MAWAS DIRI DALAM PURNATA JIWANA

mawas diri dalam purnata jiwana
Manusia mudah melihat keadaan di luar dirinya. Kesalahan orang lain sering terlihat jelas. Kekurangan keadaan mudah ditemukan. Persoalan lingkungan mudah dibicarakan.

Namun melihat diri sendiri dengan jujur sering membutuhkan keberanian yang lebih besar.

Manusia perlu bertanya:
Apakah aku juga mempunyai bagian dalam persoalan ini?
Apakah caraku memahami keadaan sudah tepat?
Apakah perasaanku sedang mempengaruhi penilaianku?
Apakah tindakanku sudah sesuai dengan apa yang kuanggap baik?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu merupakan bagian dari mawas diri.

Mawas diri dapat dipahami sebagai kesediaan memperhatikan keadaan diri, memahami kekuatan dan kekurangan, serta terus membenahi cara menjalani kehidupan.

Gagasan ini memiliki hubungan dengan Purnata Jiwana Uttamopadesa, sebuah wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.

Mawas Diri Bukan Menyalahkan Diri.
Mawas diri terkadang disalahpahami sebagai kebiasaan mencari kesalahan dalam diri sendiri.

Padahal mawas diri bukan berarti menyalahkan diri terus-menerus. Mawas diri berarti melihat diri sendiri dengan lebih jujur.

Jika ada yang sudah baik, disadari. Jika ada yang kurang, diperbaiki. Jika ada yang salah, diakui.

Dengan demikian, mawas diri membutuhkan keseimbangan.

Manusia tidak perlu membanggakan dirinya secara berlebihan, tetapi juga tidak perlu merendahkan dirinya.

Yang dibutuhkan adalah kejujuran.

Mengapa Mawas Diri itu Penting?
Manusia memiliki kecenderungan melihat dirinya melalui sudut pandang yang menguntungkan dirinya.

Ketika berhasil, manusia mudah menganggap keberhasilan sepenuhnya berasal dari dirinya.

Ketika gagal, manusia dapat mencari pihak yang harus disalahkan.

Ketika dipuji, manusia mudah percaya bahwa dirinya memang selalu baik.

Ketika dikritik, manusia dapat menganggap kritik sebagai serangan.

Mawas diri membantu manusia berhenti sejenak dan memeriksa kembali keadaan.

Tidak semua pujian harus dipercaya sepenuhnya. Tidak semua kritik harus ditolak. Tidak semua keberhasilan hanya berasal dari diri sendiri. Tidak semua kegagalan sepenuhnya disebabkan oleh orang lain.

Sikap seperti ini membuka ruang untuk pemahaman yang lebih jernih.

Mawas terhadap Cipta.
Mawas diri dapat dimulai dari memperhatikan cara berpikir.

Apa yang sebenarnya sedang kupikirkan?

Apakah aku sedang menilai berdasarkan kenyataan?

Ataukah aku sedang dipengaruhi prasangka?

Apakah aku mempunyai cukup informasi?

Apakah aku sedang terburu-buru mengambil kesimpulan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu manusia melihat bahwa pikiran sendiri juga perlu diperiksa.

Cipta yang tidak diperiksa dapat menjadi sumber kesalahan.

Karena itu, kejernihan membutuhkan kebiasaan untuk kembali melihat dan mempertimbangkan.

Mawas terhadap Rasa.
Selain cipta, manusia perlu mawas terhadap rasa.

Apa yang sedang kurasakan?

Mengapa aku merasa seperti itu?

Apakah rasa tersebut berasal dari keadaan yang sedang terjadi?

Ataukah dipengaruhi pengalaman sebelumnya?

Apakah aku sedang marah sehingga melihat persoalan secara berlebihan?

Apakah aku sedang iri sehingga keberhasilan orang lain terasa sebagai ancaman?

Mawas terhadap rasa bukan berarti menolak perasaan.

Manusia tetap memiliki rasa. Yang penting adalah tidak membiarkan rasa menentukan seluruh tindakan tanpa pemeriksaan.

Mawas terhadap Karsa.
Manusia juga perlu memperhatikan kehendaknya.

Mengapa aku ingin melakukan ini?

Apa tujuan sebenarnya?

Apakah tindakan ini baik?

Apakah aku hanya ingin menang?

Apakah aku sedang mengejar pengakuan?

Apakah aku ingin membalas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu manusia melihat bahwa tindakan mempunyai dorongan di belakangnya.

Kadang-kadang tindakan yang tampak baik dapat didorong oleh pamrih.

Karena itu, mawas terhadap karsa menjadi bagian penting dalam pembentukan diri.

Mawas Diri dan Kesalahan.
Mawas diri mempunyai hubungan erat dengan kesediaan mengakui kesalahan. Manusia yang tidak mau mengakui kesalahan akan sulit berkembang.

Ketika kesalahan selalu dialihkan kepada orang lain, kesempatan belajar menjadi berkurang.

Sebaliknya, ketika manusia berani mengatakan bahwa dirinya keliru, ia mempunyai ruang untuk memperbaiki.

Mengakui kesalahan bukan berarti kehilangan harga diri.

Justru keberanian tersebut menunjukkan bahwa manusia bersedia menempatkan kebenaran di atas keinginan untuk selalu terlihat benar.

Mawas Diri dalam Hubungan Sosial.
Mawas diri juga diperlukan dalam hubungan dengan sesama.

Ketika terjadi pertengkaran, manusia dapat bertanya apakah dirinya juga ikut memperbesar persoalan.

Ketika terjadi salah paham, manusia dapat memeriksa apakah perkataannya mempunyai makna yang berbeda bagi orang lain.

Ketika menerima kritik, manusia dapat mengambil bagian yang memang perlu diperhatikan.

Dengan cara tersebut, mawas diri membantu hubungan menjadi lebih sehat.

Mawas Diri dan Purnata Jiwana.
Dalam kerangka Purnata Jiwana, mawas diri dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keselarasan cipta, rasa, dan karsa.

Manusia perlu memeriksa:

Apakah ciptaku masih wening?
Apakah rasaku masih tulus?
Apakah karsaku masih utama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk mendapatkan jawaban sempurna. Pertanyaan tersebut menjadi cermin.

Ketika cipta mulai keruh, manusia dapat kembali menjernihkannya. Ketika rasa mulai dipengaruhi pamrih, manusia dapat menatanya. Ketika karsa mulai menyimpang, manusia dapat mengarahkannya kembali.

Mawas Diri sebagai Kebiasaan.
Mawas diri akan lebih berguna jika menjadi kebiasaan.

Sebelum tidur, seseorang dapat mengingat kembali apa yang telah dilakukan.

Apa yang sudah baik?

Apa yang perlu diperbaiki?

Siapa yang mungkin tersakiti?

Apa yang perlu diselesaikan?

Apa yang perlu dipelajari?

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu manusia mengenali perjalanan dirinya.

Mawas diri tidak harus dilakukan dalam suasana khusus.

Ia dapat dilakukan kapan saja.

Dari Mawas Diri Menuju Pembenahan.
Mawas diri tidak berhenti pada melihat. Setelah melihat, manusia perlu menentukan apa yang harus dilakukan.

Jika ditemukan kesalahan, diperbaiki.

Jika ditemukan kebiasaan buruk, dikurangi.

Jika ditemukan hubungan yang rusak, diupayakan pemulihannya.

Jika ditemukan pemahaman yang kurang, dipelajari kembali.

Dengan demikian:
Mawas → Ngerti → Mbenerake → Nglakoni.

Mawas diri menjadi awal. Pemahaman mengikuti. Pembenahan dilakukan. Kemudian perubahan diwujudkan dalam laku.

Penutup.
Mawas diri merupakan salah satu cara manusia menjaga perjalanan hidupnya agar tidak berjalan tanpa pemeriksaan.

Ia membantu manusia melihat diri secara lebih jujur.

Mawas diri bukan menyalahkan diri, bukan pula merendahkan diri.

Mawas diri adalah kesediaan untuk melihat keadaan diri sebagaimana adanya, kemudian membenahi bagian yang masih perlu diperbaiki.

Dalam kerangka Purnata Jiwana Uttamopadesa, penataan diri tersebut berkaitan dengan upaya menjaga Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.

Purnata Jiwana disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa sebagai salah satu rumusan mengenai perjalanan menuju keutuhan kehidupan.

Dengan mawas diri, manusia memiliki kesempatan untuk terus kembali kepada arah kehidupan yang lebih tertata.

FAQ Mawas Diri dalam Purnata Jiwana Uttamopadesa.

1. Apa itu mawas diri?
Mawas diri adalah kesediaan melihat keadaan diri secara jujur dan membenahi bagian yang masih perlu diperbaiki.

2. Apakah mawas diri berarti menyalahkan diri?
Tidak. Mawas diri bertujuan memahami dan memperbaiki, bukan merendahkan diri.

3. Apa yang perlu diperiksa ketika mawas diri?
Cipta, rasa, karsa, perkataan, tindakan, hubungan dengan sesama, serta alasan di balik suatu tindakan.

4. Mengapa mengakui kesalahan penting?
Karena pengakuan terhadap kesalahan membuka kesempatan untuk memahami penyebab dan memperbaiki tindakan.

5. Apa hubungan mawas diri dengan Purnata Jiwana?
Mawas diri membantu manusia menjaga dan membenahi cipta, rasa, dan karsa dalam perjalanan menuju keutuhan kehidupan.

6. Bagaimana memulai mawas diri?
Mulailah dengan pertanyaan sederhana tentang apa yang sudah baik, apa yang keliru, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang dapat dipelajari.

Komentar