Kawruh Sejati merupakan pepadhang atau penerang, yang menuntun janma manusa untuk ngaweruhi kasunyatan secara lebih jernih.
Kawruh Sejati berada pada kedudukan yang berbeda dari berbagai pengertian yang lahir dari pikiran, pengalaman, atau rumusan manusia.
Dalam kerangka Uttamopadesa, Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang atau penerang yang memungkinkan janma manusa mengenali dan memahami kasunyatan dengan lebih jernih.
Karena itu, Kawruh Sejati tidak tepat jika hanya dipahami sebagai kumpulan pengetahuan, teori, gagasan, atau informasi yang dapat disusun oleh pikiran.
Kawruh Sejati juga tidak sama dengan Kesadaran (Cetana), tidak sama dengan Jiwa, dan tidak sama dengan Cipta, Rasa, dan Karsa. Masing-masing memiliki kedudukan dan pengertian yang berbeda.
Kawruh Sejati adalah Pepadhang.
Istilah kawruh pada umumnya dapat dikaitkan dengan pengetahuan atau pemahaman. Namun, Kawruh Sejati tidak dimaksudkan sebagai pengetahuan dalam pengertian biasa.
Pengetahuan biasa dapat diperoleh melalui membaca, belajar, mengingat, mengamati, membandingkan, atau menerima informasi dari orang lain. Pengetahuan seperti itu dapat bertambah dan berubah seiring bertambahnya pengalaman dan informasi.
Kawruh Sejati memiliki pengertian yang lebih mendasar.
Dalam kerangka Uttamopadesa, Kawruh Sejati disebut pepadhang, karena kedudukannya bukan sekadar sebagai isi pikiran, melainkan sebagai penerang dalam proses ngaweruhi kasunyatan.
Pepadhang tersebut berkaitan dengan kemampuan untuk melihat sesuatu sebagaimana adanya, tanpa membiarkan cipta dikuasai oleh prasangka, keinginan, kepentingan, atau kekacauan batin.
Pepadhang tidak berarti cahaya dalam pengertian fisik. Pepadhang merupakan ungkapan untuk menjelaskan suatu kedudukan yang menerangi proses pengenalan dan pemahaman terhadap kasunyatan.
Oleh sebab itu, Kawruh Sejati tidak perlu diperlakukan sebagai benda, tempat, tokoh, ataupun organisasi.
Kawruh Sejati Bukan Konsep Buatan Manusia.
Hal ini merupakan batas pengertian yang penting.
Sebuah konsep merupakan hasil perumusan pikiran manusia. Manusia dapat membuat istilah, menyusun teori, membangun kerangka pemikiran, dan memberikan definisi terhadap suatu gagasan.
Kawruh Sejati tidak ditempatkan dalam pengertian tersebut.
Kawruh Sejati bukan konsep yang diciptakan, didirikan, atau dibentuk oleh manusia.
Istilah dan uraian mengenai Kawruh Sejati memang dapat dirumuskan oleh manusia agar dapat dijelaskan dan dipahami. Akan tetapi, perumusan bahasa mengenai sesuatu tidak berarti bahwa sesuatu tersebut baru ada karena telah dirumuskan.
Perbedaan ini penting agar tidak terjadi kekeliruan antara Kawruh Sejati dan Kawruh Uttamopadesa.
Uttamopadesa merupakan nama atau istilah yang dibuat dan dirumuskan oleh Dhimas Purnomo sebagai manifestasi kawruh kasunyatan sejati. Sementara itu, Kawruh Sejati bukan hasil pendirian manusia dan bukan nama suatu organisasi.
Dengan demikian, keduanya memiliki hubungan, tetapi tidak dapat disamakan begitu saja.
Kawruh Sejati dan Kawruh Uttamopadesa.
Kawruh Uttamopadesa merupakan kerangka kawruh yang dirumuskan untuk menjelaskan, menguraikan, dan mengembangkan pemahaman mengenai kehidupan, kasunyatan, serta laku janma manusa.
Dalam kerangka tersebut, Kawruh Sejati memiliki kedudukan yang khusus sebagai pepadhang.
Hubungannya dapat dipahami melalui perbedaan fungsi.
Kawruh Sejati adalah pepadhang.
Kawruh Uttamopadesa adalah rumusan manusia untuk menguraikan dan menuntun laku berdasarkan pemahaman terhadap kawruh tersebut.
Karena itu, Kawruh Uttamopadesa tidak boleh dipahami sebagai organisasi yang memiliki atau menciptakan Kawruh Sejati tersebut.
Uttamopadesa justru berusaha memberikan bahasa, kerangka, dan laku agar pemahaman mengenai kasunyatan Kawruh Sejati tidak berhenti sebagai obyek pembicaraan semata.
Di sinilah prinsip penting dalam Uttamopadesa menjadi berlaku:
Kawruh kudu dadi laku.
Kawruh yang hanya berhenti pada kata-kata belum mencapai tujuan penghayatannya.
Pemahaman perlu terlihat dalam cara janma manusa menata kehidupan, terutama dalam menata cipta, rasa, dan karsa.
Kawruh Sejati dan Kesadaran.
Kesadaran atau Cetana merupakan hal yang berbeda dari Kawruh Sejati.
Kesadaran berkaitan dengan keadaan sadar dan kemampuan janma manusa untuk mengenali, menyadari, serta memahami apa yang berlangsung dalam dirinya maupun dalam kehidupan.
Kesadaran menjadi sangat penting dalam proses ngaweruhi. Tanpa kesadaran, janma manusa sulit mengenali keadaan cipta, rasa, dan karsanya sendiri.
Namun, mengatakan bahwa Kesadaran berperan penting dalam mengenali Kawruh Sejati tidak berarti bahwa Kesadaran adalah Kawruh Sejati itu sendiri.
Keduanya harus tetap dibedakan.
Kesadaran merupakan sesuatu yang dapat dikenali melalui penghayatan terhadap kesadaran itu sendiri. Karena itu, memahami kesadaran tidak cukup hanya dengan memberikan definisi dari luar.
Kesadaran bukan sekadar sesuatu yang dapat didefinisikan secara mutlak, melainkan sesuatu yang hanya dapat dikenali melalui pemahaman terhadap kesadaran itu sendiri.
Dalam kerangka ini, spiritualitas juga tidak harus diarahkan kepada pencarian hal-hal gaib. Spiritualitas sejati dapat dipahami sebagai proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri.
Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan.
Kawruh Sejati juga berbeda dari Kawruh Kasunyatan.
Kawruh Kasunyatan menunjuk pada pemahaman janma manusa mengenai kasunyatan. Dengan kata lain, terdapat proses manusia untuk mengamati, mengenali, memahami, dan menguraikan apa yang dianggap sebagai kasunyatan.
Kawruh Kasunyatan karena itu berkaitan erat dengan proses pemahaman manusia. Sedangkan Kawruh Sejati tidak ditempatkan sebagai hasil susunan pemikiran manusia.
Perbedaan ini perlu dijaga dengan ketat, karena sesuatu yang dapat dipahami manusia melalui pengamatan belum tentu dengan sendirinya merupakan hakikat yang sedang dicari.
Kasunyatan yang dapat diamati tidak otomatis sama dengan hakikat kasunyatan.
Apa yang tampak dapat menjadi bahan pengamatan dan pemahaman, tetapi pertanyaan mengenai hakikat, hal ini membutuhkan kejernihan dalam melihat batas antara gejala, pengalaman, pemahaman, dan hakikat.
Di sinilah Kawruh Sejati sebagai pepadhang memiliki kedudukan penting dalam kerangka Uttamopadesa.
Kawruh Sejati Bukan Jiwa.
Kawruh Sejati juga tidak sama dengan Jiwa.
Dalam kerangka Uttamopadesa, Jiwa memiliki pengertian tersendiri dan tidak dapat disamakan dengan Kawruh Sejati.
Demikian pula Sukma, Raga, Cetana, Cipta, Rasa, dan Karsa memiliki kedudukan masing-masing.
Pembedaan tersebut bukan sekadar persoalan istilah. Pembedaan diperlukan agar pembahasan mengenai kehidupan manusia tidak mencampuradukkan berbagai unsur yang sebenarnya memiliki fungsi dan kedudukan yang berbeda.
Jika semua istilah tersebut disamakan, pembahasan mengenai kasunyatan menjadi kabur. Sebaliknya, apabila setiap istilah ditempatkan sesuai kedudukannya, hubungan antar unsur dapat dijelaskan dengan lebih tertib.
Kawruh Sejati dan Cipta, Rasa, Karsa.
Cipta, Rasa, dan Karsa merupakan tiga daya kehidupan dalam janma manusa yang memiliki peranan penting dalam laku.
Ketiganya perlu ditata agar kehidupan tidak berjalan secara serampangan.
Dalam Uttamopadesa, penataan tersebut dirumuskan melalui:
Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa.
Weninging Cipta menunjuk pada kejernihan cipta.
Tulusing Rasa menunjuk pada ketulusan rasa.
Utamaning Karsa menunjuk pada karsa yang utama.
Kesadaran berperan penting dalam mengenali keadaan ketiganya. Janma manusa perlu menyadari bagaimana pikirannya bergerak, bagaimana rasanya bekerja, dan bagaimana kehendaknya diarahkan.
Namun, sekali lagi, Cipta, Rasa, dan Karsa bukan Kawruh Sejati.
Kawruh Sejati adalah pepadhang; Cipta, Rasa, dan Karsa merupakan daya kehidupan yang perlu dikenali dan ditata dalam laku.
Kawruh Sejati Tidak Berhenti pada Pengalaman.
Salah satu kekeliruan yang mungkin terjadi adalah menyamakan Kawruh Sejati dengan pengalaman batin seseorang.
Pengalaman dapat menjadi bagian dari perjalanan manusia dalam memahami kehidupan. Namun pengalaman seseorang tetap merupakan pengalaman orang tersebut.
Pengalaman juga dapat dipengaruhi keadaan cipta, rasa, ingatan, lingkungan, harapan, dan berbagai kondisi lainnya.
Karena itu, pengalaman pribadi tidak dengan sendirinya menjadi ukuran bagi hakikat.
Kawruh Sejati tidak perlu dikejar sebagai pengalaman luar biasa, fenomena gaib, atau kejadian yang sulit dibuktikan.
Justru kejernihan dalam memahami kehidupan menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Spiritualitas yang berakar pada kesadaran tidak harus mencari sesuatu yang aneh atau gaib. Yang perlu dikenali terlebih dahulu adalah apa yang berlangsung dalam kesadaran, bagaimana cipta bekerja, bagaimana rasa bergerak, dan bagaimana karsa diarahkan.
Kawruh Sejati dan Batas Sains.
Pembahasan mengenai Kawruh Sejati juga perlu ditempatkan secara hati-hati ketika berhubungan dengan sains.
Sains dapat meneliti berbagai gejala yang menyertai pengalaman manusia. Penelitian ilmiah dapat mengamati perilaku, aktivitas otak, proses saraf, laporan pengalaman subjektif, serta berbagai perubahan yang dapat diukur atau diamati.
Namun, penelitian terhadap gejala tersebut tidak dengan sendirinya merupakan pembuktian atau penjelasan tentang hakikat spiritualitas atau hakikat kesadaran.
Demikian pula hasil pengamatan terhadap suatu pengalaman tidak otomatis dapat digunakan untuk menyimpulkan hakikat terdalam dari pengalaman tersebut.
Karena itu, pembahasan mengenai Kawruh Sejati perlu membedakan antara gejala yang dapat diamati, pengalaman yang dialami, pemahaman manusia, dan hakikat yang sedang dicari.
Batas tersebut menjadi penting agar pembicaraan mengenai Kawruh Sejati tidak berubah menjadi klaim ilmiah yang tidak memiliki dasar.
Kawruh Sejati sebagai Pepadhang dalam Laku
Tujuan memahami Kawruh Sejati bukan sekadar menambah istilah atau memperbanyak pembicaraan filosofis.
Kawruh perlu membawa perubahan dalam laku.
Janma manusa dapat mulai dari hal yang sangat dekat: mengenali keadaan dirinya, memperhatikan cipta, memahami rasa, menata karsa, serta menyadari akibat dari setiap tindakan.
Dari sinilah kawruh memperoleh maknanya dalam kehidupan.
Kawruh Sejati sebagai pepadhang tidak perlu dipertentangkan dengan kehidupan sehari-hari. Justru kehidupan sehari-hari menjadi ruang untuk melihat apakah pemahaman benar-benar menghasilkan laku yang lebih jernih.
Karena itu, Uttamopadesa tidak menempatkan pencarian kawruh sebagai pelarian dari kehidupan.
Sebaliknya, kawruh diarahkan untuk mengembalikan janma manusa kepada kemurnian cipta, rasa, dan karsa sehingga kehidupan dapat dijalani dengan lebih selaras.
Penutup.
Kawruh Sejati dalam kerangka Uttamopadesa merupakan pepadhang atau penerang, bukan konsep buatan manusia dan bukan organisasi buatan manusia.
Kawruh Sejati tidak sama dengan Kesadaran atau Cetana, tidak sama dengan Jiwa, tidak sama dengan Cipta, Rasa, dan Karsa, serta tidak sama dengan Kawruh Kasunyatan.
Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia mengenai kasunyatan, sedangkan Kawruh Uttamopadesa merupakan rumusan yang dibuat dan dikembangkan oleh Dhimas Purnomo untuk menguraikan kawruh dan laku kehidupan.
Perbedaan tersebut penting untuk dipahami demi menjaga kejernihan pengertian.
Pada akhirnya, pembicaraan mengenai Kawruh Sejati tidak cukup berhenti pada istilah. Yang lebih penting adalah bagaimana janma manusa belajar ngaweruhi, memahami kesadaran, menata cipta, memurnikan rasa, mengutamakan karsa, dan mewujudkan kawruh dalam laku kehidupan.
Kawruh kudu dadi laku. Dan laku yang jernih dimulai dari keberanian untuk melihat kehidupan dan dirinya sendiri dengan wening.
FAQ tentang Kawruh Sejati.
1. Apa itu Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati adalah pepadhang (penerang) yang menuntun janma manusa untuk ngaweruhi dan memahami kasunyatan dengan lebih jernih. Kawruh Sejati bukan sekadar kumpulan informasi atau teori.
2. Apakah Kawruh Sejati merupakan konsep?
Bukan. Dalam kerangka Uttamopadesa, Kawruh Sejati bukan konsep yang dibuat oleh manusia. Bahasa dan penjelasan tentang Kawruh Sejati dapat dirumuskan manusia, tetapi Kawruh Sejati tidak diposisikan sebagai hasil ciptaan sebuah konsep atau organisasi.
3. Apakah Kawruh Sejati merupakan organisasi?
Bukan. Kawruh Sejati bukan organisasi, paguyuban, lembaga, ataupun kelompok manusia.
4. Apakah Kawruh Sejati merupakan agama?
Dalam kerangka Uttamopadesa, Kawruh Sejati tidak ditempatkan sebagai agama atau aliran kepercayaan. Ia dipahami sebagai pepadhang dalam proses ngaweruhi kasunyatan.
5. Apakah Kawruh Sejati sama dengan Kesadaran?
Tidak sama. Kesadaran atau Cetana dan Kawruh Sejati merupakan dua hal yang berbeda. Kesadaran berkaitan dengan keadaan sadar dan kemampuan mengenali serta memahami, sedangkan Kawruh Sejati berkedudukan sebagai pepadhang.
6. Apakah Kawruh Sejati sama dengan Kawruh Kasunyatan?
Tidak sama. Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia mengenai kasunyatan. Kawruh Sejati tidak ditempatkan sebagai hasil susunan pemikiran manusia.
7. Apa hubungan Kawruh Sejati dengan Kawruh Uttamopadesa?
Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang (penerang), sedangkan Kawruh Uttamopadesa merupakan rumusan yang dibuat dan dikembangkan oleh Dhimas Purnomo untuk menguraikan kawruh dan laku kehidupan berdasarkan pemahaman tersebut.
8. Apakah Kawruh Sejati merupakan pengalaman gaib?
Bukan. Kawruh Sejati tidak perlu dipahami sebagai pengalaman gaib atau pencarian terhadap hal-hal yang tidak dapat dibuktikan. Penekanannya adalah pada kejernihan dalam ngaweruhi kasunyatan dan laku kehidupan.
9. Apakah sains dapat menjelaskan Kawruh Sejati?
Sains dapat meneliti berbagai gejala yang menyertai pengalaman kesadaran dan pengalaman spiritual. Namun, penelitian terhadap gejala tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan atau membuktikan hakikat Kawruh Sejati.
10. Apa tujuan memahami Kawruh Sejati?
Tujuannya bukan sekadar memperoleh pengetahuan, melainkan membawa kawruh menjadi laku kehidupan. Dalam kerangka Uttamopadesa, laku tersebut antara lain diwujudkan melalui Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa.
