KESADARAN DAN BATASAN DUNIA SAINS

kesadaran dan batasan dunia sains
Kesadaran merupakan bagian penting dalam kehidupan janma manusa. Melalui kesadaran, manusia dapat menyadari keberadaan dirinya, mengenali apa yang berlangsung dalam kehidupan, serta memahami berbagai pengalaman yang muncul dalam dirinya.

Namun, ketika kesadaran dibicarakan secara lebih mendalam, terdapat satu hal yang perlu diperhatikan: jangan menyamakan antara kesadaran sebagai kasunyatan yang dialami manusia, berbagai gejala yang menyertai kesadaran, dan hakikat kesadaran itu sendiri.

Ketiga hal tersebut berada pada tingkat yang berbeda.

Perbedaan inilah yang penting ketika membicarakan hubungan antara kesadaran, spiritualitas, dan sains.

Kesadaran Tidak Hanya Persoalan Definisi.
Kesadaran dapat diberi berbagai definisi. Akan tetapi, definisi tidak dengan sendirinya menghadirkan pemahaman yang mendalam mengenai kesadaran.

Kesadaran bukan sekadar sesuatu yang dapat didefinisikan, melainkan sesuatu yang hanya dapat dikenali melalui pemahaman terhadap kesadaran itu sendiri.

Manusia dapat mengatakan bahwa dirinya sadar ketika melihat, mendengar, berpikir, merasakan, atau melakukan sesuatu. Namun, dari pengalaman tersebut muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya kesadaran yang memungkinkan manusia menyadari semua itu?

Pertanyaan tersebut berbeda dari pertanyaan mengenai proses biologis yang menyertai keadaan sadar.

Di sinilah batas pembahasan menjadi penting.

Apa yang Dapat Diteliti oleh Sains?
Sains bekerja pada sesuatu yang dapat diamati, diukur, diuji, dan diteliti kembali dengan metode yang sesuai.

Dalam kaitannya dengan kesadaran, sains dapat meneliti berbagai gejala yang berkaitan dengannya. Aktivitas otak, kondisi saraf, perilaku, perhatian, persepsi, tidur, dan berbagai pengalaman yang dilaporkan manusia dapat menjadi bahan penelitian.

Sains juga dapat meneliti perubahan yang terjadi pada manusia setelah melakukan suatu kegiatan tertentu.

Misalnya, apabila seseorang mengatakan bahwa dirinya menjadi lebih tenang setelah melakukan suatu praktik, perubahan perilaku dan pengalaman yang dilaporkan dapat diteliti.

Namun, kesimpulan penelitian harus tetap berada pada apa yang memang diteliti.

Jika yang diamati adalah perubahan perilaku, maka yang diketahui adalah perubahan perilaku.

Jika yang diteliti adalah aktivitas otak, maka yang diketahui adalah aktivitas otak yang berkaitan dengan keadaan tertentu.

Jika yang dikumpulkan adalah laporan pengalaman seseorang, maka yang diperoleh adalah laporan pengalaman subjektif.

Tidak tepat apabila hasil tersebut langsung diperluas menjadi kesimpulan mengenai hakikat kesadaran.

Kasunyatan yang Diamati Tidak Sama dengan Hakikat.
Pembedaan antara kasunyatan dan hakikat menjadi penting dalam kerangka pemikiran Uttamopadesa.

Sesuatu dapat merupakan kasunyatan yang dapat diamati tanpa berarti manusia telah memahami hakikatnya secara keseluruhan.

Aktivitas otak merupakan kasunyatan yang dapat diteliti.

Perubahan perilaku merupakan kasunyatan yang dapat diamati.

Pengalaman seseorang merupakan kasunyatan pengalaman yang dapat dilaporkan.

Tetapi ketika pertanyaannya berubah menjadi apa hakikat kesadaran itu sendiri, maka pertanyaan tersebut tidak otomatis terjawab hanya dengan mengamati gejala-gejala yang menyertainya.

Dengan demikian, jangan menyamakan kasunyatan yang dapat diamati dengan hakikat yang sedang dicari.

Pembedaan tersebut bukan berarti menolak hasil penelitian ilmiah. Justru pembedaan itu membuat kesimpulan akan menjadi lebih tepat.

Aktivitas Otak dan Kesadaran.
Aktivitas otak mempunyai hubungan yang sangat penting dengan keadaan sadar manusia. Karena itu, penelitian terhadap otak dapat memberikan pengetahuan mengenai proses dan kondisi saraf yang berkaitan dengan kesadaran.

Namun, hubungan tersebut perlu dibaca secara tepat.

Apabila suatu keadaan sadar selalu disertai pola aktivitas tertentu pada otak, penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara kondisi saraf dan pengalaman sadar.

Hal itu tidak otomatis berarti bahwa aktivitas saraf tersebut adalah hakikat kesadaran.

Dengan kata lain, mengetahui apa yang terjadi pada organ tubuh ketika manusia sadar tidak sama dengan mengetahui hakikat kesadaran itu sendiri.

Sampai pembahasan ini ditulis, neurosains terus berkembang dalam memahami berbagai proses yang berkaitan dengan kesadaran. Namun, persoalan mengenai hakikat kesadaran belum dapat dianggap selesai hanya berdasarkan pengetahuan mengenai proses saraf.

Pengalaman Subjektif.
Pengalaman subjektif juga perlu ditempatkan secara tepat.

Seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya mengalami ketenangan, kejernihan, kedalaman rasa, atau pengalaman batin tertentu.

Laporan tersebut merupakan pengalaman yang sungguh dialami oleh orang yang bersangkutan. Akan tetapi, pengalaman pribadi tidak otomatis menjadi pengetahuan umum.

Karena itu, pengalaman subjektif dapat menjadi bahan penelitian, tetapi tidak tepat menyamakannya dengan hakikat spiritualitas atau hakikat kesadaran.

Dalam konteks spiritualitas, pengalaman dapat menjadi bagian dari proses penghayatan. Namun, pengalaman tetap perlu dibedakan dari pengetahuan mengenai hakikat.

Spiritualitas dan Kesadaran.
Spiritualitas sejati dapat dipahami sebagai proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri, bukan pencarian terhadap hal-hal gaib.

Dengan pengertian tersebut, spiritualitas tidak harus diarahkan kepada pengalaman luar biasa.

Perhatian justru dikembalikan kepada kesadaran manusia dalam menjalani kehidupan.

Manusia belajar mengenali apa yang berlangsung dalam dirinya. Ia menyadari pikiran, rasa, dan kehendak yang muncul. Ia belajar melihat bagaimana semua itu memengaruhi laku.

Dengan demikian, spiritualitas mempunyai hubungan dengan kehidupan nyata.
Ia bukan pelarian dari kehidupan, tetapi proses memahami kehidupan melalui kesadaran.

Kesadaran dalam Kerangka Kawruh Uttamopadesa.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, kesadaran perlu ditempatkan sesuai kedudukannya.

Kesadaran atau cetana bukanlah Kawruh Sejati.

Kesadaran juga bukan Jiwa, bukan Sukma, dan bukan cipta, rasa, atau karsa.

Cipta, rasa, dan karsa merupakan daya kehidupan dalam diri janma manusa.

Kesadaran memungkinkan manusia mengenali dan memahami apa yang berlangsung dalam kehidupan batinnya.

Karena itu, pembahasan kesadaran tidak perlu diarahkan menjadi pencarian terhadap sesuatu yang gaib.

Yang penting adalah bagaimana manusia mengenali keadaan dirinya dan kemudian menjalankan laku yang sesuai dengan pemahaman tersebut.

Kawruh Sejati dan Kawruh Kasunyatan
Di dalam kerangka ini, Kawruh Sejati mempunyai kedudukan yang berbeda dari kesadaran.

Kawruh Sejati merupakan pepadhang, bukan sekadar pengetahuan yang dibuat oleh pikiran manusia.

Sementara itu, Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan.

Perbedaan tersebut perlu dijaga agar tidak terjadi pencampuran istilah.

Manusia dapat memperoleh pemahaman mengenai kasunyatan melalui proses pengenalan dan penghayatan. Pemahaman tersebut berada dalam wilayah Kawruh Kasunyatan.

Namun, Kawruh Kasunyatan tidak kemudian disamakan dengan Kawruh Sejati.

Kawruh Sejati tetap mempunyai kedudukan tersendiri sebagai pepadhang.

Sains Tidak Perlu Dipertentangkan dengan Kawruh.
Dengan pembedaan tersebut, sains dan Kawruh Uttamopadesa tidak harus dipertentangkan.

Sains mempunyai cara kerja dan wilayah kajian tertentu.

Kawruh Uttamopadesa mempunyai kerangka untuk memahami dan menjalankan kehidupan.

Yang perlu dihindari adalah penggunaan hasil penelitian ilmiah untuk membuat kesimpulan yang melampaui apa yang benar-benar diteliti.

Sebaliknya, pengalaman batin juga tidak perlu digunakan sebagai pengganti penelitian ilmiah ketika membicarakan sesuatu yang memang berada dalam wilayah pengamatan empiris.

Kejernihan berpikir muncul ketika setiap hal ditempatkan sesuai kedudukannya.

Dari Kesadaran Menuju Laku.
Pemahaman mengenai kesadaran pada akhirnya perlu diwujudkan dalam laku.

Kesadaran terhadap cipta dapat membawa manusia menuju Weninging Cipta.

Kesadaran terhadap rasa dapat diarahkan menuju Tulusing Rasa.

Kesadaran terhadap karsa dapat diarahkan menuju Utamaning Karsa.

Ketiganya bukan sekadar rangkaian kata, tetapi arah pembentukan kehidupan.

Manusia tidak hanya perlu mengetahui bahwa dirinya memiliki cipta, rasa, dan karsa. Ia perlu menyadari bagaimana ketiganya bekerja dan bagaimana ketiganya diarahkan dalam kehidupan.

Penutup.
Sains dapat meneliti berbagai gejala yang berkaitan dengan kesadaran dan pengalaman spiritual. Perubahan perilaku, pengalaman subjektif, serta aktivitas otak dapat menjadi objek penelitian.

Namun, penelitian terhadap gejala tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan hakikat kesadaran atau membuktikan hakikat spiritualitas.

Karena itu, penting untuk selalu membedakan antara kasunyatan yang dapat diamati dan hakikat yang sedang dicari.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, kesadaran ditempatkan sebagai bagian penting dalam kehidupan janma manusa, bukan sebagai pengganti Kawruh Sejati.

Kawruh Sejati merupakan pepadhang. Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan. Kawruh Uttamopadesa menjadi kerangka yang membawa pemahaman tersebut menuju laku.

Dengan demikian, kesadaran tidak perlu dicari melalui hal-hal gaib. Kesadaran justru perlu dikenali, dipahami, dan diwujudkan dalam kehidupan.

FAQ tentang Kesadaran dan batasan dunia Sains.

1. Apakah sains dapat meneliti kesadaran?
Sains dapat meneliti berbagai proses dan gejala yang berkaitan dengan kesadaran, tetapi hal tersebut tidak otomatis menjelaskan hakikat kesadaran.

2. Apakah aktivitas otak merupakan kesadaran itu sendiri?
Aktivitas otak merupakan proses saraf yang berkaitan dengan keadaan sadar. Menyamakan proses tersebut dengan hakikat kesadaran merupakan kesimpulan yang berbeda.

3. Apakah pengalaman spiritual dapat diteliti?
Pengalaman spiritual dapat diteliti sebagai pengalaman subjektif, perubahan perilaku, atau gejala lain yang menyertainya. Namun, hasil penelitian tersebut tidak otomatis membuktikan hakikat spiritualitas.

4. Apa hubungan kesadaran dengan Kawruh Sejati?
Kesadaran dan Kawruh Sejati memiliki kedudukan berbeda. Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang, sedangkan kesadaran merupakan bagian dari kehidupan janma manusa yang perlu dikenali dan dipahami.

5. Apakah spiritualitas harus berkaitan dengan hal gaib?
Tidak. Dalam pengertian ini, spiritualitas merupakan proses mengenali dan memahami kesadaran, bukan pencarian terhadap hal-hal gaib.

Komentar