Tulusing Rasa dalam Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan pembahasan pendalaman mengenai rasa sebagai dasar membangun hubungan yang selaras dengan sesama dan kehidupan.
Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa. Purnata Jiwana membahas tatanan menuju keutuhan kehidupan melalui tiga dasar utama, yaitu Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.
Jika Cipta Wening berkaitan dengan kejernihan memahami, maka Tulusing Rasa berkaitan dengan bagaimana manusia menghayati kehidupan dan membangun hubungan dengan sesama secara lebih bersih dari pamrih yang merusak.
Paugeran yang menjadi dasar Tulusing Rasa adalah:
Tulusing Rasa dadi Dhasaring Kaselarasan.
Rasa dalam Kehidupan Manusia.
Manusia tidak hanya memahami kehidupan melalui cipta. Manusia juga menghayati kehidupan melalui rasa.
Rasa hadir ketika manusia mengalami kebahagiaan, kesedihan, kasih, kecewa, prihatin, senang, kehilangan, perjumpaan, dan berbagai keadaan lainnya.
Karena itu, rasa mempunyai peranan penting dalam kehidupan.
Namun rasa tidak selalu berada dalam keadaan jernih.
Rasa dapat dipengaruhi oleh kepentingan, iri, kebencian, pamrih, kekecewaan, rasa memiliki, atau pengalaman yang belum selesai dipahami.
Ketika rasa menjadi keruh, hubungan manusia dengan sesama dapat ikut terganggu.
Keberhasilan orang lain dapat dianggap sebagai ancaman. Kesalahan orang lain dapat diperbesar. Kebaikan seseorang dapat dicurigai. Perbedaan dapat dianggap sebagai alasan untuk menjauh.
Karena itu, Purnata Jiwana tidak hanya menuntut kejernihan cipta, tetapi juga menata rasa.
Makna Tulusing Rasa.
Tulusing Rasa dapat dipahami sebagai rasa yang semakin bersih dari pamrih yang merusak hubungan manusia dengan sesama dan kehidupan.
Ketulusan tidak berarti manusia harus selalu menyenangkan orang lain. Ketulusan juga tidak berarti manusia harus menyetujui semua tindakan.
Seseorang dapat tetap tegas sekaligus tulus. Seseorang dapat menyampaikan kebenaran tanpa kebencian. Seseorang dapat menolak sesuatu tanpa merendahkan. Seseorang dapat berbeda pendapat tanpa memusuhi.
Dengan demikian, Tulusing Rasa bukan kelembutan tanpa batas.
Tulusing Rasa merupakan kemampuan untuk menjaga rasa agar tidak dikuasai oleh dorongan yang merusak.
Tulusing Rasa dan Pamrih.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menata rasa adalah pamrih. Pamrih dapat muncul dalam berbagai bentuk.
Manusia dapat berbuat baik tetapi diam-diam mengharapkan pujian. Manusia dapat membantu tetapi menunggu balasan. Manusia dapat memaafkan tetapi tetap ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih tinggi. Manusia dapat menghormati seseorang karena kedudukannya, tetapi merendahkan orang yang dianggap tidak memiliki kepentingan.
Karena itu, ketulusan membutuhkan keberanian untuk melihat kembali alasan di balik suatu tindakan.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang kulakukan?”
tetapi juga:
“Apa yang mendorongku melakukan hal tersebut?”
Pertanyaan kedua membantu manusia melihat keadaan rasa di balik tindakan.
Tulusing Rasa dan Hubungan dengan Sesama.
Kaselarasan kehidupan tidak mungkin dibangun hanya melalui pemahaman pribadi.
Manusia hidup bersama manusia lainnya.
Karena itu, cara memperlakukan sesama menjadi bagian penting dalam Purnata Jiwana.
Tulusing Rasa dapat diwujudkan melalui sikap menghormati tanpa membedakan kedudukan, kekayaan, kemampuan, budaya, bahasa, ataupun keadaan.
Menghormati bukan berarti selalu menyetujui.
Menghormati berarti mengakui bahwa manusia lain memiliki martabat sebagai sesama manusia.
Dari sini muncul sikap untuk tidak mudah merendahkan.
Perbedaan pamawas tidak harus menjadi permusuhan.
Perbedaan watak tidak harus menjadi penghinaan.
Perbedaan jalan kehidupan tidak harus menjadi alasan untuk membenci.
Tulusing Rasa memberi ruang bagi manusia untuk hidup bersama dalam perbedaan.
Tulusing Rasa Bukan Menekan Perasaan.
Menata rasa tidak berarti menolak perasaan.
Manusia tetap dapat merasa sedih. Tetap dapat kecewa. Tetap dapat marah. Tetap dapat merasa kehilangan.
Yang penting adalah bagaimana rasa tersebut dipahami dan diarahkan.
Marah dapat menjadi tanda bahwa terdapat sesuatu yang perlu diperhatikan. Namun kemarahan tidak harus diwujudkan menjadi tindakan yang merusak.
Kecewa dapat menjadi pengalaman. Namun kekecewaan tidak harus berubah menjadi kebencian.
Sedih dapat menjadi bagian dari kehidupan. Namun kesedihan tidak harus membuat manusia kehilangan kepedulian.
Karena itu, Tulusing Rasa bukan penghapusan rasa.
Tulusing Rasa merupakan proses menata rasa agar tetap menjadi bagian yang selaras dalam kehidupan.
Hubungan Cipta dan Rasa.
Tulusing Rasa tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan dengan Cipta Wening. Cipta membantu manusia memahami keadaan. Rasa membantu manusia menghayati keadaan tersebut.
Jika cipta tidak jernih, rasa dapat ikut terseret oleh pemahaman yang keliru.
Sebaliknya, jika rasa tidak ditata, cipta dapat dipengaruhi oleh perasaan yang terlalu kuat.
Karena itu keduanya perlu berjalan bersama.
Cipta memberikan kejernihan. Rasa memberikan kedalaman.
Cipta tanpa rasa dapat menjadi kaku. Rasa tanpa cipta dapat membuat manusia mudah terbawa keadaan.
Keselarasan keduanya menjadi dasar untuk melangkah menuju Karsa Utama.
Tulusing Rasa dalam Kehidupan Sehari-hari.
Tulusing Rasa tidak perlu menunggu tindakan besar. Ia justru dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Mendengarkan orang lain tanpa segera menyela.
Tidak mempermalukan seseorang karena kesalahannya.
Menghargai orang yang berbeda pandangan.
Membantu tanpa menjadikan bantuan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.
Memaafkan tanpa terus menggunakan kesalahan masa lalu untuk merendahkan.
Memberikan penghargaan tanpa mengharapkan pujian balik.
Semua itu merupakan contoh ruang untuk melatih ketulusan rasa.
Laku tersebut tidak selalu mudah.
Karena itu, Tulusing Rasa merupakan proses yang harus terus dijaga.
Tulusing Rasa dan Keluasan Hati.
Keluasan hati dapat tumbuh ketika manusia tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya pusat ukuran.
Apa yang baik bagi dirinya belum tentu harus menjadi ukuran bagi semua orang.
Apa yang disukai dirinya belum tentu harus disukai orang lain.
Apa yang dipahami dirinya belum tentu sudah mencakup seluruh kenyataan.
Kesadaran tersebut membantu manusia memberikan ruang bagi perbedaan.
Namun memberikan ruang bukan berarti kehilangan prinsip.
Tulusing Rasa tetap dapat berjalan bersama ketegasan.
Manusia dapat memiliki batas.
Manusia dapat mengatakan tidak.
Manusia dapat menolak tindakan yang dianggap keliru.
Yang dijaga adalah agar penolakan tersebut tidak berubah menjadi kebencian atau keinginan untuk merusak.
Tulusing Rasa sebagai Dhasaring Kaselarasan.
Dalam Purnata Jiwana, ketulusan rasa memiliki kedudukan penting karena kehidupan manusia selalu berhubungan dengan sesama.
Keutuhan kehidupan tidak hanya dibangun dari apa yang dipahami seseorang di dalam dirinya, tetapi juga dari bagaimana pemahaman tersebut mempengaruhi hubungan dengan kehidupan di sekitarnya.
Karena itu:
Tulusing Rasa dadi Dhasaring Kaselarasan.
Ketulusan rasa menjadi dasar bagi keselarasan.
Keselarasan bukan berarti semua manusia harus sama.
Keselarasan berarti perbedaan dapat berada dalam hubungan yang tidak saling merusak.
Menuju Karsa Utama.
Rasa yang telah ditata kemudian perlu diwujudkan melalui karsa. Inilah hubungan antara Tulusing Rasa dan Karsa Utama.
Rasa yang tulus mendorong manusia memilih tindakan yang lebih baik. Namun tindakan tersebut tetap membutuhkan kehendak. Karena itu, Purnata Jiwana menyatukan ketiganya.
Cipta Wening membantu memahami.
Tulusing Rasa membantu menghayati.
tKarsa Utama membantu mewujudkan.
Ketiganya membentuk satu rangkaian.
Penutup.
Tulusing Rasa merupakan salah satu dasar Purnata Jiwana Uttamopadesa yang mengajarkan manusia untuk menata rasa agar semakin bersih dari pamrih yang merusak.
Ketulusan bukan berarti kelemahan.
Ketulusan bukan berarti selalu menyetujui.
Ketulusan bukan berarti menghilangkan ketegasan.
Ketulusan berarti menjaga rasa agar tindakan terhadap sesama tidak didorong oleh kebencian, iri, kesombongan, atau pamrih yang merusak.
Dalam kerangka Purnata Jiwana, Tulusing Rasa menjadi jembatan antara kejernihan memahami dan keutamaan bertindak.
Ketika cipta semakin wening, rasa semakin tulus, dan karsa semakin utama, kehidupan mulai menemukan keselarasan.
Tulusing Rasa dadi Dhasaring Kaselarasan.
FAQ Tulusing Rasa dalam Purnata Jiwana Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud Tulusing Rasa?
Tulusing Rasa adalah rasa yang semakin bersih dari pamrih yang merusak hubungan manusia dengan sesama dan kehidupan.
2. Apakah Tulusing Rasa berarti harus selalu mengalah?
Tidak. Ketulusan dapat berjalan bersama ketegasan. Manusia tetap dapat memiliki batas dan pendirian tanpa didorong kebencian.
3. Apa hubungan Tulusing Rasa dengan Purnata Jiwana?
Tulusing Rasa merupakan salah satu dari tiga dasar Purnata Jiwana bersama Cipta Wening dan Karsa Utama.
4. Apa paugeran Tulusing Rasa?
Paugerannya adalah “Tulusing Rasa dadi Dhasaring Kaselarasan.”
5. Bagaimana melatih Tulusing Rasa?
Dengan menghormati sesama, tidak mudah merendahkan, membantu tanpa pamrih, menghargai perbedaan, dan memeriksa dorongan di balik tindakan.
6. Apakah Tulusing Rasa berarti tidak boleh marah atau kecewa?
Tidak. Marah dan kecewa merupakan bagian dari pengalaman manusia. Yang penting adalah bagaimana rasa tersebut ditata agar tidak berkembang menjadi tindakan yang merusak.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang sopan demi perkembangan websiteblog ini