Cipta Wening dalam Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan pembahasan pendalaman mengenai salah satu dasar utama Purnata Jiwana, yaitu kejernihan cipta dalam memahami kehidupan.
Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa. Wedharan ini membahas tatanan menuju keutuhan kehidupan melalui keselarasan Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.
Jika pada artikel Purnata Jiwana menguraikan ketiga unsur tersebut sebagai satu kesatuan, pembahasan dalam artikel ini memberikan perhatian khusus kepada Cipta Wening sebagai awal dari proses menata kehidupan.
Cipta sebagai Dasar Memahami.
Manusia menjalani kehidupan dan terus berhadapan dengan berbagai keadaan. Setiap hari manusia melihat, mendengar, mengingat, menilai, memilih, dan mengambil keputusan.
Semua proses tersebut membutuhkan cipta.
Cipta menjadi bagian penting dalam cara manusia memahami apa yang terjadi di dalam maupun di luar dirinya. Namun cipta tidak selalu berada dalam keadaan jernih.
Cipta dapat dipengaruhi oleh prasangka, ketakutan, kemarahan, kepentingan pribadi, pengalaman masa lalu, keinginan, ataupun penilaian yang terburu-buru.
Karena itu, dalam Purnata Jiwana diperlukan Cipta Wening.
Cipta Wening bukan berarti tidak memiliki pendapat. Cipta Wening juga bukan keadaan ketika manusia tidak boleh menilai sesuatu.
Sebaliknya, Cipta Wening merupakan keadaan ketika manusia berusaha memahami sesuatu dengan lebih jernih sebelum memberikan penilaian dan mengambil tindakan.
Paugeran yang menjadi dasar pembahasannya adalah:
Weninging Cipta dadi Pepadhanging Pangerten.
Kejernihan cipta menjadi pepadhang bagi pengertian.
Mengapa Cipta Perlu Diweningkan?
Apa yang diketahui manusia tidak selalu merupakan keseluruhan kenyataan.
Seseorang dapat melihat suatu peristiwa, tetapi hanya mengetahui sebagian. Seseorang dapat mendengar sebuah perkataan, tetapi belum memahami maksud keseluruhannya. Seseorang dapat mengalami suatu keadaan, tetapi belum tentu memahami sebab dan akibatnya secara utuh.
Jika manusia langsung membuat kesimpulan berdasarkan bagian yang terbatas, cipta dapat menjadi keruh.
Keruhnya cipta dapat menghasilkan pemahaman yang keliru. Karena itu, Cipta Wening mengajarkan pentingnya memberi ruang bagi pengamatan, pertimbangan, dan pemeriksaan diri.
Ketika menerima suatu berita, manusia dapat bertanya apakah berita tersebut benar.
Ketika melihat kesalahan seseorang, manusia dapat bertanya apakah dirinya telah mengetahui keseluruhan keadaan.
Ketika menerima pujian, manusia dapat bertanya apakah pujian tersebut benar-benar menggambarkan dirinya.
Ketika menerima celaan, manusia juga dapat bertanya apakah terdapat bagian dari celaan tersebut yang perlu dijadikan bahan pembenahan diri.
Dengan demikian, Cipta Wening bukan sekadar kejernihan dalam berpikir, tetapi juga kesediaan untuk tidak tergesa-gesa menganggap diri sendiri selalu benar.
Cipta Wening dan Kesediaan Mengoreksi Diri.
Salah satu tanda penting dari cipta yang semakin wening adalah kesediaan mengakui kemungkinan adanya kekeliruan.
Kalimat sederhana seperti:
“Aku bisa uga isih luput.”
memiliki arti penting dalam laku kehidupan.
Pengakuan tersebut bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, ia membuka ruang bagi manusia untuk belajar.
Manusia yang merasa selalu benar akan sulit melihat kekurangan dalam pemahamannya sendiri. Sebaliknya, manusia yang bersedia memeriksa kembali pemahamannya mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri.
Cipta Wening karena itu mempunyai hubungan erat dengan mawas diri.
Mawas diri bukan berarti terus-menerus menyalahkan diri. Mawas diri berarti bersedia melihat keadaan diri secara jujur.
Apa yang sudah benar dapat dipertahankan. Apa yang masih kurang dapat diperbaiki. Apa yang keliru dapat dibenahi.
Dengan cara demikian, kejernihan cipta tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi menjadi bagian dari proses pertumbuhan manusia.
Cipta Wening Bukan Sekadar Berpikir.
Cipta Wening tidak hanya berkaitan dengan aktivitas berpikir.
Kejernihan cipta akan terlihat dalam cara manusia berbicara, menentukan pilihan, menghadapi perbedaan, dan mengambil keputusan.
Orang yang tergesa-gesa dalam memahami sesuatu dapat tergesa-gesa pula dalam berbicara.
Orang yang mudah dipengaruhi prasangka dapat mudah memberikan penilaian.
Orang yang tidak memeriksa pemahamannya sendiri dapat mengambil keputusan berdasarkan dugaan.
Karena itu, Cipta Wening perlu diteruskan menjadi laku.
Pemahaman yang jernih seharusnya membantu manusia memilih tindakan yang lebih tepat.
Di sinilah Cipta Wening mempunyai hubungan dengan dua unsur lainnya.
Cipta memberikan kejernihan. Rasa memberikan penghayatan. Karsa memberikan perwujudan.
Tanpa rasa, kejernihan cipta dapat menjadi kering. Tanpa karsa, pemahaman yang baik dapat berhenti sebagai pengertian.
Cipta Wening dalam Menghadapi Perbedaan.
Kehidupan manusia selalu mempertemukan berbagai pandangan. Perbedaan pamawas merupakan bagian dari kehidupan.
Dua orang dapat melihat suatu keadaan yang sama dan menghasilkan pemahaman yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak selalu berarti salah satu pihak harus menjadi musuh pihak lainnya.
Cipta Wening membantu manusia membedakan antara berbeda pendapat dan saling merendahkan.
Manusia dapat mempertahankan pendapatnya sambil tetap membuka ruang untuk memahami pendapat orang lain.
Kejernihan cipta juga membantu manusia menyadari bahwa pemahaman dirinya mempunyai batas.
Kesadaran terhadap batas tersebut bukan berarti kehilangan pendirian. Justru dengan menyadari batas, manusia dapat membangun pemahaman yang lebih matang.
Cipta Wening dan Purnata Jiwana.
Dalam Purnata Jiwana, Cipta Wening menjadi salah satu dasar untuk membangun keutuhan kehidupan.
Purnata Jiwana tidak hanya berbicara mengenai keadaan akhir. Ia berbicara mengenai proses menata kehidupan.
Proses tersebut dimulai dari cara manusia memahami.
Jika pemahaman keliru, penghayatan dapat ikut menyimpang. Jika penghayatan menyimpang, kehendak dapat ikut terdorong ke arah yang kurang baik.
Karena itu, Cipta Wening mempunyai kedudukan penting dalam rangkaian tersebut.
Weninging Cipta dadi Pepadhanging Pangerten.
Ketika cipta semakin wening, manusia memiliki dasar yang lebih baik untuk memahami keadaan.
Namun Cipta Wening belum menjadi keseluruhan Purnata Jiwana. Kejernihan perlu dilanjutkan dengan ketulusan rasa dan keutamaan karsa.
Laku Ngupadi Weninging Cipta.
Cipta Wening dapat dilatih melalui kebiasaan-kebiasaan yang sederhana dalam kehidupan.
Pertama, tidak tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu perkara, masalah atau persoalan.
Kedua, bersedia mendengarkan sebelum memberikan penilaian.
Ketiga, memeriksa kembali pemahaman diri sendiri.
.
Keempat, membedakan kenyataan dengan dugaan.
Kelima, bersedia mengakui kesalahan.
Keenam, tidak membiarkan kemarahan menentukan seluruh penilaian.
Ketujuh, tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Laku tersebut bukan aturan yang menjamin manusia tidak pernah salah. Tujuannya adalah membangun kebiasaan untuk terus berusaha membersihkan cara memahami kehidupan.
Cipta Wening sebagai Pepadhang.
Pada akhirnya, Cipta Wening dapat dipahami sebagai upaya menjadikan cipta semakin jernih dalam memahami kehidupan.
Ia tidak menuntut manusia menjadi sempurna.
Ia mengajak manusia untuk terus memeriksa cara memahami, cara menilai, dan cara mengambil keputusan.
Dalam kerangka Purnata Jiwana Uttamopadesa, Cipta Wening menjadi dasar utama, karena kehidupan yang tertata membutuhkan pemahaman yang tidak mudah dikuasai oleh prasangka dan kepentingan sesaat.
Dari cipta yang wening tumbuh pengertian. Dari pengertian yang semakin jernih terbuka ruang bagi rasa yang lebih tulus. Dari rasa yang semakin tulus tumbuh karsa yang lebih utama.
Karena itu, perjalanan menuju Purnata Jiwana dapat dimulai dari pertanyaan sederhana:
Apakah ciptaku wis wening?
Pertanyaan tersebut bukan untuk dijawab sekali. Ia merupakan pertanyaan yang dapat dibawa sepanjang kehidupan.
FAQ Cipta Wening Purnata Jiwana Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud Cipta Wening?
Cipta Wening adalah kejernihan cipta dalam memahami kehidupan, menilai keadaan, dan mengambil keputusan tanpa tergesa-gesa dikuasai prasangka atau kepentingan sesaat.
2. Apakah Cipta Wening berarti tidak boleh mempunyai pendapat?
Tidak. Cipta Wening justru membantu manusia membentuk pendapat dengan lebih cermat dan bersedia memeriksa kembali pemahamannya.
3. Apa hubungan Cipta Wening dengan Purnata Jiwana?
Cipta Wening merupakan salah satu dari tiga dasar Purnata Jiwana bersama Tulusing Rasa dan Karsa Utama.
4. Apa paugeran Cipta Wening?
Paugerannya adalah “Weninging Cipta dadi Pepadhanging Pangerten.”
5. Bagaimana melatih Cipta Wening?
Dengan tidak tergesa-gesa menilai, mau mendengarkan, memeriksa pemahaman, membedakan kenyataan dan dugaan, serta bersedia mengakui kesalahan.
6. Apakah Cipta Wening menjamin manusia tidak pernah salah?
Tidak. Cipta Wening merupakan laku untuk terus memperbaiki cara memahami dan menyadari kemungkinan adanya kekeliruan.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang sopan demi perkembangan websiteblog ini