HAKIKAT KESADARAN MENURUT UTTAMOPADESA

hakikat kesadaran menurut uttamopadesa
Kesadaran merupakan salah satu hal yang paling dekat dengan kehidupan janma manusa, tetapi sekaligus menjadi salah satu hal yang paling sulit dijelaskan secara tuntas dan presisi.

Setiap orang mengalami kesadaran, menggunakannya dalam menjalani kehidupan, dan menyadari berbagai hal yang terjadi dalam dirinya maupun di sekitarnya.

Namun, ketika ditanya apakah hakikat kesadaran itu, jawabannya tidak sesederhana mendefinisikan sebuah benda atau gejala yang dapat diamati dari luar.

Kesadaran bukan sekadar sesuatu yang dapat didefinisikan, melainkan sesuatu yang hanya dapat dikenali melalui pemahaman terhadap kesadaran itu sendiri.

Kesadaran merupakan tempat keberadaan cipta, rasa, dan karsa; melalui kesadaran, cipta dapat dikenali, rasa dapat dirasakan, dan karsa dapat diarahkan.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, kesadaran atau Cetana memiliki kedudukan penting dalam kehidupan janma manusa. Namun, Cetana tidak sama dengan Jiwa, Sukma, Kawruh Sejati, maupun Cipta, Rasa, dan Karsa.

Kesadaran merupakan kemampuan dasar untuk menyadari, mengenali, memahami, dan menata apa yang berlangsung dalam kehidupan.

Kesadaran Bukan Sekadar Mengetahui.
Dalam pengertian sehari-hari, kesadaran sering disamakan dengan mengetahui sesuatu. Seseorang dikatakan sadar karena mengetahui keadaan dirinya, mengetahui lingkungan, atau mengetahui apa yang sedang dilakukan.

Pengertian tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi masih berada pada bagian permukaan.

Mengetahui bahwa sesuatu terjadi berbeda dengan benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi.

Janma manusa dapat mengetahui bahwa dirinya sedang marah, tetapi belum tentu memahami mengapa kemarahan itu muncul.

Seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya sedang takut, tetapi belum tentu mampu mengenali bagaimana rasa takut itu dapat mempengaruhi cipta, rasa dan karsanya.

Karena itu, kesadaran tidak berhenti pada kegiatan mengetahui.

Kesadaran memungkinkan janma manusa mengambil jarak dari apa yang sedang dialaminya sehingga dapat mengenali keadaan cipta, memahami rasa, dan menata karsa.

Dari sinilah kesadaran mempunyai hubungan yang erat dengan pembentukan kehidupan yang lebih tertata.

Hakikat Kesadaran Tidak Dapat Disamakan dengan Objek yang Disadari.
Hal penting dalam memahami kesadaran adalah membedakan antara kesadaran dan apa yang disadari.

Cipta dapat disadari. Rasa dapat disadari. Karsa dapat disadari. Pikiran, ingatan, emosi, keinginan, tindakan, bahkan perubahan keadaan tubuh dapat menjadi sesuatu yang disadari.

Namun, sesuatu yang disadari tidak otomatis merupakan kesadaran itu sendiri.

Misalnya, seseorang menyadari bahwa dirinya sedang marah. Kemarahan merupakan sesuatu yang dikenali dalam kesadaran, tetapi kemarahan bukanlah kesadaran.

Demikian pula pikiran bukan kesadaran hanya karena pikiran dapat diketahui.

Pembedaan ini penting agar pembahasan tentang kesadaran tidak berhenti pada objek-objek pengalaman.

Kesadaran perlu dikenali sebagai dasar yang memungkinkan janma manusa mengetahui bahwa suatu pengalaman sedang berlangsung.

Hubungan Kesadaran dengan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Dalam kehidupan janma manusa terdapat tiga daya penting yang dikenal sebagai Cipta, Rasa, dan Karsa.

Cipta berkaitan dengan proses membentuk gagasan, pertimbangan, dan pemahaman.

Rasa berkaitan dengan penghayatan terhadap apa yang dialami.

Karsa berkaitan dengan dorongan untuk menentukan kehendak dan melakukan sesuatu.

Ketiganya dapat berjalan secara tidak tertata apabila tidak disadari.

Di sinilah kesadaran mempunyai kedudukan penting.

Kesadaran menjadi dasar bagi janma manusa untuk mengenali bagaimana Cipta bekerja, bagaimana Rasa bergerak, dan ke mana Karsa diarahkan.

Dengan kesadaran, manusia tidak sekadar mengikuti setiap pikiran, rasa, dan keinginan yang muncul, tetapi dapat mengenali dan menatanya.

Karena itu, ketika dikatakan bahwa kesadaran adalah dasar Cipta, Rasa, dan Karsa, yang dimaksud bukan Kesadaran atau Cetana merupakan asal atau sumber ontologis dari ketiganya.

Kesadaran adalah dasar dalam pengertian bahwa melalui kesadaran, Cipta, Rasa, dan Karsa dapat dikenali, dipahami, dan ditata dalam kehidupan.

Dari sinilah lahir prinsip:
Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa.

Cipta perlu diweningkan, Rasa perlu dituluskan, dan Karsa perlu diarahkan kepada keutamaan.

Kesadaran Bukan Jiwa.
Kesadaran juga tidak tepat apabila langsung disamakan dengan Jiwa.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, Jiwa memiliki kedudukan tersendiri dalam tatanan panguripan. Kesadaran merupakan Cetana, sedangkan Jiwa bukan Cetana.

Pembedaan ini diperlukan karena istilah “kesadaran” sering digunakan secara sangat luas sehingga berbagai pengertian menjadi bercampur aduk secara tidak jelas.

Jika semua yang berkaitan dengan kehidupan batin disebut kesadaran, maka pembahasan akan kehilangan ketepatan.

Kesadaran perlu ditempatkan sesuai kedudukannya dalam kerangka kawruh.

Demikian pula Sukma tidak dapat begitu saja disamakan dengan kesadaran. Sukma memiliki kedudukan tersendiri sebagai ruang keberadaan Jiwa beserta Cipta, Rasa, dan Karsa.

Dengan demikian, Cetana, Jiwa, Sukma, Cipta, Rasa, dan Karsa merupakan istilah yang saling berhubungan tetapi tidak identik.

Kesadaran dan Kawruh Sejati
Kesadaran juga bukan Kawruh Sejati.

Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang, sedangkan Cetana adalah kesadaran. Keduanya mempunyai hubungan dalam proses ngaweruhi, tetapi tidak berarti keduanya merupakan hal yang sama.

Pepadhang memungkinkan sesuatu dipahami dengan lebih terang, sedangkan kesadaran memungkinkan janma manusa mengenali apa yang sedang berlangsung dan memahami keadaan dirinya.

Karena itu, jangan pernah menjadikan kesadaran sebagai nama lain bagi Kawruh Sejati.

Kesadaran dapat menjadi jalan untuk mengenali dan memahami, sedangkan Kawruh Sejati merupakan pepadhang yang menerangi pemahaman tersebut.

Dari pemahaman itu kemudian manusia dapat membentuk Kawruh Kasunyatan, yaitu pemahaman manusia terhadap kasunyatan yang dikenali dalam kehidupan.

Kesadaran dan Prabodha.
Kesadaran juga memiliki tingkatan perkembangan.

Cetana dapat berada dalam keadaan yang belum tertata, kemudian berkembang menuju keadaan yang lebih waspada, wening, mantep, dan semakin mampu memahami apa yang berlangsung dalam dirinya.

Dalam kerangka ini dikenal hubungan:

Cetana → Nawa Cetana → Prabodha → Laku.

Prabodha menunjuk pada kesadaran yang telah terbangun. Kesadaran tidak berhenti pada keadaan “sadar bahwa dirinya sadar”, tetapi perlu membawa perubahan dalam cara memahami dan menjalani kehidupan.

Karena itu, ukuran penting dari perkembangan kesadaran bukan hanya pengalaman batin yang dirasakan, tetapi bagaimana kesadaran tersebut menghasilkan laku.

Kesadaran yang dipahami tetapi tidak diwujudkan dalam kehidupan belum mencapai tujuan kawruh secara utuh.

Hakikat Kesadaran dan Spiritualitas.
Pemahaman tentang kesadaran juga mengubah cara memandang spiritualitas.

Spiritualitas tidak harus diarahkan kepada pencarian pengalaman gaib, kekuatan supranatural, atau berbagai hal yang sulit dibuktikan. Spiritualitas dapat ditempatkan sebagai proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri.

Spiritualitas sejati adalah proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri, bukan pencarian terhadap hal-hal gaib.

Dengan pengertian ini, perhatian manusia diarahkan kembali kepada sesuatu yang benar-benar hadir dalam kehidupan: bagaimana ia berpikir, merasakan, berkehendak, mengambil keputusan, dan bertindak.

Spiritualitas kemudian tidak menjadi pelarian dari kehidupan, melainkan pendalaman terhadap cara menjalani kehidupan.

Kesadaran dan Batas Pengetahuan Sains.
Kesadaran juga menjadi persoalan penting dalam ilmu pengetahuan modern. Sains dapat meneliti berbagai gejala yang berhubungan dengan kesadaran, seperti aktivitas otak, proses saraf, perilaku, respons tubuh, dan laporan subjektif mengenai pengalaman sadar.

Penelitian tersebut memberikan pengetahuan penting tentang berbagai proses yang berkaitan dengan kesadaran.

Namun, penelitian terhadap gejala kesadaran tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh hakikat kesadaran.

Di sinilah perlu dibedakan antara meneliti gejala kesadaran dan menjelaskan hakikat kesadaran.

Sains bekerja melalui pengamatan, pengukuran, pengujian, dan pembuktian terhadap gejala yang dapat diteliti.

Sementara pertanyaan mengenai hakikat kesadaran menyentuh persoalan yang lebih mendasar: apa sebenarnya kesadaran itu dan bagaimana kesadaran dapat dikenali dari pengalaman manusia sendiri.

Karena itu, pembahasan hakikat kesadaran tidak perlu dipertentangkan dengan sains. Keduanya dapat ditempatkan pada ranah pertanyaan yang berbeda.

Sains dapat meneliti berbagai gejala yang menyertai kesadaran, sementara kajian filosofis dan kawruh dapat mempertanyakan makna serta hakikat kesadaran itu sendiri.

Mengenali Kesadaran Melalui Kesadaran.
Pada akhirnya terdapat sebuah persoalan mendasar.

Bagaimana manusia dapat mengenali kesadaran?

Kesadaran tidak mudah dijadikan objek seperti benda yang dapat diletakkan di luar diri lalu diamati dari jarak tertentu. Ketika manusia berusaha mengenali kesadaran, ia menggunakan kesadaran itu sendiri sebagai dasar untuk mengenali.

Inilah sebabnya pembahasan mengenai kesadaran memiliki sifat yang khas.

Manusia tidak hanya bertanya tentang sesuatu yang berada di luar dirinya. Ia sedang berusaha memahami dasar dari proses mengetahui itu sendiri.

Karena itu, mengenali kesadaran bukan sekadar mencari definisi. Yang diperlukan adalah pemahaman langsung terhadap bagaimana kesadaran itu hadir dalam kehidupan, bagaimana ia mengenali Cipta, Rasa, dan Karsa, serta bagaimana kesadaran berkembang menjadi Prabodha dan diwujudkan dalam laku.

Kesadaran yang Menjadi Laku.
Hakikat kesadaran pada akhirnya tidak berhenti pada pemahaman.

Jika manusia telah menyadari keadaan cipta tetapi tetap membiarkan cipta dipenuhi keruhnya pikiran, kesadaran tersebut belum menghasilkan weninging cipta.

Jika manusia telah mengenali rasa tetapi tetap membiarkan rasa dikuasai berbagai kotoran batin, kesadaran tersebut belum menghasilkan tulusing rasa.

Jika manusia telah mengetahui kehendaknya tetapi tidak mampu mengarahkannya kepada sesuatu yang utama, kesadaran tersebut belum menghasilkan utamaning karsa.

Dengan demikian, kesadaran memiliki hubungan langsung dengan laku.

Kesadaran → memahami → menata → menjalani.

Di sinilah kawruh menjadi nyata. Kesadaran bukan untuk dibicarakan tanpa akhir, melainkan untuk dikenali, dipahami, dan diwujudkan dalam kehidupan.

Penutup.
Hakikat kesadaran tidak dapat dipahami hanya dengan memberikan sebuah definisi. Kesadaran perlu dikenali melalui kesadaran itu sendiri.

Kesadaran merupakan tempat keberadaan cipta, rasa, dan karsa; melalui kesadaran, cipta dapat dikenali, rasa dapat dirasakan, dan karsa dapat diarahkan.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, Cetana tidak disamakan dengan Jiwa, Sukma, Kawruh Sejati, maupun Cipta, Rasa, dan Karsa. Kesadaran mempunyai kedudukan tersendiri sebagai dasar bagi janma manusa untuk mengenali, memahami, dan menata kehidupan.

Melalui kesadaran, manusia dapat melihat keadaan Cipta, memahami Rasa, dan mengarahkan Karsa. Dari sana lahir upaya menuju Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa.

Kesadaran yang semakin terbangun tidak seharusnya menjauhkan manusia dari kehidupan. Sebaliknya, kesadaran membawa manusia semakin mampu menjalani kehidupan dengan lebih jernih, tulus, dan utama.

Sebab pada akhirnya, kawruh yang sejati bukan hanya sesuatu yang diketahui.
Kawruh harus diterapkan menjadi laku kehidupan.

FAQ tentang Hakikat Kesadaran.

1. Apa hakikat kesadaran?
Hakikat kesadaran adalah sesuatu yang tidak cukup dijelaskan melalui definisi. Kesadaran perlu dikenali melalui pemahaman terhadap kesadaran itu sendiri.

2. Apakah kesadaran sama dengan Jiwa?
Tidak. Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, Cetana atau kesadaran memiliki kedudukan yang berbeda dari Jiwa.

3. Apakah kesadaran sama dengan Cipta, Rasa, dan Karsa?
Tidak. Kesadaran menjadi dasar bagi manusia untuk mengenali, memahami, dan menata Cipta, Rasa, dan Karsa.

4. Apakah kesadaran sama dengan Kawruh Sejati?
Tidak. Kawruh Sejati merupakan pepadhang, sedangkan Cetana merupakan kesadaran. Keduanya berhubungan tetapi tidak identik.

5. Apa hubungan kesadaran dengan Prabodha?
Prabodha merupakan kesadaran yang telah terbangun. Dalam kerangka Nawa Cetana, hubungan tersebut dirumuskan sebagai Cetana → Nawa Cetana → Prabodha → Laku.

6. Apakah spiritualitas harus berkaitan dengan hal gaib?
Tidak. Spiritualitas dapat dipahami sebagai proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri, bukan pencarian terhadap hal-hal gaib.

7. Mengapa kesadaran berhubungan dengan Cipta, Rasa, dan Karsa?
Karena melalui kesadaran, janma manusa dapat mengenali keadaan Cipta, memahami Rasa, dan menata arah Karsa.

8. Apa tujuan memahami kesadaran?
Tujuannya bukan sekadar memperoleh pengetahuan, tetapi menjadikan pemahaman tersebut sebagai dasar untuk menata kehidupan dan mewujudkannya dalam laku.

Komentar