KAJIAN SERAT NAWA MANDALA DHIRI

serat nawa mandala dhiri

Pendahuluan.
Nawa Mandala Dhiri merupakan kajian tentang sembilan unsur daya yang membentuk keseluruhan kehidupan manusia dari dalam dirinya. Istilah nawa berarti sembilan, sedangkan mandala dhiri dapat dipahami sebagai lingkaran atau tatanan unsur yang berada dalam diri manusia. Kajian ini tidak dimaksudkan sebagai pembagian manusia ke dalam bagian-bagian yang berdiri sendiri, melainkan sebagai cara untuk memahami bagaimana berbagai daya dalam diri saling berhubungan, saling memengaruhi, dan pada akhirnya menentukan arah kehidupan.

Dalam Nawa Mandala Dhiri terdapat sembilan unsur, yaitu Jiwatman, Prana, Manah, Cipta, Rasa, Karsa, Kama, Krodha, dan Sukma. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Jiwatman dipahami sebagai Jatining Panguripan, Prana sebagai daya panguripan,
Manah sebagai daya pemikir, Cipta sebagai daya pangripta batin, Rasa sebagai daya pangraos batin, Karsa sebagai daya karep dan tumindak, Kama sebagai daya pepénginan, Krodha sebagai daya kobaring batin, sedangkan Sukma menjadi pancer yang menyatukan keseluruhannya.

Kajian ini menjadi penting karena manusia sering kali mengalami konflik batin bukan karena kekurangan kemampuan, melainkan karena berbagai daya dalam dirinya berjalan tanpa keselarasan. Pikiran menghendaki sesuatu, rasa menolak, keinginan mendorong ke arah tertentu, sedangkan kesadaran belum mampu menentukan jalan yang tepat.

Nawa Mandala Dhiri memberikan kerangka untuk melihat persoalan tersebut secara menyeluruh.

1. Pūrva — Jiwatman, Jatining Panguripan.
Jiwatman ditempatkan sebagai dasar terdalam kehidupan manusia. Ia dipahami sebagai Jatining Panguripan, yaitu hakikat kehidupan yang menjadi sumber kesadaran dan pepadhang di dalam diri. Jiwatman bukan sekadar daya yang membuat tubuh hidup, tetapi menunjuk pada dasar kehidupan yang tetap berada di balik perubahan tubuh, perasaan, dan pemikiran.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mengalami perubahan yang terus-menerus. Tubuh berubah, pikiran berubah, perasaan berubah, pengalaman bertambah, dan pandangan hidup dapat berkembang. Namun, terdapat kesadaran bahwa seseorang tetap mengenali dirinya sebagai dirinya sendiri.

Dalam kajian ini, Jiwatman menjadi dasar untuk memahami kesinambungan tersebut.
Jiwatman memberikan arah agar kehidupan tidak hanya mengikuti perubahan lahiriah. Ia menjadi pepadhang yang memungkinkan manusia mengenali keadaan dirinya, memahami perjalanan hidupnya, dan mencari jalan yang selaras dengan hakikat kehidupan.

2. Āgneya — Prana, Daya Panguripan.
Jika Jiwatman dipahami sebagai Jatining Panguripan, maka Prana merupakan daya yang menggerakkan kehidupan dalam tubuh. Prana memungkinkan tubuh menjalankan berbagai fungsi kehidupan, bergerak, bertumbuh, merasakan, dan melakukan aktivitas.

Prana menunjukkan bahwa kehidupan tidak cukup dipahami hanya melalui keberadaan tubuh. Tubuh membutuhkan daya kehidupan agar seluruh bagian dapat bekerja dan berhubungan secara selaras. Karena itu, Prana menjadi penghubung penting antara kehidupan batin dan kehidupan lahir.

Menjaga Prana berarti menjaga pola kehidupan agar tubuh tidak diperlakukan secara sembarangan. Istirahat, aktivitas, makanan, ketenangan, dan kebiasaan sehari-hari ikut menentukan bagaimana daya kehidupan dapat berjalan dengan baik.

Dengan demikian, pembahasan Prana tidak berhenti pada konsep, tetapi berhubungan langsung dengan cara manusia merawat kehidupan.

3. Dakṣiṇa — Manah, Daya Pamikir.
Manah merupakan daya pemikir yang menerima, mengolah, menimbang, dan menyusun berbagai pengalaman menjadi pengertian. Manah menjadi ruang tempat manusia melakukan pertimbangan sebelum sesuatu berubah menjadi pandangan atau keputusan.

Manah sangat menentukan kualitas kehidupan karena apa yang diterima oleh manusia belum tentu benar hanya karena telah dilihat, didengar, atau dirasakan. Semuanya perlu diolah dan ditimbang. Manah yang dipenuhi prasangka, pamrih, dan kebingungan akan menghasilkan pertimbangan yang tidak jernih. Sebaliknya, manah yang wening memungkinkan manusia melihat persoalan secara lebih luas.

Karena itu, pengolahan manah menjadi bagian penting dalam pembentukan diri. Mawas dhiri, mengembangkan pengetahuan, dan berani mengoreksi pemikiran sendiri merupakan cara untuk menjaga agar daya pikir tidak menjadi sumber kesesatan.

4. Nairṛtya — Cipta, Daya Pangripta Batin.
Cipta merupakan daya pangripta batin yang menghasilkan gagasan, bayangan, rancangan, dan berbagai bentuk pemikiran.
Cipta memungkinkan manusia membayangkan sesuatu yang belum terjadi dan menyusun kemungkinan bagi kehidupan yang akan dijalani.

Kekuatan cipta dapat membawa manusia kepada penemuan dan kebijaksanaan, tetapi juga dapat menjadi sumber kekeliruan apabila tidak dikendalikan. Pikiran yang terus menghasilkan dugaan, kekhawatiran, atau angan-angan tanpa dasar dapat menjauhkan manusia dari kenyataan.

Oleh sebab itu, resiking cipta menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. Cipta bukan harus dimatikan, melainkan diarahkan agar mampu menghasilkan gagasan yang berguna dan sesuai dengan kenyataan.

5. Paścima — Rasa, Daya Pangraos Batin.
Rasa adalah daya yang membuat manusia mampu mengalami dan menghayati kehidupan. Melalui rasa, sebuah peristiwa tidak hanya diketahui sebagai kejadian, tetapi juga dipahami maknanya bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Rasa memungkinkan tumbuhnya welas, pangrumangsa, dan tepa salira. Dengan rasa yang wening, manusia mampu melihat bahwa kehidupan tidak hanya berisi kepentingan dirinya sendiri. Ia mulai mampu merasakan akibat tindakannya terhadap sesama dan lingkungan.

Namun, rasa juga dapat menjadi keruh apabila dipenuhi iri, dengki, kebencian, atau keterikatan yang berlebihan. Karena itu, rasa perlu dipelihara dan dibersihkan agar menjadi daya yang memperhalus kehidupan, bukan memperkeruhnya.

6. Vāyavya — Karsa, Daya Karep lan Tumindak.
Karsa adalah daya yang mengubah pemahaman dan perasaan menjadi keputusan serta tindakan. Cipta dapat menghasilkan gagasan dan rasa dapat memberikan penilaian batin, tetapi tanpa karsa semuanya belum menjadi kenyataan.

Karsa menentukan apakah seseorang akan bertindak atau tidak, serta ke arah mana tindakan itu dilakukan. Karena itu, karsa harus memiliki keteguhan sekaligus pertimbangan. Karsa yang hanya mengikuti keinginan sesaat mudah berubah menjadi tindakan yang merugikan.

Karsa yang diarahkan oleh manah yang jernih, cipta yang bersih, dan rasa yang wening akan menghasilkan tindakan yang lebih selaras. Di sinilah kualitas manusia akhirnya terlihat, sebab kehidupan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dipikirkan, tetapi juga oleh apa yang dilakukan.

7. Uttara — Kama, Daya Pepénginan.
Kama merupakan daya pepénginan yang tumbuh secara alami dalam diri manusia. Keinginan bukan sesuatu yang harus dimusuhi, sebab keinginan juga dapat menjadi tenaga yang mendorong seseorang untuk bertumbuh, berkarya, menjaga kehidupan, dan mencapai tujuan.

Persoalannya bukan terletak pada adanya keinginan, melainkan pada bagaimana keinginan itu diarahkan. Keinginan yang tidak ditata dapat berkembang menjadi keserakahan, pamrih, atau dorongan untuk menguasai. Sebaliknya, keinginan yang dipandu oleh kesadaran dapat menjadi daya pembangunan diri.

Karena itu, Kama perlu ditempatkan dalam tatanan. Keinginan boleh ada, tetapi tidak setiap keinginan harus diwujudkan. Manusia perlu mampu memilih mana yang selaras dengan kehidupan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

8. Īśāna — Krodha, Daya Kobaring Batin.
Krodha dalam Nawa Mandala Dhiri dipahami sebagai daya kobaring batin. Daya ini dapat hadir sebagai keberanian, semangat, keteguhan, dan kekuatan untuk menghadapi hambatan. Dengan demikian, krodha tidak semata-mata dipahami sebagai kemarahan.

Energi yang sama dapat menghasilkan keberanian atau kekerasan, tergantung bagaimana ia diarahkan. Ketika krodha berada dalam kendali manah yang wening, rasa yang alus, dan karsa yang jejeg, daya tersebut dapat menjadi kekuatan untuk mempertahankan kebenaran dan menghadapi kesulitan.

Sebaliknya, apabila kobaring batin dibiarkan tanpa kendali, ia dapat berubah menjadi kemarahan, kebencian, dan tindakan yang merusak. Karena itu, tugas manusia bukan mematikan daya tersebut, melainkan mengolah dan mengarahkannya.

9. Madhya — Sukma, Pancer.
Sukma merupakan pancer dalam Nawa Mandala Dhiri. Sukma menjadi pusat tempat cipta, rasa, dan karsa bertemu dan saling memengaruhi. Ia bukan sekadar salah satu unsur di antara unsur lainnya, tetapi menjadi titik kesatuan yang memungkinkan keseluruhan daya dalam diri bergerak secara selaras.

Ketika Sukma wening, cipta dapat menjadi lebih jernih, rasa menjadi lebih halus, dan karsa menjadi lebih teguh. Sebaliknya, apabila pusat kesadaran dipenuhi pamrih dan kablambran, berbagai daya dalam diri mudah berjalan tanpa arah yang jelas.

Karena itu, merawat Sukma berarti merawat keseluruhan kehidupan batin. Mawas dhiri, memperbaiki perilaku, membersihkan cipta, menata rasa, dan meluruskan karsa merupakan bagian dari usaha menjaga pancer tetap wening.

Kesatuan Nawa Mandala Dhiri.
Kesembilan unsur tersebut sebenarnya membentuk satu kesatuan. Jiwatman menjadi dasar kehidupan, Prana menopang daya kehidupan, Manah mengolah pemahaman, Cipta membentuk gagasan, Rasa menghayati pengalaman, Karsa menentukan tindakan, Kama memberikan dorongan keinginan, Krodha menyediakan tenaga keberanian, sedangkan Sukma menjadi pancer yang menyelaraskan semuanya.

Dengan demikian, Nawa Mandala Dhiri bukan sekadar daftar sembilan unsur manusia. Ia merupakan peta untuk memahami dinamika diri. Seseorang dapat melihat dari mana sebuah pikiran muncul, bagaimana perasaan memengaruhinya, mengapa keinginan menjadi kuat, bagaimana keberanian berubah menjadi kemarahan, dan bagaimana seluruhnya akhirnya diwujudkan melalui tindakan.

Tujuan akhirnya bukan menjadi manusia tanpa pikiran, tanpa rasa, tanpa keinginan, atau tanpa dorongan batin. Tujuannya adalah menjadikan seluruh daya tersebut berada dalam tatanan yang selaras dengan kehidupan.

Penutup.
Nawa Mandala Dhiri mengajarkan bahwa manusia merupakan kesatuan daya yang kompleks. Kehidupan tidak dapat dipahami hanya dari tubuh atau pikiran, karena di dalam diri terdapat berbagai unsur yang saling berhubungan dan membentuk arah kehidupan.

Pemahaman terhadap sembilan mandala tersebut menjadi berguna apabila diteruskan menjadi laku. Manah perlu dijernihkan, cipta perlu dibersihkan, rasa perlu dihaluskan, karsa perlu diluruskan, Kama perlu ditata, dan Krodha perlu diarahkan. Semua itu dilakukan dengan Sukma sebagai pancer dan Jiwatman sebagai dasar Jatining Panguripan.

Dengan demikian, Nawa Mandala Dhiri bukan hanya kajian tentang apa yang terdapat di dalam manusia, tetapi juga menjadi jalan untuk memahami bagaimana manusia seharusnya menata dirinya agar kehidupan berjalan lebih sadar, selaras, dan utama.
Buka Quote ....

“Nawa Mandala Dhiri iku peta kanggo nyumurupi jeroning dhiri; nalika Jiwatman dadi pepadhang, Sukma dadi pancer, Cipta, Rasa, lan Karsa lumaku laras, dene Kama lan Krodha kasinau dadi daya kang nguwatake kautaman.”

- Kawruh Uttamopadesa -

FAQ - Nawa Mandala Dhiri.
1. Apa yang dimaksud dengan Nawa Mandala Dhiri?
Nawa Mandala Dhiri adalah kajian tentang sembilan unsur atau daya dalam diri manusia yang saling berhubungan dan membentuk keseluruhan kehidupan batin serta perilaku.

2. Apa saja sembilan unsur Nawa Mandala Dhiri?
Sembilan unsur tersebut adalah Jiwatman, Prana, Manah, Cipta, Rasa, Karsa, Kama, Krodha, dan Sukma.

3. Apa perbedaan Jiwatman dan Sukma?
Dalam kerangka ini, Jiwatman dipahami sebagai Jatining Panguripan atau dasar kehidupan, sedangkan Sukma merupakan pancer kesadaran yang menyatukan dan mengarahkan berbagai daya dalam diri.

4. Apakah Kama dan Krodha selalu berarti sesuatu yang buruk?
Tidak. Kama adalah daya pepénginan, sedangkan Krodha adalah daya kobaring batin. Keduanya merupakan daya alami yang dapat diarahkan kepada kebajikan ataupun menjadi sumber masalah apabila tidak ditata.

5. Mengapa Cipta, Rasa, dan Karsa sangat penting?
Cipta berkaitan dengan daya pangripta batin, Rasa dengan daya pangraos, dan Karsa dengan daya untuk menetapkan serta melakukan tindakan. Ketiganya perlu berjalan selaras agar pikiran, perasaan, dan tindakan tidak saling bertentangan.

6. Apa tujuan mempelajari Nawa Mandala Dhiri?
Tujuannya adalah mengenali berbagai daya dalam diri, memahami hubungan di antara daya tersebut, dan mengolahnya agar kehidupan berjalan lebih sadar, tertata, dan selaras.

Sumber tulisan :
SERAT NAWA MANDALA DHIRI.

Uraian tambahan pengetahuan :

simbol uttamopadesa

Komentar