Kasunyataning Laku Terlihat Melalui Tidak Mengandalkan Nalar Kumingsun
Prinsip ketujuh Nawa Prasanti Batin menyentuh salah satu sumber kegelisahan manusia yang sering tidak disadari, yaitu kecenderungan menjadikan nalar sebagai alat untuk membenarkan diri sendiri.
Nalar merupakan kemampuan penting manusia. Dengan nalar, manusia dapat membedakan, menimbang, memahami, dan mengambil keputusan. Namun nalar dapat kehilangan keluhurannya ketika disertai kumingsun, yaitu rasa tinggi diri yang membuat seseorang merasa dirinya paling benar atau paling mengetahui.
Karena itu prinsip ini tidak mengajarkan manusia meninggalkan nalar. Yang diajarkan adalah nora ngendelake nalar kumingsun atau tidak mengandalkan nalar kumingsun.
Nalar tetap diperlukan dalam hidup.
Uttamopadesa tidak menempatkan manusia sebagai makhluk yang harus meninggalkan pikiran.
Kawruh membutuhkan kemampuan memahami. Kehidupan membutuhkan pertimbangan. Tindakan membutuhkan keputusan.
Karena itu nalar tetap memiliki tempat penting.
Persoalannya bukan pada penggunaan nalar, tetapi pada sikap batin yang menyertainya.
Nalar dapat digunakan untuk mencari kasunyatan, tetapi juga dapat digunakan untuk mempertahankan ego.
Ketika nalar menjadi alat pembenaran.
Manusia memiliki kecenderungan mencari alasan yang mendukung pendapatnya sendiri.
Ketika telah menyukai suatu pendapat, ia mencari informasi yang menguatkannya dan mengabaikan hal-hal yang bertentangan.
Ketika melakukan kesalahan, ia mencari alasan agar kesalahan tersebut tampak benar.
Ketika berdebat, ia lebih ingin menang daripada memahami.
Inilah salah satu bentuk nalar kumingsun.
Masalahnya bukan hanya hubungan dengan orang lain.
Nalar kumingsun juga membuat manusia sulit berkembang karena ia tidak lagi terbuka terhadap pembelajaran.
Kerendahan hati dalam berpikir.
Nora ngendelake nalar kumingsun berarti menggunakan nalar dengan kerendahan hati.
Manusia dapat memiliki keyakinan kuat tetapi tetap mengakui bahwa pengetahuannya memiliki batas.
Ia dapat mengatakan:
“Saya belum mengetahui.”
“Saya mungkin keliru.”
“Saya perlu mendengar penjelasan lain.”
Sikap semacam itu bukan kelemahan. Justru menunjukkan bahwa nalar masih digunakan untuk mencari kasunyatan, bukan untuk mempertahankan harga diri.
Hubungan dengan weninging cipta.
Prinsip ketujuh memiliki hubungan erat dengan prinsip kedua mengenai weninging cipta.
Cipta sulit menjadi wening apabila terus dikuasai kebutuhan untuk selalu benar.
Weninging cipta membutuhkan keterbukaan.
Manusia perlu membedakan antara
kenyataan dan pendapatnya sendiri.
Ia perlu menyadari bahwa pemahamannya dapat berkembang.
Karena itu nora ngendelake nalar kumingsun merupakan salah satu bentuk nyata dari weninging cipta.
Dalam hal perbedaan pendapat.
Kualitas prinsip ini paling mudah diuji ketika terjadi perbedaan. Jika seseorang dapat berdiskusi tanpa menghina, mendengarkan tanpa merasa direndahkan, dan mengubah pendapat ketika menemukan alasan yang lebih kuat, berarti nalarnya mulai digunakan secara lebih luhur.
Sebaliknya, apabila setiap perbedaan dianggap sebagai serangan terhadap dirinya, nalar telah bercampur dengan kumingsun.
Ketenteraman sulit tumbuh dalam keadaan seperti itu.
Nalar dan kawruh sejati.
Kawruh Sejati tidak seharusnya menjadi alat untuk membesarkan diri. Semakin seseorang merasa memiliki pengetahuan, seharusnya semakin ia menyadari luasnya kehidupan yang belum diketahui.
Pengetahuan yang membuat manusia semakin sombong menunjukkan bahwa pengetahuan tersebut belum sepenuhnya menjadi laku.
Karena itu nalar perlu ditempatkan sebagai sarana untuk memahami, bukan sebagai alat untuk meninggikan diri.
Penutup.
Nora ngendelake nalar kumingsun merupakan ajaran mengenai kerendahan hati dalam berpikir.
Manusia tetap menggunakan nalar, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk merasa paling benar.
Dengan cara tersebut, cipta menjadi lebih wening, hubungan dengan sesama menjadi lebih terbuka, dan ketenteraman batin memiliki ruang untuk tumbuh.
FAQ Tidak Mengandalkan Nalar Kumingsun.
Apa arti nalar kumingsun?
Nalar kumingsun adalah penggunaan nalar yang disertai rasa tinggi diri atau kecenderungan merasa paling benar.
Apakah Nawa Prasanti Batin menolak nalar?
Tidak. Nalar tetap penting, tetapi harus digunakan tanpa kesombongan.
Mengapa nalar kumingsun mengganggu ketenteraman?
Karena membuat manusia sulit menerima perbedaan, kritik, dan kemungkinan bahwa dirinya dapat keliru.
Apa hubungan prinsip ini dengan weninging cipta?
Kerendahan hati dalam berpikir membantu cipta menjadi lebih jernih dan terbuka.
Bagaimana melatih nora ngendelake nalar kumingsun?
Dengan berani mengakui keterbatasan pengetahuan, mendengarkan orang lain, dan bersedia memperbaiki pemahaman ketika menemukan kenyataan yang lebih tepat.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang sopan demi perkembangan websiteblog ini