Kesadaran Sebagai Tempat Berlangsungnya Pengenalan
Kesadaran sering kali dibicarakan sebagai sesuatu yang harus terlebih dahulu didefinisikan, padahal terdapat cara lain untuk mendekatinya, yaitu dengan melihat kedudukannya dalam proses manusia mengenali sesuatu. Alih-alih hanya bertanya tentang apa yang dimaksud dengan kesadaran, kita dapat mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu apa yang memungkinkan manusia menyadari bahwa dirinya mengetahui, memahami, mengalami, dan mengenali sesuatu. Dari sudut pandang ini, kesadaran dapat dipahami sebagai tempat berlangsungnya pengenalan, bukan dalam pengertian tempat sebagai ruang atau lokasi fisik, melainkan sebagai medan tempat proses mengenali dan memahami berlangsung dalam keberadaan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya mengalami berbagai hal, tetapi juga mampu menyadari bahwa dirinya sedang mengalami sesuatu. Ketika melihat suatu keadaan, manusia dapat mengetahui bahwa dirinya sedang melihat; ketika merasakan sesuatu, manusia dapat menyadari bahwa dirinya sedang merasakan; dan ketika memahami suatu pemikiran, manusia dapat mengetahui bahwa dirinya sedang memahami. Kemampuan untuk mengenali pengalaman dan proses yang berlangsung dalam dirinya inilah yang dapat dikaitkan dengan ngaweruhi, yaitu proses mengenali sesuatu dengan kesadaran. Karena itu, ngaweruhi tidak semata-mata menunjuk pada bertambahnya informasi yang dimiliki seseorang, melainkan pada terjadinya pengenalan terhadap sesuatu yang sedang diketahui atau dipahami.
Kesadaran dan Proses Ngaweruhi.
Perbedaan antara mengetahui informasi dan benar-benar ngaweruhi sesuatu menjadi penting ketika pembahasan diarahkan kepada kawruh. Seseorang dapat membaca suatu istilah, menghafalkan pengertiannya, bahkan menjelaskan kembali uraian yang pernah dibacanya, tetapi semua itu belum tentu menunjukkan bahwa ia telah mengenali makna yang sesungguhnya dari apa yang dipelajarinya. Informasi dapat tersimpan dalam pikiran tanpa benar-benar dipahami, sedangkan ngaweruhi mengandung proses pengenalan yang berlangsung dalam kesadaran sehingga manusia bukan hanya mengetahui kata atau konsep, melainkan mulai memahami apa yang sedang ditunjuk oleh kata dan konsep tersebut.
Dalam pengertian ini, kesadaran memiliki kedudukan yang lebih mendasar daripada sekadar objek pengetahuan. Kesadaran merupakan salah satu dasar yang memungkinkan proses mengetahui itu sendiri berlangsung, sebab manusia hanya dapat mengatakan bahwa dirinya mengetahui sesuatu apabila terdapat kesadaran mengenai apa yang sedang diketahui. Bahkan ketika seseorang menyadari bahwa dirinya belum memahami sesuatu, kesadaran tetap menjadi dasar dari pengenalan tersebut. Ia mengetahui bahwa dirinya belum mengetahui, dan pengenalan terhadap ketidaktahuan itu sendiri merupakan bagian dari proses kesadaran.
Karena itu, ketika dikatakan bahwa kesadaran merupakan tempat berlangsungnya ngaweruhi, yang dimaksud bukanlah bahwa kesadaran menjadi ruang penyimpanan pengetahuan, melainkan bahwa proses pengenalan manusia terhadap sesuatu berlangsung melalui kesadaran. Pengetahuan dapat disampaikan melalui kata, tulisan, pengalaman, atau berbagai bentuk pembelajaran, tetapi semua itu belum menjadi pengenalan yang bermakna sebelum manusia menyadari dan memahami apa yang sedang dikenalnya.
Kesadaran Tidak Sama dengan Pikiran
Pemahaman tersebut juga membawa kita pada pembedaan antara kesadaran dan pikiran. Pikiran merupakan salah satu proses yang dapat berlangsung dalam kesadaran, tetapi kesadaran tidak dengan sendirinya identik dengan pikiran. Manusia dapat menyadari bahwa dirinya sedang berpikir, dapat memperhatikan bagaimana suatu gagasan muncul, serta dapat melihat perubahan pemikiran yang terjadi dalam dirinya. Ketika hal tersebut berlangsung, terdapat perbedaan antara pikiran sebagai sesuatu yang sedang berlangsung dan kesadaran yang mengenali bahwa proses berpikir tersebut sedang berlangsung.
Pembedaan ini penting karena ngaweruhi tidak seharusnya dipersempit menjadi aktivitas intelektual semata. Berpikir memang dapat menjadi bagian dari proses pengenalan, tetapi pengenalan tidak selalu berhenti pada aktivitas berpikir. Seseorang dapat memiliki pemikiran yang sangat banyak mengenai suatu perkara, tetapi belum tentu benar-benar mengenali perkara tersebut. Sebaliknya, ketika seseorang mulai melihat sesuatu dengan lebih jernih, ia dapat mengalami pengenalan yang tidak sekadar berupa penambahan konsep di dalam pikirannya.
Dengan demikian, dalam pembahasan Kawruh Uttamopadesa, kesadaran perlu ditempatkan sebagai dasar yang memungkinkan manusia melakukan pengenalan, sedangkan pikiran merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan dalam proses tersebut. Pembedaan ini membantu menghindarkan pemahaman bahwa segala sesuatu yang dapat dipikirkan otomatis merupakan sesuatu yang telah dikenali secara benar.
Kesadaran dan Kawruh Sejati.
Hubungan antara kesadaran dan Kawruh Sejati menjadi lebih jelas apabila kita membedakan antara mengetahui sesuatu secara konseptual dan mengenali sesuatu secara sadar. Kawruh Sejati tidak tepat dipahami hanya sebagai kumpulan informasi yang dapat dipelajari, dihafalkan, dan diulang melalui pikiran, sebab jika demikian maka seseorang cukup menguasai istilah dan uraian untuk dianggap telah memahami Kawruh Sejati. Padahal, mengetahui berbagai uraian mengenai suatu kawruh belum tentu sama dengan ngaweruhi apa yang sesungguhnya sedang ditunjuk oleh kawruh tersebut.
Kesadaran menjadi penting karena melalui kesadaran manusia dapat mengalami proses peralihan dari sekadar mengetahui menuju mengenali. Ketika seseorang membaca uraian mengenai Kawruh Sejati, tulisan tersebut memberikan tanda dan penjelasan yang dapat dipahami melalui pikiran, tetapi pengenalan terhadap apa yang dimaksud tidak berhenti pada keberadaan tulisan tersebut. Pengenalan berlangsung ketika manusia mampu memahami apa yang sedang ditunjuk oleh penjelasan itu melalui kesadarannya sendiri.
Dengan demikian, kesadaran bukanlah Kawruh Sejati dan Kawruh Sejati bukan pula sekadar kesadaran. Keduanya memiliki kedudukan yang berbeda. Kesadaran merupakan medan berlangsungnya pengenalan, sedangkan Kawruh Sejati merupakan sesuatu yang perlu dikenali dan dipahami melalui proses kawruh. Pembedaan tersebut penting agar Kawruh Sejati tidak direduksi menjadi pengetahuan intelektual, sekaligus agar kesadaran tidak dianggap sebagai jawaban atas seluruh persoalan kawruh.
Dari Mengetahui tentang Kawruh Menjadi Ngaweruhi.
Perbedaan antara mengetahui tentang suatu kawruh dan ngaweruhi kawruh tersebut menjadi semakin penting ketika manusia berhadapan dengan banyak istilah, konsep, dan uraian filosofis. Seseorang mungkin dapat menjelaskan berbagai pengertian mengenai Kawruh Sejati, Kawruh Kasunyatan, maupun Kawruh Uttamopadesa, tetapi kemampuan menjelaskan istilah tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa ia telah mengenali maknanya secara mendalam.
Pengetahuan mengenai suatu konsep dapat diperoleh dari membaca dan mempelajari berbagai sumber, sedangkan ngaweruhi menuntut terjadinya pengenalan yang lebih mendalam terhadap apa yang dipahami.
Karena itu, kawruh tidak seharusnya diukur hanya berdasarkan banyaknya istilah yang dikuasai seseorang atau kemampuan seseorang mengulang uraian yang telah dipelajarinya. Yang lebih penting adalah apakah pengetahuan tersebut telah menjadi pengenalan yang jernih dalam kesadaran. Dalam pengertian ini, kesadaran bukan sekadar penerima informasi, tetapi merupakan tempat di mana informasi, pengalaman, pemahaman, dan pengenalan bertemu sehingga manusia dapat mengetahui apa yang sedang dipahaminya.
Kedudukan Kesadaran dalam Kawruh Uttamopadesa.
Kedudukan tersebut menjadi penting dalam memahami Kawruh Uttamopadesa, yang merupakan nama atau istilah yang dibuat oleh Dhimas Purnomo sebagai manifestasi kawruh kasunyatan sejati. Kawruh Uttamopadesa tidak hanya hadir sebagai rangkaian istilah atau tulisan yang dapat dibaca, tetapi sebagai rumusan kawruh yang perlu dikenali maknanya oleh manusia melalui proses pengenalan yang berlangsung dalam kesadaran.
Ketika seseorang membaca Kawruh Uttamopadesa, yang pertama kali diterima adalah bahasa, istilah, kalimat, dan penjelasan. Semua itu merupakan sarana untuk menyampaikan suatu pemahaman. Namun, sarana tersebut tidak dengan sendirinya menjamin terjadinya pengenalan. Dua orang dapat membaca uraian yang sama dan memperoleh tingkat pemahaman yang berbeda karena proses pengenalan yang berlangsung dalam diri masing-masing tidak selalu sama.
Di sinilah perbedaan antara membaca dan ngaweruhi menjadi penting. Membaca merupakan proses menerima dan memahami tanda-tanda yang disampaikan melalui tulisan, sedangkan ngaweruhi merupakan proses ketika manusia benar-benar mengenali makna yang sedang disampaikan. Karena itu, Kawruh Uttamopadesa tidak cukup hanya dibaca sebagai teks, tetapi perlu dipahami melalui proses pengenalan yang berlangsung dalam kesadaran.
Kesadaran sebagai Medan Pertemuan antara Manusia dan Kawruh.
Jika dilihat dari sudut tersebut, kesadaran dapat disebut sebagai medan pertemuan antara manusia dan kawruh. Kawruh dapat dirumuskan dalam bahasa, dituangkan dalam tulisan, dan dijelaskan melalui berbagai uraian, tetapi makna kawruh baru dapat dikenali ketika manusia berhadapan dengannya melalui kesadaran. Tulisan tetap menjadi tulisan, kata tetap menjadi kata, dan konsep tetap menjadi konsep sampai manusia benar-benar melakukan proses pengenalan terhadap apa yang ditunjuk oleh semuanya itu.
Hal ini juga menunjukkan bahwa keberadaan suatu pengetahuan tidak otomatis berarti bahwa pengetahuan tersebut telah menjadi bagian dari pemahaman seseorang. Sebuah buku dapat berada di hadapan seseorang tanpa dibaca, sebuah tulisan dapat dibaca tanpa dipahami, dan sebuah konsep dapat dipahami secara intelektual tanpa benar-benar dikenali maknanya. Karena itu, keberadaan informasi dan terjadinya pengenalan merupakan dua hal yang berbeda.
Kesadaran menjadi penting justru karena melalui kesadaran manusia dapat menyadari hubungan tersebut. Manusia dapat mengetahui bahwa ia sedang membaca, menyadari bahwa ia sedang memahami, mengenali bahwa ia belum memahami, dan kemudian melanjutkan proses pengenalannya. Dengan demikian, kesadaran bukan hanya menjadi tempat menerima kawruh, tetapi juga menjadi dasar bagi berlangsungnya proses ngaweruhi.
Mengenali Bukan Berarti Menciptakan.
Ada satu hal lain yang perlu dibedakan agar kedudukan kesadaran tidak dipahami secara berlebihan. Kesadaran memungkinkan manusia mengenali sesuatu, tetapi hal itu tidak berarti bahwa segala sesuatu yang dikenali merupakan ciptaan kesadaran manusia. Kemampuan mengenali berbeda dengan kemampuan menciptakan. Manusia dapat mengenali suatu kenyataan tanpa berarti bahwa kenyataan tersebut muncul karena kesadarannya.
Pembedaan antara mengenali dan menciptakan sangat penting dalam hubungan dengan Kawruh Sejati. Jika segala sesuatu yang dikenali dianggap hanya sebagai hasil pikiran manusia, maka tidak ada lagi perbedaan antara kenyataan dengan pemahaman manusia mengenai kenyataan tersebut. Padahal, dalam proses kawruh, manusia justru perlu membedakan antara apa yang dikenali dan cara dirinya mengenali.
Kesadaran dengan demikian berfungsi sebagai tempat berlangsungnya pengenalan, bukan sebagai pencipta dari segala sesuatu yang dikenali. Manusia melakukan proses ngaweruhi melalui kesadaran, tetapi apa yang dikenali tidak otomatis merupakan hasil ciptaan kesadaran tersebut.
Kesadaran sebagai Dasar Epistemik
Dari sini, kedudukan kesadaran dapat dipahami sebagai sesuatu yang bersifat epistemik, yaitu berkaitan dengan bagaimana manusia mengetahui dan mengenali. Kesadaran memungkinkan manusia tidak hanya menerima sesuatu, tetapi juga menyadari proses penerimaan, pemahaman, dan pengenalannya. Oleh sebab itu, ketika berbicara tentang kawruh, pertanyaan mengenai kesadaran bukan sekadar pertanyaan mengenai keadaan batin, tetapi juga pertanyaan mengenai dasar bagaimana manusia dapat mengetahui sesuatu.
Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, kesadaran menjadi tempat berlangsungnya proses pengenalan terhadap kawruh yang hendak dipahami. Dalam hubungan dengan Kawruh Uttamopadesa, kesadaran menjadi medan tempat rumusan kawruh yang disampaikan melalui bahasa dan tulisan dapat dipahami dan dikenali oleh manusia. Dengan demikian, kawruh tidak berhenti pada apa yang tertulis, tetapi bergerak menuju apa yang benar-benar dikenali.
Pada titik ini, ngaweruhi menjadi kata kunci. Kawruh bukan hanya sesuatu yang diketahui dari luar, melainkan sesuatu yang dikenali melalui proses kesadaran. Semakin jelas proses pengenalannya, semakin jelas pula perbedaan antara sekadar memiliki informasi dengan benar-benar memahami.
Penutup.
Kesadaran dapat dipahami bukan hanya melalui pertanyaan mengenai definisinya, tetapi melalui kedudukannya dalam proses manusia mengenali sesuatu. Kesadaran merupakan tempat berlangsungnya pengenalan, dalam arti bahwa melalui kesadaran manusia dapat menyadari apa yang sedang dilihat, dirasakan, dipikirkan, dipahami, dan dikenali. Karena itu, ngaweruhi tidak dapat dipisahkan dari kesadaran.
Hubungan ini memberikan kedudukan yang khas bagi Kawruh Sejati dan Kawruh Uttamopadesa. Kawruh Sejati tidak cukup hanya diketahui sebagai konsep, karena pengenalan terhadapnya berlangsung melalui kesadaran. Demikian pula Kawruh Uttamopadesa tidak berhenti pada tulisan, istilah, atau uraian, sebab semua itu merupakan sarana yang mengantarkan manusia menuju proses pengenalan yang lebih mendalam.
Dengan demikian, kesadaran bukan Kawruh Sejati dan bukan pula Kawruh Uttamopadesa.
Kesadaran merupakan tempat berlangsungnya ngaweruhi, sedangkan Kawruh Sejati dan Kawruh Uttamopadesa berada dalam hubungan dengan apa yang dipelajari, dipahami, dan dikenali melalui proses tersebut.
Pada akhirnya, persoalan kawruh bukan hanya tentang berapa banyak yang diketahui, tetapi tentang apa yang benar-benar telah dikenali. Di situlah kesadaran memperoleh kedudukan penting: bukan sebagai jawaban atas segala sesuatu, melainkan sebagai dasar yang memungkinkan manusia melakukan pengenalan terhadap sesuatu yang hendak dipahami.
FAQ tentang Kesadaran tempat berlangsungnya Pengenalan.
1. Apa yang dimaksud dengan kesadaran sebagai tempat berlangsungnya pengenalan?
“Tempat” bukan berarti ruang fisik, melainkan kedudukan kesadaran sebagai medan berlangsungnya proses manusia mengenali dan memahami sesuatu.
2. Apa hubungan kesadaran dengan ngaweruhi?
Ngaweruhi adalah proses mengenali sesuatu secara sadar. Karena itu, kesadaran menjadi dasar yang memungkinkan manusia bukan hanya mengetahui, tetapi menyadari dan memahami apa yang diketahuinya.
3. Apakah kesadaran sama dengan pikiran?
Tidak. Pikiran merupakan salah satu proses yang dapat berlangsung dalam kesadaran. Manusia dapat menyadari pikirannya sendiri, sehingga kesadaran tidak identik dengan pikiran.
4. Apakah kesadaran sama dengan Kawruh Sejati?
Tidak. Kesadaran merupakan tempat berlangsungnya pengenalan, sedangkan Kawruh Sejati bukan sekadar keadaan sadar. Keduanya memiliki kedudukan yang berbeda dalam proses kawruh.
5. Apa hubungan kesadaran dengan Kawruh Uttamopadesa?
Kawruh Uttamopadesa disampaikan melalui bahasa, tulisan, dan rumusan kawruh, tetapi maknanya perlu dikenali oleh manusia melalui proses ngaweruhi yang berlangsung dalam kesadaran.
6. Apa inti hubungan kesadaran, Kawruh Sejati, dan Kawruh Uttamopadesa?
Kesadaran menjadi tempat berlangsungnya ngaweruhi, Kawruh Sejati menjadi sesuatu yang perlu dikenali, dan Kawruh Uttamopadesa menjadi rumusan kawruh yang dapat dipelajari serta dikenali melalui proses tersebut.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang sopan demi perkembangan websiteblog ini