak semua yang diterima perlu langsung dipercaya. Tidak semua yang dipikirkan harus langsung diwujudkan. Tidak semua yang dirasakan harus segera menjadi keputusan. Diperlukan proses pamawas.
Di sinilah manah memiliki peranan penting.
Manah menjadi ruang berlangsungnya proses pertimbangan sehingga manusia dapat melihat suatu persoalan dari berbagai sisi sebelum menentukan sikap.
Dengan demikian, daya pemikir tidak hanya menghasilkan banyak pemikiran, tetapi juga membantu manusia memilah pemikiran mana yang perlu diterima, diperiksa, dikembangkan, atau ditinggalkan.
Manah dan Pamawas.
Pamawas merupakan salah satu fungsi penting yang berkaitan dengan manah.
Pamawas dapat dipahami sebagai kemampuan untuk melihat dan menimbang suatu persoalan dengan perhatian yang sadar.
Pamawas tidak sekadar melihat sesuatu secara lahiriah, tetapi berusaha memahami apa yang sedang dihadapi sebelum menghasilkan kesimpulan.
Ketika seseorang menerima suatu informasi, misalnya, manah tidak seharusnya langsung menjadikannya sebagai kebenaran. Informasi tersebut perlu diperhatikan, dibandingkan, dipertimbangkan, dan dipahami.
Demikian pula ketika seseorang menghadapi suatu persoalan. Reaksi pertama belum tentu merupakan pertimbangan yang paling tepat. Dorongan sesaat dapat mempengaruhi cara seseorang melihat keadaan.
Karena itu, pamawas membutuhkan kejernihan manah.
Manah yang wening memberikan ruang bagi manusia untuk melihat persoalan tanpa terlalu cepat dikuasai oleh kepentingan pribadi, prasangka, ketakutan, kemarahan, atau keinginan tertentu.
Semakin tertatanya manah, semakin terbuka kemungkinan bagi pamawas untuk berlangsung secara jernih.
Keadaan Manah Mempengaruhi Pamawas.
Kualitas pamawas sangat berkaitan dengan keadaan manah.
Manah yang dipenuhi pamrih cenderung membawa seseorang melihat sesuatu berdasarkan kepentingan yang ingin dicapai. Ketika kepentingan pribadi terlalu dominan, pertimbangan dapat kehilangan kejernihannya karena apa yang ingin dibenarkan terlebih dahulu mempengaruhi cara melihat persoalan.
Begitu pula dengan kekacauan dalam manah.
Ketika berbagai pemikiran bercampur tanpa ditata, seseorang dapat mengalami kesulitan membedakan antara fakta, dugaan, prasangka, keinginan, dan kesimpulan. Akibatnya, keputusan dapat dibuat sebelum persoalannya benar-benar dipahami.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir bukan hanya persoalan memiliki banyak pengetahuan.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal tetapi tetap menghasilkan pertimbangan yang kurang jernih apabila manahnya tidak tertata. Sebaliknya, seseorang yang mau berhenti, mengamati, menimbang, dan memeriksa kembali apa yang dipikirkannya memiliki kesempatan untuk menghasilkan pamawas yang lebih baik.
Karena itu, weninging manah menjadi bagian penting dalam pengembangan daya pemikir.
Manah yang Wening.
Wening tidak berarti manah menjadi kosong dari pemikiran. Wening justru menunjukkan keadaan ketika proses berpikir dapat berlangsung tanpa terlalu banyak gangguan dari dorongan yang tidak tertata.
Manah yang wening masih dapat berpikir secara kritis. Masih dapat mempertanyakan sesuatu. Masih dapat berbeda pendapat. Bahkan, masih dapat menolak suatu gagasan apabila setelah ditimbang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.
Wening bukan berarti menerima segala sesuatu dengan begitu saja.
Wening berarti mampu melihat dan mempertimbangkan sesuatu dengan lebih jernih.
Dalam keadaan manah yang wening, seseorang memiliki ruang untuk bertanya sebelum menyimpulkan, memeriksa sebelum percaya, dan mempertimbangkan sebelum bertindak.
Sikap seperti ini menjadi penting dalam kehidupan, karena manusia terus menerima berbagai informasi, pengalaman, pendapat, dan pengaruh dari lingkungan.
Tanpa manah yang tertata, semua itu dapat bercampur menjadi pemikiran yang tidak jelas.
Manah, Pangertosan, dan Pemikiran.
Manah juga berkaitan dengan pengolahan pangertosan.
Pangertosan tidak muncul hanya karena manusia menerima informasi. Informasi perlu dipahami dalam hubungan dengan konteks, pengalaman, pengetahuan, dan pertimbangan lainnya.
Misalnya, seseorang mendengar suatu pernyataan. Ia dapat langsung menerima pernyataan tersebut, menolaknya, atau menundanya sampai memperoleh pemahaman yang lebih lengkap.
Proses di antara menerima dan menyimpulkan itulah yang menunjukkan pentingnya manah sebagai daya pemikir.
Manah membantu manusia mengolah apa yang diterimanya sehingga tidak semua hal langsung menjadi keyakinan atau keputusan.
Dengan demikian, proses berpikir yang baik bukan sekadar menghasilkan jawaban dengan cepat. Kadang-kadang, kemampuan untuk menunda kesimpulan justru menunjukkan adanya pamawas.
Manusia memberi kesempatan kepada manah untuk memeriksa, memilah, dan menimbang sebelum menghasilkan pemikiran yang lebih matang.
Manah Berbeda dari Rasa.
Rasa berkaitan dengan pengalaman rasa dalam diri manusia, sedangkan manah ditempatkan sebagai daya pemikir. Keduanya dapat saling berhubungan dalam kehidupan, tetapi tidak berarti keduanya merupakan hal yang sama.
Seseorang dapat merasakan ketakutan, misalnya, kemudian manah mempertimbangkan apakah keadaan yang dihadapi memang berbahaya atau tidak.
Seseorang dapat merasa tidak senang terhadap suatu keadaan, tetapi manah masih dapat mempertimbangkan apakah ketidaksenangan tersebut memiliki dasar yang tepat.
Dengan demikian, manah memiliki fungsi untuk mengolah dan mempertimbangkan berbagai hal yang hadir dalam kehidupan, termasuk ketika manusia sedang mengalami rasa tertentu.
Pembedaan ini penting agar manusia tidak menganggap setiap rasa sebagai keputusan dan tidak pula menganggap setiap pemikiran sebagai rasa.
Manah dan rasa dapat berhubungan, tetapi keduanya memiliki kedudukan yang berbeda.
Manah dan Keputusan.
Setiap hari manusia membuat keputusan, mulai dari perkara sederhana hingga perkara yang memiliki konsekuensi besar. Keputusan yang baik membutuhkan pertimbangan.
Sebelum menentukan tindakan, manusia perlu melihat keadaan, memahami persoalan, memperhitungkan akibat, serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan.
Semua itu membutuhkan daya pemikir. Karena itu, manah memiliki hubungan erat dengan keputusan.
Namun, manah tidak selalu menghasilkan keputusan yang benar hanya karena manusia berpikir. Proses berpikir juga dapat dipengaruhi oleh pamrih, prasangka, informasi yang tidak lengkap, atau keadaan manah yang tidak tertata.
Maka, yang perlu dikembangkan bukan hanya kemampuan berpikir, tetapi juga kemampuan menata proses berpikir.
Manusia perlu belajar mengenali pemikirannya sendiri. Mana yang merupakan kenyataan, mana yang merupakan dugaan, mana yang berasal dari keinginan, dan mana yang merupakan kesimpulan yang masih perlu diperiksa.
Kemampuan tersebut merupakan bagian dari mawas dhiri.
Mawas Dhiri untuk Membina dan Membentuk Manah.
Manah perlu terus dibina dan dibentuk. Membina dan membentuk manah bukan berarti berusaha menghentikan seluruh pemikiran.
Sebaliknya, manusia belajar mengenali bagaimana pikirannya bekerja dan bagaimana berbagai pemikiran memengaruhi sikap serta tindakannya.
Di sinilah mawas dhiri memiliki kedudukan penting.
Mawas dhiri membuat manusia bersedia melihat dirinya sendiri secara jujur. Ketika muncul pemikiran tertentu, manusia dapat bertanya: mengapa saya berpikir demikian? Apakah pertimbangan ini berdasarkan kenyataan? Apakah ada pamrih yang memengaruhinya? Apakah saya sudah melihat persoalan dari sisi yang lain?
Pertanyaan semacam itu membantu manah menjadi lebih tertata.
Mawas dhiri juga membuat manusia tidak mudah menganggap dirinya selalu benar. Ia memberikan ruang untuk memeriksa kembali pemikiran sendiri.
Dengan demikian, mawas dhiri bukan hanya pengamatan terhadap perilaku, tetapi juga pengamatan terhadap proses pemikiran yang mendahului perilaku tersebut.
Pangudi Kawruh dan Pengembangan Manah.
Selain mawas dhiri, manah juga perlu dikembangkan melalui pangudi kawruh.
Pangudi kawruh merupakan usaha untuk terus memperoleh dan memperdalam pemahaman. Manusia tidak dapat memahami kehidupan hanya berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Kehidupan terus memberikan pengalaman baru yang perlu dipelajari.
Namun, pangudi kawruh juga bukan sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin informasi.
Kawruh perlu diolah.
Manusia perlu membedakan antara informasi dan pemahaman, antara pendapat dan kenyataan, serta antara kesimpulan sementara dan pemahaman yang telah melalui pertimbangan.
Karena itu, pangudi kawruh dan weninging manah saling mendukung. Pengetahuan memperluas bahan yang dapat dipertimbangkan, sedangkan manah yang tertata membantu manusia mengolahnya secara lebih jernih.
Menata Pemikiran.
Manah yang berkembang bukan berarti memiliki semakin banyak pemikiran yang bersamaan. Justru salah satu kemampuan penting manah adalah menata berbagai pemikiran.
Pemikiran yang tidak ditata dapat menimbulkan kebingungan. Sebaliknya, pemikiran yang ditata dapat membantu manusia melihat hubungan antara satu persoalan dengan persoalan lainnya.
Menata pemikiran berarti memberikan tempat yang tepat kepada setiap hal. Apa yang diketahui ditempatkan sebagai pengetahuan. Apa yang belum diketahui diakui sebagai sesuatu yang belum diketahui. Dugaan tidak diperlakukan sebagai kepastian. Keinginan tidak disamakan dengan kenyataan.
Sikap semacam ini membantu menjaga kejernihan pamawas.
Dengan demikian, manah tidak hanya berfungsi untuk menghasilkan pemikiran, tetapi juga untuk mengatur bagaimana pemikiran tersebut diperlakukan.
Manah dalam Nawa Mandhala Dhiri.
Dalam Nawa Mandhala Dhiri, Manah memiliki kedudukan sebagai Daya Pamikir.
Kedudukannya berbeda dari Jiwatman dan Prana. Jiwatman ditempatkan sebagai Jatining Panguripan, sedangkan Prana sebagai Daya Panguripan. Manah berada pada ranah daya pemikir yang memungkinkan manusia melakukan pamawas, pertimbangan, dan pengolahan pangertosan.
Ketiganya tidak perlu dicampuradukkan.
Jiwatman berkaitan dengan dasar kehidupan. Prana berkaitan dengan daya yang memungkinkan kehidupan berlangsung melalui raga. Manah berkaitan dengan daya pemikir yang memungkinkan manusia mengolah berbagai hal yang dialaminya.
Kerangka tersebut membantu manusia melihat bahwa kehidupan tidak hanya berlangsung secara lahiriah. Ada proses pengenalan dan pemikiran yang turut menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupannya.
Karena itu, mengembangkan manah berarti mengembangkan salah satu kemampuan penting dalam kehidupan manusia.
Manah sebagai Dasar Pamawas yang Jernih.
Pada akhirnya, kualitas kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana manusia melihat, memahami, dan mempertimbangkan kehidupan tersebut.
Manah menjadi bagian penting dalam proses itu.
Manah yang dipenuhi pamrih dapat membuat manusia melihat persoalan sesuai dengan apa yang ingin dilihatnya. Manah yang kacau dapat membuat berbagai pemikiran bercampur tanpa arah. Sebaliknya, manah yang wening memberikan ruang bagi pamawas untuk berlangsung dengan lebih jernih.
Karena itu, manah perlu terus dibina dan dibentuk melalui mawas dhiri, pangudi kawruh, dan kemampuan menata pemikiran.
Pengembangan manah bukan sekadar usaha menjadi lebih pandai berpikir. Yang lebih penting adalah menjadi lebih mampu melihat, menimbang, dan memahami sebelum mengambil keputusan.
Dalam kerangka Nawa Mandhala Dhiri, Manah — Daya Pamikir dengan demikian menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana manusia mengolah pengalaman kehidupan menjadi pangertosan, pemikiran, dan keputusan.
Manah yang wening tidak menjanjikan bahwa manusia tidak akan pernah keliru. Namun, manah yang wening memberikan ruang bagi manusia untuk menyadari kekeliruannya, memeriksa kembali pemikirannya, dan memperbaiki pertimbangannya.
Dari sinilah daya pemikir tidak berhenti sebagai aktivitas berpikir, tetapi berkembang menjadi kemampuan untuk mawas, memahami, menimbang, dan menata kehidupan.
FAQ tentang Manah, Daya Pamikir.
1. Apa yang dimaksud dengan Manah dalam Nawa Mandhala Dhiri?
Manah adalah Daya Pamikir, yaitu daya yang menjadi tempat berlangsungnya pamawas, pertimbangan, dan pengolahan pangertosan sebelum berkembang menjadi pemikiran atau keputusan.
2. Apakah Manah sama dengan pikiran?
Tidak sepenuhnya. Manah dipahami sebagai daya pemikir, sedangkan pikiran merupakan salah satu hasil atau proses yang berlangsung melalui daya tersebut.
3. Apa hubungan Manah dengan pamawas?
Manah menjadi tempat berlangsungnya pamawas. Keadaan manah sangat memengaruhi kejernihan manusia dalam melihat, menimbang, dan memahami suatu persoalan.
4. Apakah Manah sama dengan rasa?
Tidak. Manah merupakan daya pemikir, sedangkan rasa memiliki kedudukan yang berbeda. Keduanya dapat saling berhubungan, tetapi tidak perlu disamakan.
5. Bagaimana cara menggulawenthah Manah?
Manah dapat digulawenthah melalui mawas dhiri, pangudi kawruh, dan kemampuan menata berbagai pemikiran agar tidak mudah dikuasai pamrih, prasangka, atau kekacauan.
6. Apa yang dimaksud dengan Manah yang wening?
Manah yang wening adalah keadaan daya pemikir yang lebih tertata sehingga manusia memiliki ruang untuk melihat, menimbang, dan memahami persoalan dengan lebih jernih.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang sopan demi perkembangan websiteblog ini