MENGANDALKAN KASIH SANG SUMBER

mengandalkan kasih sang sumber
“Kasunyataning Laku katon lumantar Ngendelake Asihing Sang Sumber Panguripan.”

Prinsip kesembilan merupakan bagian penutup dari Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa.

Setelah manusia belajar tidak menggantungkan ketenteraman kepada keadaan luar, membenahi cipta, rasa, dan karsa, menjadikannya laku, mengembangkan asih kepada sesama, hidup prasaja, menjaga keselarasan, tidak mengandalkan nalar kumingsun, serta ngrumangsani wewatesaning panguripan janma, akhirnya manusia diarahkan kepada satu kesadaran yang lebih mendalam: mengandalkan Asihing Sang Sumber Panguripan.

Prinsip ini memberikan dasar yang melampaui kepentingan pribadi.

Sang Sumber Panguripan.
Manusia menjalani kehidupan, tetapi manusia bukan pencipta tunggal kehidupan itu sendiri.

Ia menerima kehidupan sebelum mampu memilih.

Ia menerima tubuh, waktu, alam, hubungan dengan sesama, dan berbagai keadaan yang memungkinkan dirinya hidup.

Kesadaran terhadap adanya Sang Sumber Panguripan menempatkan manusia dalam hubungan yang lebih rendah hati dengan kehidupan.

Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu.

Apa arti ngendelake asih?
Ngendelake asih bukan berarti manusia berhenti berusaha dan hanya menunggu pertolongan.

Justru manusia tetap menjalankan laku.
Yang berubah adalah dasar batinnya.

Manusia tidak merasa bahwa seluruh kehidupan hanya bergantung pada kemampuan dirinya sendiri. Ia menjalani usaha dengan kesadaran bahwa kehidupan memiliki sumber yang lebih besar daripada dirinya.

Asihing Sang Sumber Panguripan menjadi tempat batin bersandar.

Hubungan dengan prinsip pertama.
Prinsip pertama mengatakan:
“Aja ngendelake tentreming batin marang kahanan ing jaba.”

Sekilas prinsip pertama dan kesembilan tampak bertentangan.

Prinsip pertama mengatakan jangan menggantungkan ketenteraman kepada keadaan luar.

Prinsip kesembilan mengatakan mengandalkan Asihing Sang Sumber Panguripan.

Namun keduanya sebenarnya saling melengkapi.

Yang pertama menolak ketergantungan kepada kahanan ing jaba.

Yang kesembilan mengarahkan ketergantungan batin kepada Sang Sumber Panguripan.

Dengan demikian manusia tidak menjadikan keadaan dunia sebagai satu-satunya dasar ketenteramannya, tetapi juga tidak menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat segala sesuatu.

Asih sebagai dasar kehidupan.
Asihing Sang Sumber Panguripan juga memberi kedalaman kepada asih mring sesami.

Prinsip keempat mengajarkan:
“Kasunyataning Laku katon lumantar Asih mring Sesami.”

Jika manusia menyadari bahwa kehidupan memiliki satu sumber, maka sesama tidak hanya dilihat berdasarkan manfaatnya bagi diri sendiri.

Sesama merupakan bagian dari panguripan.
Karena itu asih kepada sesama tidak semata-mata didasarkan pada apakah orang tersebut menyenangkan atau menguntungkan.

Ketenteraman dan rasa percaya.
Ngendelake Asihing Sang Sumber Panguripan juga mengandung rasa percaya terhadap perjalanan kehidupan.

Bukan berarti semua yang terjadi pasti sesuai dengan keinginan manusia. Kehidupan tetap memiliki kehilangan, perubahan, dan ketidakpastian. Namun manusia tidak harus menghadapi semua itu dengan perasaan bahwa dirinya berdiri sendirian melawan seluruh kehidupan.

Ada kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari panguripan yang lebih luas.
Kesadaran tersebut dapat memberikan ketenteraman.

Hubungan dengan wewatesaning janma.
Prinsip kedelapan mengajarkan manusia ngrumangsani wewatesaning panguripan janma.

Prinsip kesembilan menjadi kelanjutannya.
Ketika manusia menyadari bahwa dirinya terbatas, ia mulai memahami bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh dirinya.

Dari sini lahir kerendahan hati.

Manusia tetap berusaha, tetapi tidak lagi
menjadikan keberhasilan sebagai bukti bahwa dirinya mampu menguasai kehidupan.

Ia juga tidak menjadikan kegagalan sebagai bukti bahwa kehidupan telah meninggalkannya.

Asihing Sang Sumber Panguripan sebagai puncak.
Sebagai prinsip kesembilan, ngendelake Asihing Sang Sumber Panguripan dapat dipahami sebagai puncak dari perjalanan Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa.

Ketenteraman yang mula-mula dicari di luar diri perlahan dipindahkan ke dalam proses pembenahan diri.
Cipta dijernihkan.
Rasa dituluskan.
Karsa diluhurkan.
Laku diwujudkan.
Asih dikembangkan.
Prasaja dijalani.
Keselarasan dijaga.
Nalar kumingsun dilepaskan.
Wewatesaning panguripan dirumangsani.

Pada akhirnya manusia menyadari bahwa seluruh perjalanan tersebut tidak membuat dirinya menjadi pusat kehidupan, melainkan semakin menyadarkan dirinya sebagai bagian dari kehidupan.

Penutup.
Prinsip kesembilan menutup Nawa Prasanti Batin Uttamopadesa dengan kesadaran mengenai Sang Sumber Panguripan.

Manusia tetap perlu berusaha, berpikir, memilih, dan bertindak. Namun semua itu dilakukan dengan kerendahan hati karena kehidupan memiliki sumber yang melampaui dirinya.

Ngendelake Asihing Sang Sumber Panguripan bukan pelarian dari kehidupan. Justru ia menjadi dasar untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenteram, rendah hati, penuh asih, dan selaras.

Dengan demikian, Nawa Prasanti Batin bergerak dari pembenahan diri menuju kesadaran yang lebih luas: ketenteraman tumbuh dalam diri, diwujudkan melalui laku, dan akhirnya membawa manusia semakin selaras dengan Sang Sumber Panguripan.

FAQ Mengandalkan Kasih Sang Sumber.
Apa arti ngendelake Asihing Sang Sumber Panguripan?
Artinya menempatkan Asihing Sang Sumber Panguripan sebagai dasar batin dalam menjalani kehidupan.

Apakah prinsip ini berarti manusia tidak perlu berusaha?
Tidak. Manusia tetap harus berpikir, memilih, dan bertindak. Mengandalkan asih bukan berarti berhenti berusaha.

Apa hubungan prinsip kesembilan dengan prinsip pertama?
Prinsip pertama mengajarkan agar tidak menggantungkan ketenteraman pada keadaan luar, sedangkan prinsip kesembilan mengarahkan sandaran batin kepada Sang Sumber Panguripan.

Apa hubungan Asihing Sang Sumber Panguripan dengan asih kepada sesama?
Kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan memberi dasar yang lebih luas bagi manusia untuk mengembangkan asih kepada sesama.

Mengapa prinsip ini menjadi prinsip kesembilan?
Karena ia menjadi penutup perjalanan yang membawa manusia dari pembenahan diri menuju kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari panguripan dan bersandar kepada Sang Sumber Panguripan.

Komentar