PRASAJA ING TINDAK TANDUK

prasaja ing tindak tanduk
“Kasunyataning Laku katon lumantar Prasaja ing Tindak Tanduk.”

Prinsip kelima Nawa Prasanti Batin mengangkat satu sifat yang tampak sederhana tetapi memiliki kedalaman besar, yaitu prasaja. Dalam kehidupan manusia, banyak kegelisahan muncul karena kebutuhan untuk terlihat lebih baik, lebih tinggi, lebih berhasil, atau lebih penting daripada orang lain.

Prasaja menawarkan arah yang berbeda. Prasaja bukan berarti menolak kemampuan, keberhasilan, atau kemajuan. Prasaja berkaitan dengan cara manusia menempatkan semua itu dalam kehidupannya tanpa menjadikannya alat untuk meninggikan diri.

Prasaja bukan berarti kekurangan.
Prasaja sering disalahpahami sebagai keadaan hidup yang serba sederhana secara materi. Padahal makna yang lebih penting berada pada tindak tanduk.

Seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi tetap prasaja. Ia dapat memiliki kedudukan tinggi tetapi tetap tidak berlebihan dalam memperlakukan orang lain.

Ia dapat memiliki pengetahuan luas tetapi tidak merasa perlu merendahkan orang yang belum mengetahuinya.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sedikit secara materi tetapi tetap tidak prasaja jika seluruh tindakannya diarahkan untuk menunjukkan keunggulan dirinya.

Karena itu ukuran prasaja bukan terutama apa yang dimiliki, tetapi bagaimana seseorang bersikap terhadap apa yang dimilikinya.

Prasaja dan kebutuhan akan pengakuan.
Manusia memiliki kebutuhan untuk dihargai. Kebutuhan tersebut wajar, tetapi dapat berubah menjadi sumber kegelisahan apabila terlalu kuat.

Orang yang selalu membutuhkan pengakuan akan sulit tenteram. Ia merasa perlu menunjukkan keberhasilan agar dianggap penting. Ia merasa harus menjawab setiap kritik. Ia ingin orang lain mengetahui kelebihannya.

Prasaja membantu manusia keluar dari lingkaran tersebut.

Ia tidak harus menyembunyikan keberhasilan, tetapi juga tidak menjadikan keberhasilan sebagai pusat kehidupannya.

Ia dapat menerima pujian tanpa bergantung kepadanya.

Ia dapat menerima kritik tanpa merasa seluruh harga dirinya runtuh.

Prasaja dan kerendahan hati.
Prasaja memiliki hubungan erat dengan tidak ngendelake nalar kumingsun. Seseorang yang tidak prasaja sering merasa perlu menunjukkan bahwa dirinya lebih tahu.

Ia sulit mengatakan, “Saya tidak tahu.”

Padahal pengakuan terhadap keterbatasan merupakan salah satu bentuk kedewasaan.

Prasaja membuat manusia lebih mudah belajar karena ia tidak harus selalu mempertahankan citra sebagai orang yang paling tahu.

Prasaja dalam ucapan.
Tindak tanduk tidak hanya berkaitan dengan tindakan fisik. Cara berbicara juga menjadi bagian penting.

Orang yang prasaja tidak perlu membesar-besarkan dirinya. Ia tidak harus menceritakan semua keberhasilan untuk mendapatkan pengakuan. Ia tidak perlu merendahkan orang lain agar dirinya terlihat lebih tinggi. Ia dapat berbicara sesuai kebutuhan dan tidak menggunakan kata-kata sebagai alat untuk menunjukkan keunggulan.

Prasaja dan media sosial.
Dalam kehidupan modern, prinsip prasaja semakin relevan. Media sosial memberikan ruang yang sangat besar bagi manusia untuk menampilkan dirinya.

Kehidupan dapat dengan mudah berubah menjadi panggung tempat keberhasilan, kepemilikan, perjalanan, dan pendapat dipertontonkan.

Tidak ada yang salah dengan berbagi pengalaman. Persoalannya muncul ketika harga diri mulai bergantung pada perhatian dan pengakuan.

Prasaja tidak berarti harus meninggalkan media sosial. Prasaja berarti tidak menjadikan penampilan diri sebagai kebutuhan yang menguasai kehidupan.

Prasaja dan ketenteraman.
Semakin manusia membutuhkan pengakuan, semakin mudah batinnya diguncang oleh tanggapan orang lain.

Sebaliknya, ketika manusia mampu hidup prasaja, ia menjadi lebih bebas. Ia tidak harus membuktikan dirinya setiap saat. Ia tidak harus menang dalam setiap percakapan. Ia tidak harus memiliki sesuatu hanya karena orang lain memilikinya.

Kebebasan semacam itu memberi ruang bagi ketenteraman.

Prasaja sebagai kasunyataning laku.
Prasaja menjadi penting karena ia merupakan salah satu tanda bahwa pembenahan batin telah menjadi tindakan.

Weninging cipta membuat manusia melihat bahwa pengakuan luar bukan ukuran mutlak nilai dirinya.

Tulusing rasa membuatnya tidak perlu menggunakan orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya.

Luhuring karsa membuatnya memilih hidup yang tidak berlebihan.

Ketiganya kemudian tampak dalam tindak tanduk yang prasaja.

Penutup.
Prinsip kelima mengajarkan bahwa prasaja bukan kemiskinan, bukan kelemahan, dan bukan penolakan terhadap keberhasilan.

Prasaja adalah kemampuan menempatkan diri secara wajar di tengah kehidupan.

Manusia tetap dapat maju, berhasil, memiliki pengetahuan, dan memperoleh kedudukan, tetapi semua itu tidak perlu menjadikannya lebih tinggi daripada sesama.

Ketika kebutuhan untuk mempertontonkan diri berkurang, batin menjadi lebih ringan.

FAQ Prasaja dalam Tindak Tanduk.
Apa arti prasaja dalam Nawa Prasanti Batin?
Prasaja berarti sederhana dan tidak berlebihan dalam tindak tanduk, terutama dalam menempatkan diri di hadapan sesama.

Apakah prasaja berarti hidup miskin?
Tidak. Prasaja terutama berkaitan dengan sikap, bukan jumlah harta atau kedudukan.

Apa hubungan prasaja dengan ketenteraman?
Prasaja mengurangi ketergantungan terhadap pengakuan sehingga batin menjadi lebih bebas.

Apakah orang sukses dapat hidup prasaja?
Bisa. Keberhasilan tidak bertentangan dengan prasaja selama tidak digunakan untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain.

Mengapa prasaja penting dalam Nawa Prasanti Batin?
Karena prasaja menjadi salah satu tanda bahwa ketenteraman dan keluhuran batin telah menjadi nyata dalam tindak tanduk.  

Komentar