MENGASIHI SESAMA

asih mring sesami
Kasunyataning Laku Terlihat Melalui Asih kepada Sesama

Prinsip keempat Nawa Prasanti Batin membawa pembahasan ketenteraman dari dalam diri menuju hubungan manusia dengan sesamanya. Setelah cipta, rasa, dan karsa dibenahi serta diwujudkan dalam laku, muncul pertanyaan penting: bagaimana kenyataan laku tersebut dapat dikenali?

Salah satu jawabannya adalah melalui asih mring sesami. Asih kepada sesama bukan sekadar perasaan yang berada di dalam hati.

Asih merupakan kualitas yang dapat diwujudkan dalam cara manusia berbicara, bersikap, membantu, menghormati, dan memperlakukan orang lain.

Asih sebagai bukti laku.
Kasunyataning laku berarti kenyataan dari suatu laku. Jika seseorang benar-benar memiliki ketulusan rasa dan keluhuran karsa, kualitas tersebut pada akhirnya akan memiliki pengaruh terhadap hubungan dengan orang lain.

Manusia yang semakin tertata batinnya tidak berarti menjadi manusia yang selalu menyenangkan semua orang. Ia tetap dapat tegas dan memiliki pendirian.

Namun ketegasan tidak harus berubah menjadi kekasaran.

Perbedaan tidak harus berubah menjadi kebencian.

Penolakan tidak harus berubah menjadi penghinaan.

Inilah salah satu bentuk asih yang matang.

Asih bukan kelemahan.
Asih terkadang disalahpahami sebagai sikap terlalu lembut sehingga mudah dimanfaatkan. Padahal asih tidak berarti kehilangan wewates.

Manusia tetap dapat mengatakan tidak ketika diperlukan. Ia tetap dapat menjaga dirinya dari tindakan yang merugikan. Ia bahkan dapat mengambil sikap tegas ketika melihat sesuatu yang tidak selaras dengan kehidupan.

Yang membedakan adalah dasar batinnya.

Tindakan yang sama-sama tegas dapat lahir dari asih atau dari kebencian.

Menegur seseorang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau untuk mempermalukan.

Menolak suatu tindakan dapat dilakukan untuk menjaga kebaikan atau untuk membalas dendam.

Karena itu asih bukan hanya mengenai apa yang dilakukan, tetapi juga mengenai landasan batin dari tindakan tersebut.

Asih dan tulusing rasa.
Prinsip keempat memiliki hubungan langsung dengan prinsip kedua mengenai tulusing rasa. Rasa yang tulus tidak hanya terasa nyaman di dalam diri. Ia memiliki kecenderungan untuk diwujudkan dalam hubungan.

Ketika rasa semakin tulus, manusia tidak terlalu sibuk menghitung apa yang akan diperoleh dari setiap hubungan.

Ia dapat membantu tanpa selalu menunggu balasan.

Ia dapat memberikan kesempatan tanpa harus memperoleh pujian.

Ia dapat menghargai orang lain tanpa harus memiliki kepentingan tertentu.

Inilah bentuk tulusing rasa yang mulai menjadi kasunyatan.

Asih dalam kehidupan sehari-hari.
Asih tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar. Ia dapat dimulai dari cara berbicara.

Seseorang dapat memilih kata yang tidak perlu menyakiti. Ia dapat mendengarkan sebelum menjawab. Ia dapat menahan diri untuk tidak menyebarkan kelemahan orang lain. Ia dapat membantu ketika memiliki kemampuan. Ia dapat menghormati orang yang berbeda. Ia dapat mengakui keberhasilan orang lain tanpa merasa dirinya berkurang.

Semua tindakan tersebut sederhana, tetapi justru di situlah laku diuji.

Asih dan perbedaan.
Kehidupan manusia penuh dengan perbedaan. Perbedaan pandangan, kemampuan, pengalaman, pilihan, dan kepentingan merupakan bagian dari kehidupan.

Tanpa asih, perbedaan mudah menjadi sumber permusuhan.

Dengan asih, perbedaan dapat dipandang sebagai kenyataan yang perlu dihadapi dengan kedewasaan.

Asih tidak menuntut semua orang memiliki pandangan yang sama. Asih hanya menuntut agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk kehilangan penghormatan kepada sesama.

Asih dan prasaja.
Asih juga berkaitan dengan prinsip kelima, yaitu:

“Kasunyataning Laku katon lumantar Prasaja ing Tindak Tanduk.”

Orang yang prasaja tidak terlalu membutuhkan keunggulan dirinya untuk diakui oleh orang lain.

Ketika kebutuhan untuk dipuji berkurang, hubungan menjadi lebih ringan.

Ia dapat melihat orang lain tanpa terus-menerus membandingkan dirinya.

Prasaja membantu asih tumbuh karena manusia tidak terlalu sibuk mempertahankan citra dirinya.

Asih dan Sang Sumber Panguripan.
Prinsip keempat akhirnya memiliki hubungan dengan prinsip kesembilan:

“Kasunyataning Laku katon lumantar Ngendelake Asihing Sang Sumber Panguripan.”

Asih kepada sesama memperoleh kedalaman ketika manusia menyadari bahwa seluruh kehidupan memiliki sumber.

Dengan kesadaran tersebut, sesama tidak hanya dilihat berdasarkan manfaatnya bagi diri sendiri. Ia dilihat sebagai bagian dari panguripan.

Dari sinilah asih menjadi lebih luas.

Penutup.
Asih mring sesami merupakan salah satu tanda penting bahwa laku telah menjadi kenyataan.

Ketenteraman yang hanya membuat seseorang merasa nyaman bagi dirinya sendiri belum menunjukkan seluruh kedalaman Nawa Prasanti Batin.

Ketenteraman yang semakin matang seharusnya membuat seseorang lebih mampu menghadirkan asih dalam kehidupan.

Ia tidak harus sempurna. Ia hanya perlu terus mengupayakan agar kehadirannya tidak menjadi sumber penderitaan yang tidak perlu bagi sesama.

FAQ Asih mring Sesami.
Apa arti asih mring sesami?
Artinya kasih kepada sesama yang diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata.

Apakah asih berarti selalu mengalah?
Tidak. Asih dapat berjalan bersama ketegasan dan wewates.

Mengapa asih menjadi tanda kasunyataning laku?
Karena ketulusan rasa dan keluhuran karsa akan terlihat dalam cara seseorang memperlakukan sesama.

Bagaimana menerapkan asih dalam kehidupan sehari-hari?
Dengan menghormati, mendengarkan, membantu ketika mampu, tidak merendahkan, dan tidak sengaja menyakiti orang lain.

Apa hubungan asih dengan ketenteraman batin?
Asih mengurangi kebencian, iri, dan pamrih sehingga hubungan dengan sesama menjadi lebih selaras.

Komentar