Karsa Utama dalam Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan pembahasan pendalaman mengenai tindakan sebagai perwujudan dari kejernihan cipta dan ketulusan rasa.
Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.
Wedharan ini membahas tatanan menuju keutuhan kehidupan melalui tiga dasar utama, yaitu Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.
Jika Cipta Wening berhubungan dengan kejernihan memahami dan Tulusing Rasa berhubungan dengan ketulusan menghayati, maka Karsa Utama berhubungan dengan bagaimana pemahaman dan penghayatan diwujudkan menjadi laku.
Paugeran yang menjadi dasar Karsa Utama adalah:
Utamaning Karsa dadi Dhasaring Laku.
Karsa sebagai Daya untuk Bertindak
Manusia tidak hanya memahami dan merasakan. Manusia juga memilih. Manusia menentukan apa yang akan dilakukan.
Di sinilah karsa mempunyai peranan. Karsa dapat dipahami sebagai daya yang mendorong manusia untuk memilih dan melakukan sesuatu.
Namun tidak setiap keinginan otomatis menjadi karsa yang utama.
Manusia dapat menginginkan sesuatu karena kepentingan pribadi.
Manusia dapat mengejar sesuatu karena iri.
Manusia dapat bertindak karena marah.
Manusia dapat memilih sesuatu hanya karena ingin menang.
Karena itu, karsa perlu diarahkan.
Dalam Purnata Jiwana, arah tersebut disebut Karsa Utama.
Pengertian Karsa Utama.
Karsa Utama merupakan kehendak yang diarahkan kepada kebaikan, keselarasan, dan beciking panguripan, kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.
Karsa utama bukan keinginan untuk selalu menang. Bukan pula keinginan untuk menjadi lebih tinggi daripada orang lain.
Karsa utama merupakan kehendak untuk memilih tindakan yang baik meskipun tindakan tersebut tidak selalu menghasilkan keuntungan pribadi.
Di sinilah karsa mempunyai hubungan erat dengan tanggung jawab.
Manusia tidak hanya bertanya:
“Apa yang aku inginkan?”
tetapi juga:
“Apa akibat dari apa yang ingin kulakukan?”
Pertanyaan tersebut membantu manusia melihat bahwa setiap tindakan mempunyai akibat.
Dari Pemahaman Menuju Tindakan.
Purnata Jiwana menempatkan tiga unsur dalam satu rangkaian. Cipta memahami. Rasa menghayati. Karsa melakukan.
Jika manusia telah memahami sesuatu tetapi tidak pernah mewujudkannya, pemahaman tersebut belum menjadi laku.
Jika manusia memiliki rasa kasih tetapi tidak pernah diwujudkan dalam tindakan, kasih tersebut belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan.
Karena itu, Karsa Utama menjadi penting.
Karsa merupakan titik ketika pemahaman dan penghayatan mulai mengambil bentuk dalam kehidupan nyata.
Inilah sebabnya:
Utamaning Karsa dadi Dhasaring Laku.
Keutamaan karsa menjadi dasar laku.
Karsa Utama Tidak Selalu Berupa Tindakan Besar.
Tindakan utama tidak selalu berupa tindakan yang besar. Sering kali justru terlihat dalam perkara sederhana.
Berkata jujur ketika kebohongan memberikan keuntungan.
Mengakui kesalahan ketika menyalahkan orang lain lebih mudah.
Menolong tanpa menunggu penghargaan.
Menepati janji.
Tidak menggunakan kelemahan orang lain untuk keuntungan pribadi.
Tidak membalas keburukan hanya karena memiliki kesempatan.
Memilih menyelesaikan persoalan tanpa memperbesar pertentangan.
Tindakan-tindakan seperti itu mungkin tidak terlihat besar dari luar. Namun dalam kehidupan, tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk watak.
Karena itu, Karsa Utama bukan hanya persoalan apa yang dilakukan sekali. Ia juga berkaitan dengan kebiasaan yang terus dibangun.
Karsa dan Pamrih.
Salah satu hal yang perlu diperiksa dalam karsa adalah pamrih. Manusia dapat melakukan tindakan yang tampak baik tetapi memiliki dorongan yang tidak sepenuhnya baik.
Seseorang dapat membantu agar dipuji.
Seseorang dapat memberi agar dianggap lebih tinggi.
Seseorang dapat bersikap ramah agar mendapatkan keuntungan.
Karena itu, Karsa Utama tidak hanya melihat bentuk tindakan.
Ia juga memperhatikan arah kehendak yang melatarbelakanginya.
Pertanyaan yang dapat digunakan untuk mawas diri adalah:
Mengapa aku melakukan ini?
Apa yang sebenarnya ingin kucapai?
Apakah tindakan ini hanya menguntungkan diriku sendiri?
Apakah tindakan ini merugikan kehidupan orang lain?
Apakah tindakan ini selaras dengan apa yang telah kupahami dan kuhayati?
Pertanyaan tersebut membantu manusia melihat hubungan antara cipta, rasa, dan karsa.
Karsa Utama dan Keberanian.
Karsa Utama membutuhkan keberanian. Berbuat benar tidak selalu mudah.
Terkadang berkata jujur dapat membuat seseorang kehilangan keuntungan.
Mengakui kesalahan dapat membuat harga diri terasa turun.
Menolak tindakan yang tidak baik dapat membuat seseorang tidak disukai.
Memaafkan dapat terasa lebih sulit daripada membalas.
Karena itu, Karsa Utama membutuhkan keteguhan.
Namun keteguhan tidak berarti keras terhadap semua keadaan.
Keteguhan berarti mampu menjaga arah tindakan meskipun terdapat dorongan yang menarik ke arah berbeda.
Karsa Utama dan Kehidupan Sehari-hari.
Purnata Jiwana tidak dijalankan hanya dalam keadaan khusus. Karsa Utama justru dapat diuji dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam keluarga, karsa terlihat dari cara manusia memperlakukan anggota keluarga.
Di tempat kerja, karsa terlihat dari cara manusia menjalankan tanggung jawab.
Dalam hubungan sosial, karsa terlihat dari cara manusia memperlakukan orang lain.
Ketika mendapat pujian, karsa diuji oleh kesombongan.
Ketika mendapat kritik, karsa diuji oleh keinginan membalas.
Ketika memperoleh keberhasilan, karsa diuji oleh kepentingan diri.
Ketika mengalami kegagalan, karsa diuji oleh keinginan menyerah.
Semua keadaan tersebut menjadi ruang bagi manusia untuk melatih keutamaan karsa.
Karsa Utama dan Tanggung Jawab.
Setiap pilihan mempunyai akibat. Karena itu, Karsa Utama tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab.
Manusia perlu bersedia melihat akibat dari tindakannya.
Jika tindakan membawa kebaikan, kebaikan tersebut dapat dipertahankan.
Jika tindakan ternyata menimbulkan kerugian, manusia perlu bersedia mengakuinya.
Jika tindakan ternyata keliru, manusia perlu membenahinya.
Dengan demikian, Karsa Utama bukan tuntutan untuk selalu berhasil.
Ia merupakan kesediaan untuk bertindak dengan pertimbangan dan bertanggung jawab terhadap akibat tindakan.
Hubungan Karsa dengan Cipta dan Rasa.
Karsa Utama tidak dapat berdiri sendiri. Karsa yang tidak didahului kejernihan dapat kehilangan arah. Karsa yang tidak disertai ketulusan rasa dapat menjadi tindakan yang dingin atau hanya berorientasi pada kepentingan tertentu.
Karena itu, ketiganya perlu berjalan bersama.
Cipta Wening memberikan kejernihan. Tulusing Rasa memberikan kedalaman dan keselarasan. Karsa Utama memberikan perwujudan.
Dengan demikian, Purnata Jiwana bukan sekadar mengetahui apa yang baik.
Manusia perlu memahami, menghayati, lalu melakukan.
Dari Laku Menjadi Watak.
Tindakan yang dilakukan berulang-ulang dapat membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang terus dijaga dapat membentuk watak.
Karena itu, Karsa Utama mempunyai arti penting dalam pembentukan kehidupan manusia.
Satu tindakan jujur mungkin hanya menjadi satu peristiwa. Namun kebiasaan berkata jujur dapat membentuk watak yang menjunjung kejujuran.
Satu tindakan membantu mungkin hanya terjadi sekali. Namun kebiasaan membantu dapat membentuk watak yang peduli terhadap kehidupan.
Inilah hubungan antara karsa dan laku.
Purnata Jiwana tidak berhenti pada niat. Ia perlu hadir dalam tindakan yang berulang.
Karsa Utama sebagai Dhasaring Laku.
Purnata Jiwana menempatkan Karsa Utama sebagai dasar laku karena kehidupan akhirnya terlihat melalui tindakan.
Apa yang dipahami dapat terlihat dalam pilihan.
Apa yang dihayati dapat terlihat dalam perlakuan terhadap sesama.
Apa yang diyakini baik dapat terlihat dalam keberanian untuk melakukannya.
Karena itu, Karsa Utama menjadi penghubung antara pemahaman dan kehidupan nyata.
Utamaning Karsa dadi Dhasaring Laku.
Keutamaan karsa bukan sesuatu yang selesai dicapai sekali. Ia perlu dijaga setiap hari.
Penutup.
Karsa Utama merupakan salah satu dasar Purnata Jiwana Uttamopadesa yang menempatkan tindakan sebagai perwujudan dari pemahaman dan penghayatan.
Cipta Wening tanpa laku dapat berhenti sebagai pemahaman.
Tulusing Rasa tanpa laku dapat berhenti sebagai penghayatan.
Karena itu, keduanya perlu diwujudkan melalui Karsa Utama.
Karsa Utama mengajarkan manusia untuk memilih tindakan berdasarkan kebaikan, keselarasan, dan beciking panguripan, bukan semata-mata berdasarkan kepentingan pribadi.
Karsa utama juga tidak menuntut manusia menjadi pribadi yang tidak pernah salah. Manusia tetap dapat keliru.
Yang penting adalah kesediaan untuk melihat akibat tindakan, mengakui kekeliruan, dan membenahi laku.
Dengan demikian, perjalanan Purnata Jiwana dapat dilihat sebagai rangkaian:
Weninging Cipta → Tulusing Rasa → Utamaning Karsa → Beciking Laku.
Pemahaman menjadi lebih jernih. Penghayatan menjadi lebih tulus. Kehendak menjadi lebih utama. Tindakan menjadi lebih baik.
Dari situlah kehidupan perlahan menemukan keutuhan dan keselarasan.
FAQ Karsa Utama dalam Purnata Jiwana Uttamopadesa.
1. Apa yang dimaksud Karsa Utama?
Karsa Utama adalah kehendak yang diarahkan kepada kebaikan, keselarasan, dan beciking panguripan serta diwujudkan dalam tindakan nyata.
2. Apa hubungan Karsa Utama dengan Purnata Jiwana?
Karsa Utama merupakan salah satu dari tiga dasar Purnata Jiwana bersama Cipta Wening dan Tulusing Rasa.
3. Apa paugeran Karsa Utama?
Paugerannya adalah “Utamaning Karsa dadi Dhasaring Laku.”
4. Apakah Karsa Utama berarti selalu mengalah?
Tidak. Karsa Utama berkaitan dengan memilih tindakan yang baik dan bertanggung jawab, bukan selalu mengalah kepada keadaan.
5. Mengapa karsa perlu diperiksa?
Karena tindakan dapat didorong oleh berbagai kepentingan. Pemeriksaan terhadap karsa membantu manusia mengetahui apakah tindakannya benar-benar diarahkan kepada kebaikan atau hanya memenuhi kepentingan pribadi.
6. Bagaimana Karsa Utama dilatih?
Dengan membiasakan diri dalam hal mempertimbangkan akibat tindakan, berkata jujur, bertanggung jawab, membantu tanpa pamrih, mengakui kesalahan, dan memilih tindakan yang tidak merusak kehidupan.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang sopan demi perkembangan websiteblog ini