KESADARAN DALAM KAWRUH UTTAMOPADESA

kesadaran dalam kawruh uttamopadesa
Kesadaran mempunyai tempat penting dalam memahami kehidupan janma manusa. Namun, kesadaran perlu ditempatkan secara tepat agar tidak berubah menjadi istilah yang digunakan untuk menjelaskan segala sesuatu.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, manusia perlu membedakan antara Sang Sumber Panguripan, Prabhawaning Panguripan, Jatining Panguripan, Jiwa, Sukma, Cetana, Raga, Panguripan, serta berbagai unsur yang berkaitan dengan kehidupan janma manusa.

Karena itu, pembahasan kesadaran harus tetap berada dalam kerangka tersebut.

Kesadaran bukanlah segala-galanya.
Kesadaran adalah bagian yang perlu dikenali dan dipahami dalam kehidupan.

Cetana dan Kehidupan Janma Manusa.
Dalam kerangka ini, Cetana berkaitan dengan kesadaran.

Kesadaran memungkinkan janma manusa menyadari keadaan dirinya dan apa yang berlangsung dalam kehidupannya.

Namun, Cetana tidak perlu disamakan dengan Jiwa.

Cetana juga tidak sama dengan Sukma.

Demikian pula Cetana tidak sama dengan cipta, rasa, dan karsa.

Pembedaan tersebut penting karena setiap istilah mempunyai kedudukan masing-masing.

Apabila semua istilah tersebut dicampur menjadi "kesadaran", maka kerangka pemikiran menjadi kabur.

Kesadaran Bukan Hakikat Tertinggi.
Kesadaran sering dianggap sebagai sesuatu yang sangat mendalam sehingga kemudian dijadikan hakikat tertinggi.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, hal tersebut tidak perlu dilakukan. Kesadaran memang penting bagi kehidupan janma manusa, tetapi kesadaran tidak kemudian ditempatkan sebagai pengganti Sang Sumber Panguripan atau sebagai pengganti Kawruh Sejati.

Sang Sumber Panguripan mempunyai kedudukan tersendiri, sebagai hakikat tertinggi.

Kawruh Sejati juga mempunyai kedudukan tersendiri.

Cetana atau kesadaran mempunyai kedudukan tersendiri.

Ketiganya tidak boleh dipertukarkan hanya karena semuanya dibicarakan dalam hubungan dengan kehidupan.

Spiritualitas Tidak Harus Menjadi Pencarian Gaib.
Kesalahan lain yang dapat terjadi adalah ketika spiritualitas selalu diarahkan kepada sesuatu yang dianggap berada di luar jangkauan kehidupan sehari-hari.

Padahal, spiritualitas sejati dapat dipahami sebagai proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri.

Dengan demikian, titik perhatiannya justru berada pada proses pengenalan.

Manusia mengenali bagaimana pikirannya bekerja.

Manusia mengenali bagaimana rasanya berubah.

Manusia mengenali bagaimana kehendaknya muncul.

Manusia mengenali bagaimana semua itu mempengaruhi tindakannya.

Kesadaran menjadi bagian dari jalan untuk memahami kehidupan secara lebih jernih.

Kawruh Sejati sebagai Pepadhang.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang.
Ini merupakan pembedaan yang sangat penting.

Kawruh Sejati tidak sama dengan hasil pengamatan manusia terhadap dirinya sendiri.

Kawruh Sejati juga tidak sama dengan kumpulan pengalaman batin.

Pengalaman manusia dapat menjadi bagian dari proses pengenalan dan pemahaman, tetapi pengalaman tersebut tidak otomatis menjadi Kawruh Sejati.

Manusia perlu membedakan antara apa yang dialami, apa yang dipahami, dan kedudukan Kawruh Sejati sebagai pepadhang.

Kawruh Kasunyatan sebagai Pemahaman Manusia.
Kawruh Kasunyatan mempunyai wilayah yang berbeda.

Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan.

Karena itu, manusia dapat mengenali berbagai kenyataan kehidupan melalui kesadaran, kemudian berusaha memahaminya.

Pemahaman tersebut dapat berkembang menjadi kawruh yang lebih tertata.

Namun, Kawruh Kasunyatan tetap saja merupakan pemahaman manusia. Ia tidak perlu disamakan dengan Kawruh Sejati.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu dasar penting agar pembahasan mengenai kesadaran tetap jernih.

Kesadaran sebagai Proses Mengenali.
Kesadaran bukan hanya keadaan "sadar" dalam pengertian sehari-hari.

Dalam konteks spiritualitas, kesadaran menjadi proses pengenalan.

Manusia mulai melihat bahwa dirinya tidak selalu mengetahui mengapa suatu pikiran muncul.

Ia mulai menyadari bahwa suatu rasa dapat mempengaruhi penilaian.

Ia mulai melihat bahwa suatu kehendak dapat mendorong tindakan sebelum dirinya mempertimbangkan akibatnya.

Pengenalan semacam ini membuat manusia lebih mampu mawas terhadap dirinya sendiri.

Di sinilah kesadaran mempunyai nilai dalam laku.

Dari Cetana Menuju Prabodha.
Dalam kerangka yang telah ditetapkan, terdapat hubungan antara Cetana, Nawa Cetana, Prabodha, dan Laku.
Cetana merupakan kesadaran.

Nawa Cetana menjadi penguraian dan pendalaman mengenai tataran kesadaran.

Prabodha menunjuk pada kesadaran yang telah terbangun.

Dan pemahaman tersebut pada akhirnya diarahkan menuju laku.

Urutan ini penting karena menunjukkan bahwa kesadaran tidak berhenti sebagai keadaan batin yang hanya dirasakan.

Kesadaran perlu berkembang menjadi pengenalan yang lebih jernih, kemudian diwujudkan dalam kehidupan.

Nawa Tataraning Cetana.
Pendalaman terhadap Cetana dapat dilihat melalui tataran yang telah dirumuskan dalam kerangka Nawa Tataraning Cetana:

Cetana Kaiket → Waspada → Wening → Mantep → Kawawas → Pangrasa → Pepadhang → Resik → Manunggal.

Urutan tersebut menunjukkan proses perkembangan kesadaran.

Pada tahap Cetana Kaiket, kesadaran masih berada dalam keadaan terikat.

Kemudian berkembang melalui kewaspadaan, kejernihan, kemantapan, dan kemampuan melihat secara lebih luas.

Tahapan tersebut bukan sekadar istilah untuk menggambarkan pengalaman batin, tetapi menjadi bagian dari proses memahami bagaimana kesadaran berkembang dalam kehidupan.

Yang terpenting adalah tidak menjadikan tahapan tersebut sebagai pencarian pengalaman gaib.

Hubungan Kesadaran dengan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Kesadaran mempunyai hubungan dengan cipta, rasa, dan karsa karena ketiganya berlangsung dalam kehidupan janma manusa.

Namun, hubungan bukan berarti kesamaan.
Cipta tetap cipta.
Rasa tetap rasa.
Karsa tetap karsa.
Cetana tetap cetana.

Kesadaran memungkinkan manusia mengenali bagaimana cipta, rasa, dan karsa bekerja.

Dari pengenalan tersebut manusia dapat melakukan penataan.

Cipta diarahkan menuju Weninging Cipta.
Rasa diarahkan menuju Tulusing Rasa.
Karsa diarahkan menuju Utamaning Karsa.

Dengan demikian, kesadaran mempunyai hubungan langsung dengan pembentukan laku tanpa harus mengubah pengertian setiap istilah.

Sains dan Kesadaran.
Pembahasan mengenai kesadaran juga perlu ditempatkan secara tepat ketika berhadapan dengan sains.

Sains dapat meneliti gejala yang berkaitan dengan kesadaran.

Aktivitas otak dapat diteliti.

Perubahan perilaku dapat diamati.

Pengalaman subjektif dapat dikumpulkan sebagai data laporan.

Namun, semua itu tidak otomatis menjelaskan hakikat kesadaran.

Penelitian mengenai otak menjelaskan proses dan kondisi saraf yang berkaitan dengan keadaan tertentu.

Penelitian perilaku menjelaskan perubahan perilaku.

Laporan pengalaman menjelaskan apa yang dilaporkan oleh orang yang mengalaminya.

Karena itu, jangan menyamakan hasil penelitian terhadap gejala dengan penjelasan mengenai hakikat.

Kesadaran dan Laku Kehidupan.
Kawruh Uttamopadesa tidak berhenti pada pembahasan kesadaran. Tujuan pentingnya adalah bagaimana kawruh menjadi laku.

Kesadaran perlu terlihat dalam cara manusia menjalani kehidupan.

Manusia yang mulai menyadari pikirannya dapat lebih mawas terhadap cipta.

Manusia yang mulai mengenali rasanya dapat lebih mampu menjaga ketulusan.

Manusia yang mulai memahami kehendaknya dapat lebih mampu mengarahkan karsa.

Kesadaran dengan demikian bukan sekadar pengalaman batin.

Kesadaran menjadi dasar untuk menjalani kehidupan secara lebih tertata.

Tidak Semua yang Dirasakan Harus Dianggap Kebenaran.
Pembedaan antara kesadaran dan pengalaman juga sangat penting.

Manusia dapat merasakan sesuatu dengan sangat kuat. Namun, kuatnya suatu rasa tidak otomatis menjadikan penafsirannya benar.

Demikian pula pengalaman batin yang mendalam tidak otomatis menjadi bukti mengenai suatu hakikat.

Karena itu, kesadaran perlu disertai kejernihan dalam memahami.

Di sinilah Kawruh Kasunyatan mempunyai tempat penting: manusia berusaha memahami kasunyatan berdasarkan
pengenalan dan pemahaman, bukan semata-mata mengikuti pengalaman yang muncul.

Penutup.
Kesadaran atau Cetana mempunyai tempat penting dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa. Namun, Cetana tidak sama dengan Jiwa, Sukma, cipta, rasa, karsa, maupun Kawruh Sejati.

Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang.

Kawruh Kasunyatan merupakan pemahaman manusia terhadap kasunyatan.

Kawruh Uttamopadesa merupakan kerangka yang mengarahkan pemahaman tersebut menuju laku.

Spiritualitas sejati tidak harus menjadi pencarian terhadap hal-hal gaib. Spiritualitas dapat menjadi proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri.

Dari Cetana menuju Prabodha, dari pemahaman menuju laku, manusia diarahkan untuk semakin mawas terhadap kehidupan yang dijalaninya.

Pada akhirnya, kesadaran bukan untuk dibicarakan tanpa akhir.

Kesadaran perlu dikenali.

Kesadaran perlu dipahami.

Dan pemahaman tersebut perlu diwujudkan dalam laku kehidupan.

FAQ tentang Kesadaran Dalam Kawruh Uttamopadesa.

1. Apa itu Cetana dalam Kawruh Uttamopadesa?
Cetana berkaitan dengan kesadaran dalam kehidupan janma manusa. Cetana mempunyai kedudukan berbeda dari Jiwa, Sukma, cipta, rasa, dan karsa.

2. Apakah Cetana sama dengan Kawruh Sejati?
Tidak. Kawruh Sejati dipahami sebagai pepadhang, sedangkan Cetana merupakan kesadaran dalam kehidupan janma manusa.

3. Apa hubungan Cetana, Nawa Cetana, dan Prabodha?
Cetana merupakan kesadaran, Nawa Cetana menguraikan tataran kesadaran, sedangkan Prabodha berkaitan dengan kesadaran yang terbangun dan kemudian diarahkan menuju laku.

4. Apakah spiritualitas berarti mencari pengalaman gaib?
Tidak. Spiritualitas sejati dapat dipahami sebagai proses mengenali dan memahami kesadaran itu sendiri.

5. Mengapa kesadaran harus diwujudkan dalam laku?
Karena dalam Kawruh Uttamopadesa, kawruh tidak berhenti pada pemahaman. Pemahaman perlu diwujudkan dalam kehidupan melalui laku.

Komentar