JIWATMAN, JATINING PANGURIPAN

jiwatman, jatining panguripan
Jiwatman — Jatining Panguripan sebagai aspek pertama dalam Nawa Mandhala Dhiri.

Dalam memahami kehidupan manusia, perhatian sering kali lebih mudah diarahkan kepada sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, atau dipikirkan. Raga dapat diamati melalui perubahan fisik, pikiran dapat dikenali melalui berbagai gagasan yang muncul, sedangkan perasaan dapat dikenali melalui pengalaman batin yang silih berganti.

Namun, kehidupan manusia tidak berhenti hanya pada apa yang dapat diamati melalui perubahan-perubahan tersebut.

Di dalam kerangka Nawa Mandhala Dhiri, terdapat pemahaman mengenai unsur panguripan yang menjadi dasar bagi keberadaan manusia, yaitu Jiwatman.

Jiwatman ditempatkan sebagai Jatining Panguripan, yaitu hakikat kehidupan yang menjadi dasar keberadaan manusia sebagai makhluk yang hidup, menyadari keberadaannya, dan mampu memahami arah kehidupannya.

Pemahaman mengenai Jiwatman menjadi penting karena manusia bukan sekadar raga yang mengalami perubahan, bukan pula sekadar kumpulan pikiran dan perasaan.

Ada dasar kehidupan yang memungkinkan seluruh proses kehidupan manusia berlangsung. Dari sinilah Jiwatman ditempatkan dalam kedudukan yang berbeda dari raga, pikiran, maupun perasaan.

Jiwatman sebagai Jatining Panguripan.
Istilah Jatining Panguripan menunjuk kepada hakikat kehidupan. Dalam konteks Nawa Mandhala Dhiri, Jiwatman dipahami sebagai unsur panguripan sejati dalam diri manusia yang menjadi dasar kehidupan.

Raga mengalami perubahan sejak manusia lahir hingga mencapai usia lanjut. Pikiran juga berubah mengikuti pengetahuan, pengalaman, lingkungan, dan keadaan.

Perasaan dapat berubah dari senang menjadi sedih, dari tenang menjadi gelisah, atau dari yakin menjadi ragu. Semua itu merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia.

Jiwatman tidak ditempatkan sebagai salah satu perubahan tersebut.

Jiwatman bukan tubuh yang berubah.

Jiwatman bukan pikiran yang muncul dan lenyap.

Jiwatman juga bukan perasaan yang datang dan pergi.

Karena itu, memahami Jiwatman tidak dilakukan dengan menyamakannya dengan pengalaman yang selalu berubah dalam kehidupan sehari-hari.

Kedudukannya justru ditempatkan sebagai Jatining Panguripan, yaitu dasar kehidupan yang membuat manusia dapat mengalami seluruh proses kehidupannya.

Dengan demikian, ketika seseorang mengatakan, "saya berpikir", pikiran bukanlah keseluruhan dari dirinya. Ketika seseorang mengatakan, "saya merasakan sesuatu", perasaan juga bukan keseluruhan dari dirinya. Bahkan ketika seseorang melihat perubahan tubuhnya dari masa kanak-kanak hingga dewasa, perubahan raga tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan hakikat kehidupan manusia.

Di sinilah pemahaman mengenai Jiwatman memperoleh tempatnya.

Jiwatman dan aspek eling.
Salah satu hal penting yang dikaitkan dengan Jiwatman adalah eling. Eling bukan sekadar mengingat sesuatu yang pernah diketahui.

Dalam konteks ini, eling berkaitan dengan kemampuan manusia untuk menyadari keberadaannya dan tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Manusia dapat mengetahui banyak hal, tetapi pengetahuan belum tentu membuat seseorang benar-benar eling. Seseorang dapat memiliki banyak pengalaman, tetapi pengalaman juga belum tentu membuatnya memahami kehidupan. Karena itu, eling memiliki kedudukan yang lebih mendasar daripada sekadar mengingat informasi.

Jiwatman memberikan pepadhang sehingga manusia dapat menyadari keberadaannya dan memahami arah kehidupannya.

Pepadhang dalam pengertian ini tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang bersifat fisik atau gaib. Ia menunjuk kepada penerangan dalam memahami keberadaan dan kehidupan.

Ketika manusia eling, ia tidak semata-mata mengikuti setiap dorongan pikiran atau perasaan yang muncul. Ia mulai mampu melihat bahwa pikiran dapat berubah, perasaan dapat berubah, keadaan tubuh dapat berubah, dan keadaan kehidupan juga dapat berubah.

Kesadaran terhadap perubahan tersebut membuka ruang bagi manusia untuk tidak begitu saja diperbudak oleh perubahan yang dialaminya.

Karena itu, eling menjadi salah satu aspek penting dalam pengenalan terhadap kehidupan. Manusia yang eling memiliki kesempatan untuk melihat kehidupan dengan lebih jernih, memahami apa yang sedang berlangsung dalam dirinya, kemudian menentukan bagaimana cipta, rasa, dan karsanya diarahkan dalam kehidupan.

Jiwatman bukan pikiran.
Pikiran merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Melalui pikiran, manusia dapat mempertimbangkan sesuatu, mengolah pengetahuan, membentuk pengertian, dan mengambil keputusan.

Namun, pikiran bukan Jiwatman.

Pikiran dapat berubah dari waktu ke waktu. Pengetahuan seseorang dapat bertambah atau berkurang. Pandangan dapat berubah setelah memperoleh pemahaman baru. Bahkan pikiran mengenai diri sendiri dapat berubah sesuai dengan pengalaman yang dijalani.

Jika Jiwatman disamakan dengan pikiran, maka hakikat kehidupan manusia akan direduksi menjadi aktivitas berpikir. Padahal manusia tetap mengalami kehidupan bahkan ketika isi pikirannya berubah.

Karena itu, dalam Nawa Mandhala Dhiri, pikiran perlu ditempatkan pada kedudukannya sendiri. Pikiran merupakan bagian dari proses kehidupan manusia, sedangkan Jiwatman ditempatkan sebagai Jatining Panguripan.

Pembedaan ini penting agar manusia tidak keliru menganggap setiap sesuatu yang muncul dalam dirinya sebagai hakikat dirinya.

Jiwatman bukan perasaan.
Hal yang sama berlaku terhadap perasaan. Perasaan dapat menjadi kuat atau lemah. Seseorang dapat merasa bahagia pada suatu waktu dan sedih pada waktu yang lain. Rasa takut dapat muncul ketika menghadapi keadaan tertentu, kemudian menghilang ketika keadaan berubah.

Perubahan tersebut merupakan bagian dari dinamika kehidupan.

Jiwatman tidak dapat disamakan dengan perubahan perasaan tersebut. Jika perasaan selalu berubah, maka menyamakan Jiwatman dengan perasaan akan menjadikan hakikat kehidupan sebagai sesuatu yang terus berubah mengikuti keadaan emosional.

Pemahaman mengenai Jiwatman justru membantu manusia melihat perbedaan antara yang mengalami perubahan dan dasar kehidupan yang memungkinkan pengalaman tersebut berlangsung.

Dengan demikian, seseorang tidak perlu menolak perasaan. Perasaan tetap dapat dikenali, dipahami, dan diarahkan. Namun, manusia tidak perlu menganggap setiap perasaan yang muncul sebagai keseluruhan hakikat dirinya.

Jiwatman dan raga.
Raga merupakan wahana manusia dalam menjalani kehidupan. Melalui raga, manusia bergerak, bekerja, berhubungan dengan lingkungan, dan melakukan berbagai tindakan.

Raga memiliki batas dan mengalami perubahan. Tubuh bertumbuh, mengalami perkembangan, mengalami kelelahan, kemudian pada akhirnya mengalami perubahan yang tidak dapat dihindari.

Namun, Jiwatman tidak ditempatkan sebagai raga.

Pembedaan ini tidak berarti raga menjadi tidak penting. Justru karena raga merupakan bagian dari kehidupan manusia, raga perlu dirawat dan digunakan dengan baik. Akan tetapi, memahami manusia hanya berdasarkan raga tidak cukup untuk menjelaskan seluruh keberadaannya.

Dalam kerangka Nawa Mandhala Dhiri, manusia perlu dipahami melalui keterhubungan berbagai unsur dirinya, sementara Jiwatman tetap ditempatkan sebagai Jatining Panguripan.

Jiwatman dan pepadhang kehidupan.
Kehidupan manusia selalu berhadapan dengan pilihan. Ada saat ketika seseorang harus menentukan arah, mempertimbangkan tindakan, menghadapi akibat, dan belajar dari pengalaman.

Dalam keadaan seperti itu, manusia membutuhkan pepadhang.

Pepadhang bukan berarti manusia selalu memperoleh jawaban secara langsung.

Pepadhang lebih berkaitan dengan kemampuan untuk melihat kehidupan secara lebih jernih sehingga seseorang tidak semata-mata bergerak berdasarkan dorongan sesaat.

Di sinilah hubungan antara Jiwatman dan eling menjadi penting.

Jiwatman memberikan pepadhang, sedangkan eling menjadi aspek yang memungkinkan manusia menyadari keberadaannya.

Dari kesadaran tersebut, manusia dapat mulai mengenali hubungan antara cipta, rasa, dan karsa dalam dirinya.

Cipta perlu diarahkan agar tidak menghasilkan pemahaman yang menyesatkan.

Rasa perlu dikenali agar tidak dikuasai oleh gejolak yang berubah-ubah.

Karsa perlu diarahkan agar tindakan manusia tidak bertentangan dengan nilai kehidupan yang dipahami.

Dengan demikian, pengenalan terhadap Jiwatman bukan sekadar pembahasan tentang sesuatu yang berada di dalam diri. Ia memiliki hubungan dengan cara manusia menjalani kehidupan.

Jiwatman dalam Nawa Mandhala Dhiri.
Nawa Mandhala Dhiri merupakan kerangka untuk memahami berbagai unsur yang berkaitan dengan keberadaan manusia. Di dalam kerangka tersebut, Jiwatman memiliki kedudukan yang khas sebagai Jatining Panguripan.

Pemahaman ini mengajak manusia untuk tidak melihat dirinya hanya dari satu sisi.
Manusia bukan hanya raga. Manusia bukan hanya pikiran. Manusia bukan hanya perasaan. Kehidupan manusia memiliki dasar yang lebih dalam, dan dalam kerangka ini dasar tersebut dipahami melalui Jiwatman sebagai Jatining Panguripan.

Karena itu, mengenali Jiwatman bukan berarti mencari sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, pengenalan tersebut dapat dimulai dari kehidupan yang sedang dijalani, yaitu menyadari keberadaan, mengenali perubahan dalam diri, memahami cipta, rasa, dan karsa, serta menjaga eling agar kehidupan tidak berjalan tanpa arah.

Pada akhirnya, nilai pemahaman mengenai Jiwatman dapat dilihat dari laku.

Pengetahuan mengenai hakikat kehidupan tidak cukup apabila hanya berhenti sebagai gagasan. Ia perlu membawa manusia kepada cara hidup yang lebih sadar, lebih jernih, dan lebih bertanggung jawab.

Jiwatman sebagai Jatining Panguripan dengan demikian menjadi salah satu landasan untuk memahami bahwa kehidupan manusia memiliki kedalaman yang tidak dapat direduksi hanya kepada apa yang tampak secara lahiriah.

Manusia dapat mengalami perubahan raga, perubahan pikiran, dan perubahan perasaan, tetapi perubahan tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan hakikat kehidupan.

Melalui Jiwatman, manusia diarahkan untuk mengenali bahwa di balik dinamika kehidupan terdapat dasar panguripan yang perlu dipahami. Dari pengenalan tersebut tumbuh eling, dan dari eling terbuka jalan menuju pemahaman kehidupan yang lebih jernih.

Dalam kerangka Nawa Mandhala Dhiri, pengenalan terhadap Jiwatman akhirnya bukan sekadar usaha untuk mengetahui siapa diri manusia, melainkan usaha untuk memahami bagaimana kehidupan dikenali, disadari, dan dijalani.

FAQ tentang Jiwatman, Jatining Panguripan.

1. Apa yang dimaksud dengan Jiwatman?
Jiwatman adalah unsur panguripan sejati dalam diri manusia yang dalam Nawa Mandhala Dhiri ditempatkan sebagai Jatining Panguripan, yaitu dasar kehidupan manusia.

2. Apakah Jiwatman sama dengan jiwa?
Jiwatman dalam kerangka ini memiliki kedudukan sebagai Jatining Panguripan. Karena itu, pemahamannya perlu dibedakan dari pengertian jiwa yang sering digunakan dalam berbagai pemikiran atau tradisi lain.

3. Apakah Jiwatman sama dengan pikiran dan perasaan?
Tidak. Pikiran dan perasaan mengalami perubahan. Jiwatman tidak ditempatkan sebagai pikiran atau perasaan, melainkan sebagai dasar panguripan manusia.

4. Apa hubungan Jiwatman dengan eling?
Jiwatman memberikan pepadhang sehingga manusia dapat menyadari keberadaannya. Dari sini eling menjadi aspek penting dalam mengenali keberadaan dan memahami arah kehidupan.

5. Apa hubungan Jiwatman dengan Nawa Mandhala Dhiri?
Dalam Nawa Mandhala Dhiri, Jiwatman merupakan salah satu mandhala penting untuk memahami keberadaan manusia, khususnya sebagai Jatining Panguripan yang menjadi dasar kehidupan.

6. Apakah mengenali Jiwatman berarti mencari sesuatu yang gaib?
Tidak harus demikian. Pembahasan Jiwatman dalam kerangka ini diarahkan pada pengenalan terhadap dasar kehidupan manusia, eling, dan cara menjalani kehidupan, bukan pada pencarian fenomena gaib.

Komentar