KAWRUH PURNATA JIWANA UTTAMOPADESA

kawruh purnata jiwana
Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa. Wedharan ini membahas tatanan menuju kesempurnaan hidup melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.

Purnata Jiwana merupakan salah satu rumusan dalam pengembangan pemikiran Kawruh Uttamopadesa yang menempatkan kehidupan manusia sebagai sebuah obyek perjalanan untuk terus menata diri.

Kesempurnaan hidup tidak terutama diukur dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, luasnya pengetahuan, ataupun panjangnya usia, melainkan dari bagaimana manusia mampu menata cipta, rasa, dan karsa sehingga ketiganya dapat berjalan secara selaras dalam kehidupan.

Tiga dasar utama Purnata Jiwana adalah: Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.

Cipta memberikan kejernihan dalam memahami. Rasa memberikan kedalaman dalam menghayati. Karsa memberikan daya untuk mewujudkan pemahaman dan penghayatan tersebut ke dalam tindakan.

Karena itu, Purnata Jiwana bukan hanya pembahasan tentang kesempurnaan sebagai sebuah keadaan, tetapi juga tentang lampah hidup untuk mengupayakan keutuhan dan keselarasan kehidupan.

Kedudukan Purnata Jiwana dalam Kawruh Uttamopadesa.
Purnata Jiwana ditempatkan dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa sebagai wedharan mengenai tatanan menuju keutuhan kehidupan manusia.

Purnata Jiwana Uttamopadesa disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.

Penegasan ini penting karena Purnata Jiwana dalam pembahasan ini merupakan bagian dari rumusan dan pengembangan pemikiran Kawruh Uttamopadesa. Istilah dan kerangka pembahasannya digunakan untuk menguraikan bagaimana manusia dapat menata cipta, rasa, dan karsa dalam menjalani kehidupan.

Dengan demikian, Purnata Jiwana bukan sekadar pembahasan umum mengenai kesempurnaan hidup, tetapi merupakan wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo sebagai bagian dari kerangka Kawruh Uttamopadesa.

Arah pembahasannya tidak berhenti pada pemahaman. Apa yang dipahami perlu dihayati, kemudian diwujudkan dalam laku.

Dari sinilah muncul tiga landasan utama, yaitu :
Cipta Wening menjadi pepadhang pangerten.
Tulusing Rasa menjadi dhasaring kaselarasan.
Karsa Utama menjadi dhasaring laku.

Ketiga unsur tersebut menjadi satu rangkaian dalam lampah menuju Purnata Jiwana.

Pengertian Purnata Jiwana.
Purnata Jiwana dapat dipahami sebagai keutuhan dan keselarasan kehidupan.

Purnata menunjuk pada keadaan yang utuh, sedangkan jiwana menunjuk pada kehidupan. Dengan demikian, Purnata Jiwana menggambarkan kehidupan yang semakin tertata dan menemukan keutuhan melalui keselarasan cipta, rasa, dan karsa.

Keutuhan tidak berarti seluruh keadaan kehidupan harus sesuai dengan keinginan manusia.

Dalam kehidupan selalu terdapat berbagai keadaan. Ada perjumpaan dan perpisahan, kebahagiaan dan kesedihan, keberhasilan dan kegagalan, kelahiran dan pertumbuhan, serta berbagai pengalaman yang tidak selalu dapat dipilih.

Manusia tidak mampu mengatur seluruh keadaan yang terjadi di luar dirinya. Namun manusia dapat menata bagaimana dirinya memahami, merasakan, dan menanggapi keadaan tersebut.

Di situlah letak pentingnya cipta, rasa, dan karsa.

Purnata Jiwana juga tidak berarti manusia menjadi pribadi yang tidak pernah salah. Kesalahan tetap mungkin terjadi. Persoalan tetap dapat datang. Kesulitan tetap menjadi bagian dari kehidupan.

Yang menjadi penting adalah bagaimana manusia menyikapi semuanya dengan kesediaan untuk terus membenahi diri.

Karena itu, lampah Purnata Jiwana dapat dimulai dari tiga pertanyaan:

Apakah ciptaku sudah wening?
Apakah rasaku sudah tulus?
Apakah karsaku sudah utama?

Ketiga pertanyaan tersebut menjadi cermin untuk melihat keadaan diri sendiri.

1. Cipta Wening.
Cipta Wening merupakan kejernihan cipta dalam memahami kehidupan dan melihat suatu keadaan dengan lebih jernih.

Cipta yang belum wening mudah dipengaruhi oleh prasangka, ketakutan, kemarahan, kesombongan, kepentingan pribadi, ataupun keinginan sesaat. Ketika cipta telah dipenuhi berbagai pengaruh tersebut, manusia dapat melihat sesuatu tidak sebagaimana adanya.

Yang kecil dapat terlihat besar. Yang sederhana dapat terlihat rumit. Yang benar dapat dianggap salah. Yang salah dapat dianggap benar.

Karena itu, salah satu awal Purnata Jiwana adalah ngupadi weninging cipta.

Cipta wening bukan berarti manusia tidak memiliki pendapat atau tidak boleh membuat penilaian. Sebaliknya, cipta wening membantu manusia membentuk pemahaman secara lebih cermat.

Ketika mendengar suatu berita, manusia tidak perlu langsung mempercayainya.

Ketika melihat kesalahan orang lain, manusia tidak perlu langsung menjatuhkan penilaian.

Ketika menerima pujian, manusia tidak perlu segera merasa lebih tinggi.

Ketika menerima celaan, manusia tidak perlu langsung membalas.

Wening membutuhkan ketenangan dan kesediaan untuk melihat kembali apa yang sedang dipikirkan.

Apa yang terlihat belum tentu seluruh kenyataan.

Apa yang terdengar belum tentu seluruh kebenaran.

Apa yang dirasakan belum tentu menggambarkan keadaan secara utuh.

Apa yang diinginkan juga belum tentu merupakan sesuatu yang baik.

Karena itu, cipta perlu terus diperiksa.

Salah satu tanda kejernihan cipta adalah kesediaan mengakui kemungkinan kesalahan diri sendiri.
“Aku bisa uga luput.”

Kesediaan tersebut membuka ruang untuk belajar. Sebaliknya, seseorang yang selalu menganggap dirinya benar akan sulit melihat kekurangan dalam pemahamannya sendiri.

Cipta wening akhirnya tidak berhenti sebagai pemikiran. Kejernihan cipta perlu terlihat dalam cara berbicara, mengambil keputusan, dan bertindak.

Cipta Wening menjadi pepadhang bagi pangerten dan lampah.

2. Tulusing Rasa.
Setelah mengupayakan kejernihan cipta, manusia perlu menata rasa.

Rasa merupakan bagian penting dalam kehidupan karena melalui rasa manusia mengalami berbagai keadaan: bahagia, sedih, kasih, welas, prihatin, senang, kecewa, dan berbagai pengalaman lainnya.

Namun rasa juga dapat menjadi keruh.

Rasa yang dipenuhi pamrih dapat mempengaruhi cara seseorang memandang orang lain.

Rasa iri dapat membuat keberhasilan orang lain terasa seperti kerugian bagi diri sendiri.

Rasa benci dapat membuat kesalahan terlihat lebih besar daripada kenyataannya.

Karena itu, rasa tidak cukup hanya dirasakan.

Rasa perlu ditata dan dijernihkan.

Tulusing Rasa adalah rasa yang semakin bersih dari pamrih yang merusak hubungan manusia dengan sesama dan kehidupan.

Ketulusan dapat terlihat dalam tindakan sederhana. Menghormati orang lain tanpa membeda-bedakan. Membantu tanpa selalu menunggu balasan. Berbuat baik tanpa membutuhkan pujian. Memaafkan tanpa merasa lebih tinggi. Mampu memahami tanpa merendahkan.

Tulusing Rasa juga tidak berarti manusia harus selalu lembut dan menyetujui segala sesuatu. Ketulusan dapat berjalan bersama ketegasan.

Ada keadaan ketika manusia perlu mengatakan sesuatu yang benar meskipun tidak menyenangkan. Namun ketegasan tersebut tidak didorong oleh kebencian atau keinginan untuk merusak.

Cipta dan rasa karena itu perlu berjalan bersama. Cipta memberikan kejernihan. Rasa memberikan kedalaman.

Cipta tanpa rasa dapat menjadi kaku. Rasa tanpa cipta dapat membuat manusia mudah terbawa oleh keadaan.

Tulusing Rasa juga mengajarkan manusia
untuk menghormati perbedaan.

Perbedaan pamawas tidak harus menjadi alasan untuk saling membenci.

Perbedaan watak tidak harus menjadi alasan untuk merendahkan.

Perbedaan jalan kehidupan tidak harus menjadi alasan untuk memusuhi.

Dengan demikian, Tulusing Rasa menjadi dhasaring kaselarasan.

3. Karsa Utama.
Cipta memberikan pemahaman. Rasa memberikan penghayatan. Namun keduanya belum lengkap apabila tidak diwujudkan dalam tindakan. Karena itu diperlukan Karsa Utama.

Karsa adalah daya yang mendorong manusia untuk memilih dan melakukan sesuatu. Karsa utama merupakan kehendak yang diarahkan kepada kebaikan, keselarasan, dan beciking panguripan.

Karsa utama bukan keinginan untuk selalu menang. Bukan pula keinginan untuk menjadi lebih tinggi daripada orang lain.

Karsa utama adalah kekuatan untuk memilih dan melakukan sesuatu yang baik meskipun tidak selalu memberikan keuntungan pribadi.

Ketika seseorang memilih berkata jujur meskipun dapat memperoleh keuntungan melalui kebohongan, di sana terdapat karsa yang utama.

Ketika seseorang memilih memaafkan meskipun memiliki kesempatan untuk membalas, di sana terdapat karsa yang utama.

Ketika seseorang membantu tanpa membutuhkan perhatian, di sana terdapat karsa yang utama.

Ketika seseorang berani mengakui kesalahannya sendiri daripada menyalahkan orang lain, di sana terdapat karsa yang utama.

Karsa utama tidak selalu hadir melalui tindakan besar.

Sering kali ia justru terlihat melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus.

Karena itu, karsa perlu dilatih.

Sebelum bertindak, manusia dapat bertanya:
Apakah ini benar?
Apakah ini baik?
Apakah ini bermanfaat bagi kehidupan?
Ataukah ini hanya untuk memenuhi keinginanku sendiri?

Pertanyaan tersebut membantu manusia menimbang apakah sebuah keinginan benar-benar layak diwujudkan.

Utamaning Karsa dadi dhasaring Laku.

4. Keselarasan Cipta, Rasa, dan Karsa.
Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama tidak dapat dipisahkan.

Ketiganya merupakan satu rangkaian. Cipta tanpa rasa dapat menjadi kering. Rasa tanpa cipta dapat kehilangan arah. Karsa tanpa cipta dan rasa dapat menimbulkan tindakan yang keliru.

Karena itu, Purnata Jiwana terletak pada keselarasan ketiganya. Cipta membantu manusia mengetahui. Rasa membantu manusia menghayati. Karsa membantu manusia melakukan.

Maka:
Mengetahui tanpa menghayati belum utuh.
Menghayati tanpa melakukan belum selesai.
Melakukan tanpa pemahaman dapat kehilangan arah.

Ketiganya perlu bertemu dalam laku kehidupan.

Ketika cipta menemukan kejernihan, rasa menerima dengan ketulusan, dan karsa mewujudkannya dalam tindakan yang baik, manusia mulai menemukan tatanan dalam kehidupannya.

Inilah salah satu inti Purnata Jiwana.

5. Purnata Jiwana sebagai Laku Hidup.
Purnata Jiwana bukan keadaan yang dicapai sekali lalu selesai.

Ia merupakan lampah hidup yang terus dijaga.
Setiap hari cipta dapat kembali menjadi keruh.
Setiap hari rasa dapat kembali dipengaruhi pamrih.
Setiap hari karsa dapat kembali terseret oleh kepentingan pribadi.

Karena itu, manusia perlu terus mawas terhadap dirinya sendiri.

Ketika cipta mulai kabur, kembali kepada wening.

Ketika rasa mulai dipenuhi kebencian, kembali kepada ketulusan.

Ketika karsa mulai dipenuhi pamrih, kembali kepada kautaman.

Tempat menjalankan Purnata Jiwana bukanlah tempat yang jauh dari kehidupan. Purnata Jiwana justru dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam keluarga. Dalam pekerjaan. Dalam hubungan dengan sesama. Ketika memperoleh pujian. Ketika menerima kritik. Ketika mendapatkan keberhasilan. Ketika mengalami kegagalan. Ketika menghadapi kesulitan. Semua keadaan tersebut dapat menjadi ruang untuk menguji cipta, rasa, dan karsa.

Karena itu, manusia tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk memulai lampah Purnata Jiwana.

Urip kang lagi kaasta saiki wis dadi papan kanggo ngupadi kautuhan.

6. Tanda-Tanda Purnata Jiwana.
Purnata Jiwana tidak cukup dibicarakan melalui kata-kata. Ia perlu terlihat dalam laku.
Cipta yang semakin wening membuat manusia tidak mudah tergesa-gesa. Rasa yang semakin tulus membuat manusia tidak mudah dikuasai iri dan kebencian. Karsa yang semakin utama membuat tindakan tidak hanya diarahkan kepada kepentingan diri sendiri.

Namun Purnata Jiwana tidak berarti manusia tidak pernah melakukan kesalahan.

Kesalahan masih mungkin terjadi.

Yang menjadi penting adalah kesediaan untuk melihat kesalahan tersebut, memahaminya, kemudian memperbaiki laku.

Karena itu:
Purnata Jiwana tidak membutuhkan manusia yang tanpa kesalahan. Purnata Jiwana membutuhkan manusia yang bersedia untuk terus membenahi diri.

Kesalahan dapat menjadi pepeling.
Kesulitan dapat menjadi panggulawenthah.
Perjumpaan dapat menjadi piwulang.
Setiap hari dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri.

7. Purnata Jiwana dan Kawruh Sejati.
Purnata Jiwana memiliki hubungan dengan Kawruh Sejati, tetapi keduanya tidak dipersamakan.

Dalam kerangka ini, Kawruh Sejati merupakan pepadhang kawruh, sedangkan Purnata Jiwana merupakan keadaan hidup yang tumbuh melalui laku yang tertata.

Kawruh tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan. Pemahaman perlu hadir dalam kehidupan.

Ketika pemahaman menjadi laku, laku membentuk watak, dan watak tercermin dalam tindakan, maka kawruh tidak lagi hanya berada dalam pengertian.

Dari sini dapat dipahami hubungan keduanya, yaitu Kawruh Sejati memberi pepadhang.
Purnata Jiwana menunjukkan bagaimana kehidupan ditata dalam laku.

Karena itu, Purnata Jiwana dan Kawruh Sejati memiliki hubungan dalam kerangka pemikiran Uttamopadesa, tetapi keduanya tetap memiliki kedudukan dan pengertian masing-masing.

8. Tri Dhasar Purnata Jiwana.
Purnata Jiwana dapat diringkas dalam tiga dhasar utama.

Cipta Wening
Cipta yang jernih, tidak tergesa-gesa, dan bersedia melihat kenyataan dengan lebih cermat.

Paugeran:
Weninging Cipta dadi Pepadhanging Pangerten.

Tulusing Rasa
Rasa yang semakin bersih dari pamrih yang merusak, mampu menghormati, menerima, dan membangun keselarasan.

Paugeran:
Tulusing Rasa dadi Dhasaring Kaselarasan.

Karsa Utama
Karsa yang diarahkan kepada kebaikan dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Paugeran:
Utamaning Karsa dadi Dhasaring Laku.

Ketiganya merupakan satu kesatuan yang membentuk dasar Purnata Jiwana.

9. Kembali kepada kesatuan.
Pada akhirnya, Purnata Jiwana dapat dimengerti sebagai kembali kepada kesatuan.

Dalam kehidupan, cipta, rasa, dan karsa dapat berjalan sendiri-sendiri.

Cipta menghendaki sesuatu. Rasa merasakan sesuatu yang lain. Karsa kemudian melakukan sesuatu yang berbeda.

Ketidakselarasan tersebut dapat membuat kehidupan menjadi penuh pertentangan. Sebaliknya, ketika cipta, rasa, dan karsa mulai berjalan dalam satu tatanan, kehidupan menjadi lebih utuh.

Cipta Wening memahami apa yang perlu dipahami.

Tulusing Rasa menghayati apa yang perlu dihayati.

Karsa Utama melakukan apa yang perlu dilakukan.

Di sinilah manusia mulai mengalami keutuhan antara memahami, menghayati, dan melakukan. Kesatuan utuh itulah yang disebut Purnata Jiwana.

Penutup.
Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.

Wedharan ini menguraikan tatanan menuju kesempurnaan hidup melalui tiga dasar utama: Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama.

Kesempurnaan hidup tidak diukur dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, luasnya pengetahuan, ataupun panjangnya usia.

Kesempurnaan hidup dilihat dari bagaimana manusia menata dirinya dalam menjalani kehidupan.

Cipta Wening menjadi pepadhang bagi pangerten.

Tulusing Rasa menjadi dhasaring kaselarasan.

Karsa Utama menjadi dhasaring laku.

Ketiganya tidak boleh dipisahkan.

Purnata Jiwana merupakan lampah untuk mengupayakan kesatuan utuh dalam kehidupan.

Setiap hari menjadi kesempatan untuk membersihkan cipta. Setiap perjumpaan menjadi kesempatan untuk menata rasa. Setiap tindakan menjadi kesempatan untuk melatih karsa.

Tidak perlu menunggu kehidupan tanpa persoalan. Tidak perlu menunggu keadaan menjadi sempurna.

Purnata Jiwana dimulai dari cara manusia menghadapi kehidupan yang sedang dijalaninya.

Jika cipta wening, pemahaman menjadi lebih jernih. Jika rasa tulus, hubungan menjadi lebih selaras. Jika karsa utama, tindakan menjadi lebih bermanfaat.

Dari sana tumbuh keselarasan. Dari keselarasan tumbuh keutuhan. Dari keutuhan itulah Purnata Jiwana menemukan maknanya.

Maka inti lampah Purnata Jiwana dapat diringkas dalam empat laku:

Ngupadi Weninging Cipta. Ngupadi Tulusing Rasa. Ngupadi Utamaning Karsa. Ngupadi Beciking Laku.

Lampah tersebut tidak selesai hanya karena manusia telah memahami pengertiannya.

Pangerten kudu dadi laku. Laku kudu dadi watak. Watak kudu katon ing kaananing urip.

Demikian arah Purnata Jiwana Uttamopadesa sebagai bagian dari kerangka Kawruh Uttamopadesa yang disusun oleh Dhimas Purnomo, untuk mengupayakan kehidupan yang semakin wening dalam cipta, tulus dalam rasa, utama dalam karsa, dan utuh dalam laku.

FAQ Purnata Jiwana Uttamopadesa

1. Apa itu Purnata Jiwana Uttamopadesa?
Purnata Jiwana Uttamopadesa adalah wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, yang membahas tatanan menuju keutuhan dan keselarasan hidup melalui cipta, rasa, dan karsa.

2. Apa tiga dasar utama Purnata Jiwana?
Tiga dasar utamanya adalah Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama. Cipta memberikan kejernihan, rasa memberikan kedalaman penghayatan, sedangkan karsa mewujudkannya dalam tindakan.

3. Apakah Purnata Jiwana berarti manusia tidak boleh melakukan kesalahan?
Tidak. Purnata Jiwana tidak berarti manusia harus menjadi pribadi tanpa kesalahan. Yang ditekankan adalah kesediaan untuk melihat kesalahan, belajar darinya, dan terus membenahi diri.

4. Apa hubungan Purnata Jiwana dengan Kawruh Uttamopadesa?
Purnata Jiwana merupakan salah satu wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa. Pembahasannya menguraikan keselarasan cipta, rasa, dan karsa sebagai tatanan menuju keutuhan kehidupan.

5. Apa hubungan Purnata Jiwana dengan Kawruh Sejati?
Purnata Jiwana dan Kawruh Sejati memiliki hubungan, tetapi tidak dipersamakan. Dalam kerangka ini, Kawruh Sejati merupakan pepadhang kawruh, sedangkan Purnata Jiwana merupakan keadaan kehidupan yang tumbuh melalui laku yang tertata.

6. Di mana Purnata Jiwana dijalankan?
Purnata Jiwana dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, melalui cara manusia memahami, merasakan, memilih, dan bertindak dalam keluarga, pekerjaan, hubungan dengan sesama, serta ketika menghadapi berbagai keadaan kehidupan.

7. Apa inti Purnata Jiwana?
Intinya adalah keselarasan antara Cipta Wening, Tulusing Rasa, dan Karsa Utama yang diwujudkan dalam laku sehingga kehidupan semakin menemukan kautuhan.

**Baca atau download

Komentar